HADAPI KEKERINGAN, PETANI MUDA JAMBI MANFAATKAN LIMBAH SAWIT
260 Pembaca

28-01-2020



901111-12_28012020_1580226043_Hadapi_Kekeringan,_Petani_Muda_Jambi_Manfaatkan_Limbah_Sawit_2901111-12_28012020_1580226037_Hadapi_Kekeringan,_Petani_Muda_Jambi_Manfaatkan_Limbah_Sawit_3

Musim kemarau yang belum berakhir dan ketersediaan air yang minim menjadi kendala bagi petani hortikultura. Tanah yang kering membutuhkan frekuensi penyiraman yang lebih sering agar tanaman tidak mati. Salah satu petani di Kecamatan Sungai Gelam-Jambi, Forastera Simbolon, memanfaatkan jangkos atau janjangan kosong sawit sebagai pupuk dasar di lahan yang dikelolanya. Jangkos adalah limbah yang dihasilkan dari pengolahan tandan buah segar (TBS).
Foras yang juga merupakan alumni IPB ini mengaplikasikan jangkos sebagai substitusi pupuk kimia untuk cabai yang ditanam di sela-sela tanaman sawit yang belum menghasilkan. Jangkos diperolehnya secara cuma-cuma dari pabrik sawit. Selain sebagai bahan organik dengan kandungan hara N, P, K, jangkos juga dapat memperbaiki struktur menjadi lebih gembur serta dapat diaplikasikan di semua musim tanam. Menurutnya, pada saat musim kemarau, penggunaan jangkos membantu menjaga kelembaban tanah sehingga tanaman yang dipupuk dengan jangkos relatif lebih tahan dibandingkan tanaman yang tidak dipupuk jangkos.Selain itu untuk menyiram tanaman, ia menggunakan irigasi tetes agar dapat menghemat air.

901111-12_28012020_1580226033_Hadapi_Kekeringan,_Petani_Muda_Jambi_Manfaatkan_Limbah_Sawit_4

Jangkos yang akan diaplikasikan ke lapang lebih dulu dicacah dan dijadikan  kompos dengan menambahkan Trichoderma untuk mengendalikan cendawan patogen. Sifatnya yang tidak mudah lapuk mengharuskan jangkos dicacah dengan baik untuk pembuatan pupuk, sedangkan teksturnya yang cukup keras dan alot menjadi kendala karena pencacahan masih dilakukan secara manual. Selain pupuk jangkos, Foras juga mempergunakan pupuk organik cair (POC) untuk memupuk cabai dan sayuran yang ditanam.
Dalam kunjungan kali ini, Staff Direktorat Perlindungan Hortikultura, I Gusti Ayu Widyastiti juga melakukan pengamatan sekaligus memberikan bimbingan teknis dan pemasyarakatan informasi terkait kewaspadaan terhadap hama invasive Spodoptera frugiperda yang akhir-akhir ini diindikasikan sudah banyak ditemukan di pertanaman jagung.
Ditlin Hortikultura mengapresiasi inisiatif petani di Sungai Gelam dalam memanfaatkan jangkos, dan menyarankan agar lebih meningkatkan pertanian yang ramah lingkungan seperti dengan menggunakan agens hayati tidak saja pada pupuk melainkan juga pada pengendalian hama atau penyakit.
 
by ; Ayu