MENDORONG PETANI JAYAPURA UNTUK HASILKAN SAYURAN AMAN KONSUMSI
327 Pembaca

07-02-2020



Kementerian Pertanian mendukung pengembangan hortikultura di Papua yang terletak di ujung timur Indonesia karena memiliki lahan yang subur dan luas sehingga sangat potensial sebagai lokasi pengembangan kawasan hortikultura. Selain didukung lahan yang masih luas dan subur, sebagian wilayah Papua memiliki topografi dataran tinggi dan beriklim sejuk yang cocok untuk pengembangan komoditas sayuran sehingga kebutuhannya tidak lagi dipasok dari daerah lain, tapi dapat terpenuhi secara mandiri oleh petani setempat.
Sektor pertanian khususnya hortikultura di sekitar Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura budidaya aneka sayuran seperti cabai, tomat, bayam, kangkung, bawang merah, dan buah-buahan seperti melon, semangka, pepaya, dan buah naga mulai berkembang saat ini.

Seperti penjelasan Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura (DPTH) Kabupaten Jayapura Adolf Yokhu, SP, MM pada suatu kesempatan terpisah bahwa salah satu program prioritas dari Dinas TPH Kabupaten Jayapura tahun 2019 adalah memberdayakan para petani di Kabupaten Jayapura dari cara bertani tradisional ke cara bertani modern dan merubah cara pandang bertani untuk tujuan konsumtif menjadi bertani untuk peningkatan ekonomi keluarga. Hal ini juga sebagai tindaklanjut dari arahan kepala daerah setempat bahwa Pemerintah Provinsi mendorong petani Papua untuk menyediakan ketahanan pangan lokal seperti beras, sayuran dan buah-buahan dan sejumlah kebutuhan pangan lainnya yang bernilai ekonomis sebagai wujud suksesnya ekonomi serta mampu menjadi penyuplai terutama dalam mendukung hajatan bertaraf Nasional di Kota Jayapura Provinsi Papua yakni Pekan Olahraga Nasional (PON) XX tahun 2020 nanti.

Ditjen Hortikultura pada tahun 2019 untuk pengembangan sayuran dan tanaman obat di Papua mengalokasikan APBN untuk kawasan aneka cabai seluas 185 ha, pengembangan kawasan bawang merah umbi dan biji/TSS masing-masing seluas 45 ha dan 30 ha, pengembangan kawasan bawang putih seluas 30 ha, pengembangan sayuran untuk kawasan perbatasan seluas 55 ha, dan kawasan tanaman obat (buah merah) seluas 25 ha.

Untuk pengamanan produksi dalam hal pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) cabai dan bawang merah, tahun ini Provinsi Papua mendapatkan total alokasi dana dari pusat seluas 35 ha dengan rincian: gerakan pengendalian OPT cabai seluas 27 ha dan gerakan pengendalian OPT bawang merah seluas 8 ha. Kegiatan gerakan pengendalian OPT diarahkan untuk memanfaatkan bahan pengendali OPT yang ramah lingkungan. Kabupaten dan Kota Jayapura yang merupakan salah satu daerah yang didorong untuk pengembangan sayuran, sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya dan harga sayuran dapat menjadi lebih murah. Komoditas yang cocok untuk dikembangkan di Jayapura selama ini adalah sayuran dataran rendah, di antaranya tomat, cabai, terong, sawi, kangkung cabut, bayam, kacang panjang, buncis dan labu siam, yang selain dipasarkan ke pasar tradisional juga ke pusat perbelanjaan modern di daerah ini.

Dengan dukungan Kementerian Pertanian, Pemerintah Provinsi Papua berupaya mencapai swasembada sayuran dengan memanfaatkan lahan tidur dan lahan pekarangan. Dengan berkembangnya aneka sayuran, maka POPT dan petani perlu meningkatkan kemampuannya dalam pengendalian dan penanganan Organisme Penganggu Tanaman (OPT). Gerakan Pengendalian OPT dilaksanakan oleh Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Papua (BPTPH) bersama petani, sebagai stimulan dalam pengamanan produksi hortikultura. Pembinaan teknis, fasilitasi sarana prasarana pengendalian OPT yang ramli dalam bentuk perbanyakan agens hayati dan pestisida nabati terus disampaikan petugas POPT setempat yang merupakan ujung tombak penerapan pengendalian OPT ramli di wilayah binaannya.

Saat memberikan bimbingan teknis pada petani di lahan cabai milik pak Wagiran di Distrik Arso X dan lahan bawang merah di Kelompok Tani Sri Rejeki yang diketuai Pak Sutris, di Kampung Yaturaharja Kabupaten Keerom, Nadra dari Direktorat Perlindungan Hortikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura bersama Yunus (Koordinator POPT) setempat dan Laboratorium Agens Hayati dari BPTPH Provinsi Papua memberikan apresiasi kepada petani meskipun anggota Kelompok Tani Sri Rejeki didominasi petani gurem dengan penguasaan lahan kurang dari 0,5 hektar, mereka sangat gigih dan bersemangat membudidayakan sayuran guna mencukupi kebutuhan pasar di Jayapura, sehingga paling tidak sayuran yang banyak dibutuhkan warga Kabupaten dan Kota Jayapura tak perlu lagi didatangkan dari luar.


Nadra juga memberikan motivasi dan pemahaman kepada petani untuk merubah perilaku dan pola usaha taninya ke pola budidaya intensif yang berwawasan lingkungan sehingga potensi yang dimiliki dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin Selain itu juga dilakukan sosialisasi adanya OPT baru Spodoptera frugiperda yang perlu diwaspadai, bimbingan pengendalian OPT Ramli dan bantuan fasilitasi sarana pengendalian OPT sebagai stimulan dan upaya untuk mengendalikan serangan OPT secara ramli, diantaranya dengan penggunaan agens hayati Trichoderma sp., PGPR, pestisida nabati dari akar tuba, pemasangan feromon seks untuk ulat bawang. Semoga dengan kegigihan petani sayuran di Jayapura, dapat menghasilkan sayuran yang sehat dan aman konsumsi serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Penulis Berita : Nadra