EVALUASI EFEKTIVITAS PESTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN
87 Pembaca

28-04-2022



Pestisida nabati adalah senyawa alami yang diolah atau diekstrak dari bagian-bagian tumbuhan seperti daun, biji, buah, batang, umbi, atau akar yang bersifat toksik bagi OPT tanaman. Pestisida jenis ini umumnya dapat dibuat dalam skala kecil atau rumahan (homemade) sehingga sering menjadi alternatif murah bagi petani tradisional untuk mengendalikan serangan OPT di lahannya. Efektivitas dari pestisida nabati yang diproduksi sendiri oleh petani tradisional sering kali berbasis kepercayaan dan testimoni. Beberapa studi evaluasi secara empiris terkait bahan aktif dari pestisida nabati memberikan hasil uji yang variatif tergantung pada jenis bahan aktif, konsentrasi bahan aktif, preparasi atau pengolahan menjadi pestisida nabati, cara pengujian, dan situasi di lapangan.1


Secara global, ada lebih 2.500 spesies tanaman dari 235 famili yang dilaporkan dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati.1 Beberapa molekul bioaktif pada tanaman seperti terpenes, flavonoids, alkaloids, polyphenols, cyanogenic glucosides, quinones, amides, aldehydes, thiophenes, amino acids, saccharides dan polyketides bersifat anti hama/fungi/nematoda, baik itu bertindak sebagai antifeedant (penurun nafsu makan hama), racun/toksik, atau repellent (pengusir serangga).3 Pestisida nabati dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada serangga, seperti mengurangi berat larva, pupa, dan imago (serangga dewasa) sehingga tumbuh menjadi abnormal.4


Adapun jenis tanaman yang direkomendasikan dan banyak digunakan petani tradisional sebagai bahan pestisida nabati antara lain daun mimba, bawang putih, cabai, tembakau, dan tephrosia (kacang babi). Namun kandungan senyawa nikotin pada tembakau dan senyawa rotenone pada tephrosia (kacang babi) dilaporkan bersifat toksik pada organisme non-target seperti polinator (lebah), hewan akuatik, mamalia kecil, atau burung sehingga tidak disarankan atau penggunaannya perlu dibatasi.1 Rotenone adalah senyawa toksik yang dapat memblokir rantai transpor elektron dan mencegah produksi energi pada organisme target maupun non-target.4


Sementara itu untuk mimba dan ekstrak bawang putih relatif aman terhadap organisme non-target, serta memiliki efektivitas yang cukup baik dalam mengendalikan populasi OPT. Mimba mengandung senyawa azadirachtin yang dapat membuat siklus metamorfosis serangga hama menjadi terganggu, bahkan steril atau mandul. Azadirachtin yang diekstrak dari tanaman mimba dapat meningkatkan mortalitas atau angka kematian nimfa hama aphid secara signifikan hingga 77-80%.4 Selain itu azadirachtin bersifat antifeedant yang dapat menurunkan nafsu makan serangga hama. Mimba juga mengandung senyawa limonoid yang dapat mencegah resistensi pada hama.2


Ekstrak bawang putih dilaporkan mengandung senyawa allicin yang memiliki aktivitas pestisida terhadap hama dari Ordo Hemiptera, Lepidoptera, maupun tungau.2 Senyawa diallyl sulfide dan diallyl disulfide pada ekstrak minyak esensial bawang putih juga bersifat sangat toksik terhadap Sitophilus zeamais dan Tribolium castaneum. Ketika serangga hama terkena senyawa ekstrak tersebut maka serangga akan mengalami paralisis atau kelumpuhan otot dan saraf.4


Efek yang ditimbulkan pestisida nabati memang tidak cepat atau instan seperti pestisida kimia sintetik dalam pengendalian OPT. Tetapi bila dikombinasikan dengan prinsip Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) lainnya tentu dapat menjadi alternatif yang ramah lingkungan bagi petani.2 Di sisi lain, penggunaan pestisida kimia sintetik secara masif dan tidak bijak menyebabkan permasalahan baru seperti resistensi hama dan kontaminasi residu berbahaya pada air, tanah, dan udara di sekitar lahan.3


Namun perlu digaris-bawahi bahwa hasil dari aplikasi pestisida nabati, terutama yang dibuat sendiri oleh petani (homemade) sangat sulit diprediksi. Faktor efektivitas dan keamanannya juga belum sepenuhnya teruji. Hal ini disebabkan variasi metode pembuatan, jenis dan bagian tanaman yang diolah, larutan yang dipakai dalam proses ekstraksi, proses penyimpanan, dan hal-hal teknis lainnya. Maka dari itu diperlukan standar baku pembuatan pestisida nabati yang sudah teruji ilmiah efektivitas maupun keamanannya terhadap pengguna (petani) maupun lingkungan hidup.


Referensi:
1 Dougoud, J., Toepfer, S., Bateman, M. et al. (2019). Efficacy of homemade botanical insecticides based on traditional knowledge. A review. Agron. Sustain. Dev. 39, 37. https://doi.org/10.1007/s13593-019-0583-1 

2 Iqbal, T., Ahmed, N., Shahjeer, K., Ahmed, S., Al-Mutairi, K. A. , Khater, H. F. , & Ali, R. F. (2021). Botanical Insecticides and their Potential as Anti-Insect/Pests: Are they Successful against Insects and Pests?. In (Ed.), Global Decline of Insects [Working Title]. IntechOpen. https://doi.org/10.5772/intechopen.100418

3 Souto, A. L., Sylvestre, M., Tölke, E. D., Tavares, J. F., Barbosa-Filho, J. M., & Cebrián-Torrejón, G. (2021). Plant-Derived Pesticides as an Alternative to Pest Management and Sustainable Agricultural Production: Prospects, Applications and Challenges. Molecules 26(16): 4835. https://doi.org/10.3390/molecules26164835

4 Wafaa M. Hikal, Rowida S. Baeshen & Hussein A.H. Said-Al Ahl | Karol Ujházy (Reviewing Editor) (2017) Botanical insecticide as simple extractives for pest control, Cogent Biology, 3:1. https://doi.org/10.1080/23312025.2017.1404274


P
enulis:
Krisnanda Surya Dharma, S.Si
Fungsional POPT