DUKUNG PENGEMBANGAN BAWANG PUTIH
211 Pembaca

07-02-2020



Cianjur merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat yang menjadi lokasi pengembangan bawang putih. Pada tahun 2019, Kabupaten Cianjur memperoleh alokasi APBN untuk kawasan bawang putih seluas 250 ha. Lokasi kawasan tersebar di beberapa kecamatan antara lain Cipanas, Pacet, Cugenang, Gekbrong, Campakamulya, Takokak, Sukaresmi, Campaka, Warungkondang, dan Cibinong. Wilayah tersebut dipilih karena memiliki iklim sejuk dan ketinggian di atas 1000 m dpl yang potensial jika dikembangkan sebagai lokasi budidaya bawang putih.

901111-12_07022020_1581089335_kris-2


Sebelumnya pada tahun 2018 di Kabupaten Cianjur juga telah merealisasikan pengembangan bawang putih untuk kawasan APBN dan wajib tanam importir. Hasil produksi bawang putih tahun 2018 tersebut digunakan sebagai benih untuk program pengembangan bawang putih di tahun 2019. Namun berdasarkan hasil evaluasi dan laporan dari petani mitra, sebagian pertanaman bawang putih ada yang terserang OPT dan ditakutkan dapat menurunkan produksi.

901111-12_07022020_1581089326_kris-1

Oleh sebab itu, tim dari Ditjen Hortikultura bersama Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur melakukan pemantauan dan pengambilan sampel untuk uji identifikasi OPT di beberapa kecamatan seperti Cipanas, Cugenang, Campaka Mulya, Sukanagara, dan Takokak. Berdasarkan hasil pemantauan, pertanaman bawang putih di sejumlah wilayah yang dikunjungi pertumbuhannya tidak seragam, mengalami malformasi, daun menguning, dan kerdil. Pengambilan sampel rumpun dan tanah dilakukan untuk memastikan jenis OPT yang menyerang pertanaman bawang putih sehingga nantinya dapat diputuskan langkah pengendalian yang tepat. Menurut keterangan petani, bawang putih yang ditanam merupakan varietas lokal seperti Sangga Sembalun dan Lumbu Kuning. Benih tersebut berasal dari penangkar benih bawang putih di Cianjur (Gapoktan Mujagi), Lombok Timur, dan Temanggung.


Nadra dari Ditjen Hortikultura, menyarankan kepada Dinas Pertanian Kab. Cianjur untuk selalu memperhatikan kesehatan benih yang digunakan. Selain itu petani juga perlu melakukan tindakan pengendalian secara pre-emptif seperti perendaman benih dengan PGPR sebelum tanam, aplikasi agens hayati Trichoderma sp. pada lahan, pengendalian gulma, dan pemupukan yang tepat.