ANTISIPASI PERUBAHAN IKLIM, KEMENTAN SIAPKAN LANGKA MITIGASI GRK DI KAMPUNG CABAI RAMAH LINGKUNGAN
157 Pembaca

14-03-2022



Permasalahan dunia dan lingkungan kini menjadi instrumen paling penting bagi pembangunan berkelanjutan. Merujuk pada Indonesia sebagai bagian dari warga dunia, kini mulai mengubah arah ekonominya menjadi ekonomi hijau.

 

Dilain sisi, kebijakan Pemerintah yang kini lebih berorientasi menuju ekonomi hijau tidak terlepas dari terpilihnya Indonesia sebagai Presidensi G20. Itulah sebabnya Presiden Jokowi memfokuskan mitigasi dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian di Tanah Air.

 

Presiden Jokowi juga secara khusus telah mengintruksikan kepada Menteri Pertanian untuk mendorong produktivitas pertanian agar melampaui target nasional dan mengembangkan industri pertanian yang lebih maju dan berdaya saing.

 

Dalam berbagai pertemuan, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyampaikan kepada seluruh jajarannya, agar serius menghadapi tantangan perubahan iklim. Menurut eks. Gubernur Sulawesi Selatan 2 priode itu, Dampak Perubahan Iklim (DPI) akan mengakibatkan penurunan produtivitas, sehingga mempengaruhi kebutuhan bahan pangan 273 juta penduduk Indonesia. “Rekan-rekan media, perlu saya tekankan bahwa saat ini kita membutuhkan langkah adaptasi dan mitigasi yang tepat untuk mengamankan Produksi pangan dalam negeri, kita akan melakukan segala cara untuk mengantisipasi terjadinya serangan hama, penyakit tanaman, dan perubahan iklim yang tidak menentu”, tandasnya.

 

Senada dengan Mentan SYL, Dirjen Hortikultura, Prihasto Setyanto tak menampik jika Global Warming sudah menjadi isu internasional bagi sektor pertanian. Doktor Pertanian Universitas Putra Malaysia itu juga membeberkan efek Dampak Perubahan Iklim bagi Sub Sektor Hortikultura yang dapat menjadi ancaman sekaligus bisa menjadi peluang dalam pengembangan hortikultura. “Saat ini, kami telah melakukan langkah konkret dengan melakukan pengukuran Gas Rumah Kaca (GRK) pada komoditas strategis Hortikultura seperti cabai dan bawang merah. Para Fungsional POPT telah kami terjunkan ke lapangan”, terang Anton sapaan akrabnya.

 

Anton yang merupakan pakar lingkungan dan agroklimat ini juga memaparkan bahwa tahun ini (2022.red) Direktorat Jenderal Hortikultura akan menganalisa perbandingan budidaya ramah lingkungan dan budidaya konvensional di kampung sayuran. “ nanti kita akan lihat, budidaya mana yang akan memberikan kontribusi yang besar dalam penurunan GRK,” paparnya.

 

Dilokasi berbeda, Plh. Direktur Perlindungan Hortikultura, Inti Pertiwi Nashwari menuturkan bahwa Direktorat Perlindungan Hortikultura akan melakukan pengukuran Gas Rumah Kaca di Kampung Bawang Merah, tepatnya di Kecamatan Mijen Demak-Jateng dan kampung cabai di Kecamatan Tempel Sleman-Yogyakarta. “Kami sudah berkoordinasi dengan Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) Pati untuk pelaksanaan Pengukuran GRK ini,” tuturnya.

 

Kordinator Dampak Perubahan Iklim dan Bencana Alam, Direktorat Perlindungan Hortikultura, Muh. Agung Sunusi saat di konfirmasi di lapangan menjelaskan bahwa pengukuran konsentrasi GRK pada tanaman bawang merah dan cabai fokus pada pengukuran CO2 dan N2O. Pengambilan sampel di lapangan dimulai dari pengolahan tanah, pertumbuhan vegetatif sampai masa generatif (panen).


“pengukuran GRK untuk komoditas bawang merah dilakukan 5 kali yaitu pada umur 0 Hari Setelah Tanam (HST), 15 HST, 30 HST, 45 HST dan 60 HST. Sedangkan untuk komoditas cabai pengukuran dilakukan pada Umur 0 HST, 15 HST, 30 HST, 45 HST, 60 HST, 75 HST dan 90 HST. Untuk cabai pengukuran lebih banyak karena mulai panen pada umur 3 bulan (90 HST). Berdasarkan pantauan di lapangan pengukuran dan pengambilan sampel mulai di lakukan pada minggu ke 3 Maret,” Ungkap Agung.

 

Cabai Ramah Lingkungan Siap mengamankan Pasokan Lebaran

 

Berdasarkan hasil kunjungan dan pantauan lapangan, Kab Sleman untuk 3 bulan Ke depan siap mengamankan ketersediaan aneka cabai di DI. Yogyakarta dan Jabodetabek.

 

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa juga menjelaskan bahwa luas panen Maret- Mei untuk komoditas Cabai merah seluas 73 ha yang tersebar di Kecamatan Turi, Pakem, Tempel, Sleman, Ngeplak, Prambanan dan Kalasan) sedangkan untuk komoditas Cabai rawit merah, luas panen Maret-Mei sekitar 62 Ha yang tersebar di Kecamatan Pakem, Turi, Sleman, Ngeplak dan Prambanan.

 

Secara gamblang, Danang mengakui bahwa data ketersediaan aneka cabai di Sleman dipastikan aman dan diharapkan bisa memasok Jabodetabek. “Alhamdulillah mas, Saat ini kondisi harga membaik dan menguntungkan petani, sehingga kelompok tani dan Gapoktan bersemangat untuk menambah luas tambah tanam. Pantauan harga dipasar Lelang Pakem untuk cabai merah keriting Rp. 35 ribu dan cabai rawit merah Rp. 49 ribu”, pungkas Danang.

 

Ketua kelompok tani Sido Arum, Desa Wonokerto Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Juniantoro memperkirakan luas panen bulan maret sampai mei di wilayah binaannya sekitar 10 ha, didominasi cabai rawit merah. “Kelompok binaan kami semakin tertarik dengan budidaya ramah lingkungan, hal ini terlihat dari semangat para anggota kelompok dalam memanfaatkan pestisida nabati, PGPR dan Trichoderma sera penanaman refugia. Keliatan produksinya bersih, daging buah tebal dan mengkilap sehingga daya simpan nya lebih awet,” ungkapnya.

 

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Gapoktan Sido Lestari, Desa Lumbung Reja, Kec Tempel. Luas panen maret - mei seluas 7 Ha dengan Kondisi pertanaman ada serangan Fusarium, Thrips dan Virus Gemini, namun semuanya dapat teratasi. ‘’Alhamdulillah kami bersama tim Regu Pengendali Ramah Lingkungan kompak dan sigap dalam menyelesaikan permasalahan ini. Anggota kelompok dalam berbudidaya telah menggunakan PGPR, Tricoderma, Pupuk Organik Cair, Rebusan Empon Empon dan penanaman refugia di sekitar tanaman cabai. Saat ini sudah masuk ke petikan 3 dan anggota lainnya petikan ke 5. Permasalahan yang kami alami adalah minimnya sarana fasilitasi klinik tanaman, dimana saat ini pembelian bahan pestisida nabati swadaya dari kelompok. Harapan kami Ditjen Hortikultura bisa memfasilitasi klinik tanaman tahun ini”, Tutupnya.


Admin: R. Setiawan