APLIKASI PESTISIDA SINTETIK PADA TANAMAN MELATI
747 Pembaca

01-02-2020



Melati merupakan tanaman florikultura berupa perdu berbatang tegak yang hidup menahun. Di Indonesia, salah satu jenis melati dijadikan sebagai simbol nasional yaitu melati putih (Jasminum sambac) karena bunganya dikaitkan dengan berbagai tradisi dari banyak suku di negara ini. Jenis lain yang juga populer adalah gambir (Jasminum. officinale).
Di Indonesia nama melati dikenal oleh masyarakat di seluruh wilayah Nusantara. Di Italia, Bunga Melati Casablanca (Jasminum Officinalle), yang disebut juga Spanish Jasmine ditanam tahun 1692 untuk dijadikan parfum. Tahun 1665 di Inggris dibudidayakan melati putih (Jasminum sambac) yang diperkenalkan oleh Duke Casimo de Medici. Dalam tahun 1919 ditemukan melati Jasminum  parker di kawasan India Barat Laut, Kemudian dibudidayakan di Inggris pada tahun 1923.
Secara umum, bunga melati bermanfaat sebagai bunga tabur, bahan industri minyak wangi, kosmetika, parfum, farmasi, penghias rangkaian bunga dan bahan campuran atau pengharum teh. Selain wangi bunganya yang menggoda, melati juga memiliki khasiat untuk membantu menyembuhkan penyakit. Bunga melati untuk jenis Jasminum sambac dapat berkhasiat membantu menyembuhkan sesak nafas, sakit kepala, sakit mata, demam, bengkak karena sengatan lebah dan bahkan dapat juga membantu mengontrol ASI yang sering kali keluar secara berlebihan. Di Indonesia tanaman melati diusahakan di sentra – sentra tanaman melati, di Kabupaten Pekalongan, Pemalang, Tegal dan Batang di Provinsi Jawa Tengah serta Kabupaten Bangkalan di Provinsi Jawa Timur. Di daerah sentra tersebut melati tumbuh dengan baik di dataran rendah sampai dataran menengah (0 – 700 m dpl).
Petani di daerah sentra  menjual hasil pucuk melati kepada perusahaan  produsen minuman teh sebagai bahan campuran teh, sebagian dijual dalam bentuk rangkaian untuk dekorasi acara dan untuk orientasi ekspor (Negara tujuan Singapura, Malaysia dan India). Pihak perusahaan teh hanya melihat visualisasi (tampilan) pucuk melati, tanpa memperdulikan asal usul budidaya melati tersebut. Pada faktanya, hasil pucuk melati yang didapatkan dari tanaman melati dengan aplikasi pestisida intensif akan terlihat lebih bagus dibandingkan melati yang diaplikasikan pengendalian hayati.
Usahatani melati tidak lepas dari permasalahan (Organisme Pengganggu Tanaman) OPT, kerugian yang diakibatkan oleh OPT pada tanaman melati menyebabkan kehilangan hasil secara kuantitas dan berkurangnya kualitas dari bagian tanaman melati (bunga, daun dan batang). Pada Tabel 1 ditampilkan daftar OPT yang menyerang  tanaman melati beserta bagian tanaman yang diserang.


Tabel 1. DAFTAR OPT TANAMAN MELATI DAN BAGIAN TANAMAN YANG DISERANG

901111-12_01022020_1580553637_tab_melati

Munculnya tuntutan masyarakat dunia akan kelestarian lingkungan perlu menjadi perhatian, karena dapat menghalangi ekspor tanaman florikultura ke manca negara. Salah satu cara pengendalian OPT yang memenuhi tuntutan tersebut adalah dengan menggunakan biopestisida, baik berupa bahan nabati maupun agens hayati. Penggunaan biopestisida dalam usahatani florikultura belum banyak mendapat perhatian karena petani masih bergantung pada pestisida sintetis. Hal tersebut berkaitan dengan besarnya tuntutan konsumen akan kualitas tanaman florikultura dibandingkan dengan komoditas hortikultura lainnya. Selain penampilan bunga dan atau daun harus menarik, secara keseluruhan tanaman harus berkualitas prima. Bila kualitas tidak sesuai dengan keinginan konsumen (pasar) maka harga jual tanaman akan turun atau bahkan ditolak pasar.

901111-12_01022020_1580553605_gamb_mel_3

901111-12_01022020_1580553602_gamb_mel_2

901111-12_01022020_1580553599_gamb_mel_1

Untuk mengetahui banyaknya residu pestisida yang terkandung dalam pucuk melati yang akan dijual ke perusahaan produsen minuman teh, Direktorat Perlindungan Hortikultura melakukan pengambilan sampel melati di Kabupaten Pemalang dan Tegal pada tahun 2011 yang disajikan pada Tabel 2. Sebagai informasi berdasarkan data dan keterangan yang diperoleh dari Petugas LPHP Pemalang dan hasil wawancara dengan petani di lapangan bahwa dalam usahataninya petani menggunakan insektisida sintetik berbahan aktif Imidakloprid dan Lamda Sihalotrin.

901111-12_01022020_1580553640_tab-2

Hasil uji menunjukan bahwa sampel pucuk melati yang diambil di Kabupaten Tegal dan Pemalang sama – sama mengandung residu pestisida dari golongan Imidakloprid dan Lamda Sihalotrin. Imidakloprid adalah insektisida kontak dan perut sistemik yang merupakan racun saraf serangga dan termasuk kelas bahan kimia neonicotinoids yang bekerja pada sistem saraf pusat serangga dengan toksisitas lebih rendah untuk mamalia.  Imidakloprid mengikat jauh lebih kuat pada reseptor neuron serangga dibandingkan mamalia, sehingga selektif lebih beracun bagi serangga dari mamalia. Berdasarkan data dari WHO (2005) Imidakloprid termasuk kategori Hazard Level Insektisida beracun  medium (moderately toxic).
Rute utama disipasi imidakloprid di lingkungan adalah fotolisis air (waktu paruh = 1-4 jam) dan serapan tanaman.  Produk akhir fotodegradasi adalah asam chloronicotinic (CNA) dan kemudian akhirnya karbon dioksida.  Imidakloprid rusak cepat di dalam air di hadapan cahaya (waktu paruh = 1 - 4 jam) tetapi terus-menerus dalam air dengan tidak adanya cahaya.  Imidakloprid memiliki potensi untuk bertahan dalam tanah dalam waktu lama.
Berdasarkan data dari WHO (2005) Lamda Sihalotrin termasuk kategori Insektisida beracun  medium (moderately toxic) dari golongan Pyrethroid dan menurut kategori ILO (2005) tergolong sebagai Insektisida yang bersifat Suspected Endocrin Disruptor (SE). Pestisida sintetik dari golongan Organoposfat, Karbamat dan Pyrethroid  lebih cepat didetoksifikasi oleh tubuh mamalia (Fishel, 2005). Lambda sihalotrin merupakan pestisida golongan piretroid yang memiliki aktivitas membunuh serangga, namun di samping manfaat tersebut lambda sihalotrin dapat memberikan efek negatif terhadap lingkungan, petani dan konsumen sehingga diperlukan upaya untuk mencapai keseimbangan antara manfaat aplikasi pestisida dan keamanan konsumsi produk pertanian.
Pada sampel dari Kec. Ululjami Kab. Pemalang, Kec. Sidohadi Kab. Tegal dan Kec. Kramat Kab. Tegal terdeteksi residu pestisida dari bahan aktif Imidakloprid yang masih berada di bawah ambang Batas Maksimum Residu (BMR) 0,011 mg/kg. Pada sampel dari Kec. Ululjami, Kab. Pemalang terdeteksi residu pestisida dari bahan aktif Lamda Sihalotrin sebanyak 0,004 mg/kg dari sampel 1 kg bunga melati, sedangkan Imidakloprid masih berada di bawah BMR.
Kandungan residu pestisida sintetik pada sampel pucuk melati tersebut mengindikasikan bahwa bunga melati yang digunakan dalam proses pembuatan minuman teh masih mengandung bahan “racun” yang kurang baik bagi kesehatan manusia bila dikonsumsi dalam jangka panjang. Selain itu bila bunga melati ditujukan untuk ekspor akan terancam oleh hambatan Non Tarif Barrier dan Peraturan Sanitary and Phytosanitary (SPS) karena kandungan residu minimal yang dipersyaratkan. Selain itu residu yang masih berada di lingkungan akan ikut pula mencemari tanah, lingkungan, air, ikan dan hewan ternak di sekitar pertanaman.
Pestisida sebagai bahan beracun, termasuk bahan pencemar yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Pencemaran dapat terjadi karena pestisida menyebar melalui angin, aliran air dan terbawa melalui tubuh organisme yang dikenainya. Residu pestisida sintesis sangat sulit terurai secara alami, bahkan untuk beberapa jenis pestisida residunya dapat bertahan hingga puluhan tahun. Residu pestisida hampir ditemukan di setiap tempat lingkungan sekitar kita, kondisi ini secara tidak langsung dapat menyebabkan pengaruh negatif terhadap organisma bukan sasaran. Oleh karena sifatnya yang beracun serta relatif persisten di lingkungan, maka residu yang ditinggalkan pada lingkungan dapat menjadi permasalahan serius.
Residu pestisida dapat ditemukan dalam tanah, air minum, air sungai, air sumur, maupun di udara dan yang paling berbahaya racun pestisida kemungkinan terdapat dalam makanan yang kita konsumsi sehari-hari, seperti sayuran dan buah-buahan. Secara tidak sengaja, pestisida dapat meracuni manusia atau hewan ternak melalui mulut, kulit, dan pernafasan. Sering tanpa disadari bahan kimia beracun tersebut masuk ke dalam tubuh seseorang tanpa menimbulkan rasa sakit yang mendadak dan mengakibatkan keracunan kronis. Seseorang yang menderita keracunan kronis, dapat diketahui setelah selang waktu yang lama, selama beberapa bulan bahkan tahunan. Keracunan kronis akibat pestisida saat ini paling ditakuti, karena efek racun dapat bersifat Karsinogenic (pembentukan jaringan kanker pada tubuh), Mutagenic (kerusakan genetik untuk generasi yang akan datang), dan Teratogenic (kelahiran anak cacat dari ibu yang keracunan).
Penggunaan pestisida merupakan teknik pengendalian OPT yang paling banyak dilakukan petani Indonesia termasuk di Kabupaten Pemalang dan Tegal, petani umumnya menggunakan pestisida sintetis yang diaplikasikan secara intensif dan terjadwal. Cara ini tidak efisien karena biaya mahal dan berpengaruh negatif terhadap keberadaan musuh alami OPT dan lingkungan. Penggunaan pestisida yang sangat tinggi tersebut  mempunyai dampak negatif baik secara ekonomi, ekologi dan sosial sebagai berikut :
Dampak secara ekonomi adalah ketergantungan rumah tangga petani terhadap pestisida, dan secara nasional ketergantungan negara terhadap luar negeri karena 100%  bahan aktif pestisida merupakan impor (Purwanti dan Wiyono, 2002).
Secara ekologi penggunaan pestisida  menimbulkan pencemaran tanah, air, residu pada produk,  kematian organisme berguna, resistensi hama/penyakit, serta terjadinya hama sekunder (Wiyono, 2008).
Dampak sosial yang timbul adalah adanya keracunan pestisida oleh petani pengguna, maupun penyakit penyakit terkait dengan keracunan pestisida (Wiyono, 2008).
Untuk menurunkan  kadar residu pestisida pada petani diperlukan upaya  peningkatan kapasitas petani dalam penanganan pestisida dan penyediaan teknologi perlindungan tanaman non kimiawi. SLPHT (Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu) merupakan media efektif dalam penurunan penggunaan pestisida oleh petani, agar diseminasi teknologi perlindungan tanaman non kimiawi berjalan cepat. Oleh karena itu upaya-upaya untuk meningkatkan dua aspek itu sangat penting seperti pelatihan dan SLPHT untuk mengurangi tingkat keracunan pestisida.  Peningkatan akses petani terhadap teknologi alternatif seperti penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), penggunaan biopestisida  dalam perlindungan tanaman di Kabupaten Tegal juga sangat penting.
Secara singkat PHT pada OPT tanaman melati dapat diuraikan pada tabel 3 sebagai berikut :

901111-12_01022020_1580553644_tab4

Melalui Instruksi Presiden No. 3 Tahun 1986 program penanganan OPT adalah dengan menerapkan prinsip Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) sebagai Program Nasional, yang merupakan upaya untuk mengantisipasi dampak buruk pemakaian pestisida. Pada tanggal 25 sampai 27 April 2012, Direktorat Budidaya dan Pasca Panen Tanaman Florikultura telah mengadakan Kegiatan Pembinaan Kawasan Melati di Jawa Tengah berlokasi di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Diharapkan sistem pengendalian OPT melati dapat dilakukan dengan penerapan PHT dan dengan penggunaan pestisida sintetik yang minimal. Dengan penerapan PHT diharapkan residu pestisida pada daun melati yang digunakan dalam industri pengolahan teh masih dalam taraf yang aman bagi kesehatan manusia dalam jangka panjang, selain itu persyaratan SPS untuk ekspor daun melati tidak terkendala akibat residu pestisida sintetik.