PERANGKAP LIKAT KUNING SEBAGAI SAHABAT PETANI
982 Pembaca

07-06-2020



PERANGKAP LIKAT KUNING SEBAGAI SAHABAT PETANI

Pengendalian hama tanaman dalam konsep Pengendaliah Hama Terpadu (PHT) dilakukan dalam satu kesatuan pengendalian atau dengan cara menggabungkan beberapa teknik pengendalian seperti pengendalian fisik, pengendalian mekanik, pergiliran dan rotasi tanaman yang semuanya lebih bersifat ramah lingkungan. Kegiatan pemantauan OPT di pertanaman adalah penting dilakukan untuk menentukan upaya preventif pengendalian OPT dan salah satu upaya pengendalian hama terpadu yang bersifat preventif yaitu dengan menggunakan perangkap likat kuning (yellow sticky trap).

Pemanfaatan perangkap ini dapat menjadi indikator populasi OPT di area pertanaman atau berfungsi sebagai monitoring dan juga dapat dijadikan sebagai alat pengendalian. Perangkap likat kuning mampu mengendalikan beberapa OPT yang sering muncul di pertanaman dan dapat dijadikan solusi untuk petani dalam pengendalian di lapangan.seperti lalat buah, wereng, aphids, thrips, kutu, ngengat dan kepik yang merupakan hama yang umum menyerang tanaman hortikultura seperti cabe, bawang merah, semangka melon, dan lainnya

Dengan likat kuning, petani bisa mengetahui seberapa besar tingkat serangan OPT khususnya dari jenis serangga sehingga saat ditemukan hama tertentu yang populasinya telah melebihi ambang batas maka dapat segera dilakukan pengendalian dan petani bisa menentukan jenis pengendalian yang perlu digunakan.
Metode monitoring dan pengendalian inilah yang beberapa waktu lalu disosialisasikan kepada Kelompok Tani Semangat Baru Desa Peniti Besar Kecamatan Segedong Kabupaten Mempawah Provinsi Kalimantan Barat dengan sasaran hama lalat buah dan thrips pada komoditi semangka.

“Pemasangan perangkap ini dilakukan sesuai dengan jenis tanaman yang ada di lahan. Biasanya, perangkap likat kuning diikat pada ajir dengan ketinggian satu jengkal di atas tajuk tanaman dan tingginya disesuaikan seiring mengikuti pertumbuhan tajuk tanaman Hal ini bertujuan agar serangga hama langsung bisa melihat perangkap likat kuning di atas tajuk tanaman yang ada,” ujar Catur Kurniasari, petugas POPT Kecamatan Segedong Kabupaten Mempawah.
“Hal ini karena pada umumnya serangga tertarik dengan cahaya, warna, aroma makanan atau bau tertentu, dimana warna yang disukai serangga biasanya warna-warna kontras seperti warna kuning cerah,” lanjutnya.

901111-12_070620201591486892_foyo-2

Perangkap likat kuning dibuat dengan menggunakan plastik, botol ataupun kertas. Warna kuning bisa berasal dari warna kuning cat atau bahan-bahan lain yang berwarna kuning. Bahan berwana kuning tersebut kemudian dilumuri dengan lem perekat bening, seperti lem tikus atau minyak goreng. Sehingga hama yang mendekat dengan otomatis akan terperangkap dalam lem perekat. Hama yang lengket tidak akan bisa bergerak dan akhirnya akan mati.

Ketika hama terperangkap telah memenuhi sebagian besar permukaan perangkap atau 15 hari setelah pemasangan, maka perlu dilakukan penggantian dengan perangkap yang baru, dengan cara melepas plastik dan menggantikannya dengan plastik yang baru dan diolesi lem perekat begitu seterusnya hingga tanaman habis masa panennya,

M. Taufik, SPKP, Koordinator POPT Kabupaten Mempawah yang pada hari itu ikut mendampingi kegiatan tersebut menambahkan bahwa dengan dilakukannya perangkap likat kuning mampu mengatasi penggunaaan pestisida kimia. “Pengalaman kami bersama petani, penggunaan likat kuning ini bisa mengurangi penggunaan pestisida 10 hingga 20 persen. Hal ini dikarenakan petani bisa mengukur penggunaan pestisida yang wajar. Jadi tidak over dosis dan tentunya tidak merusak lingkungan,” pungkasnya.

 

901111-12_070620201591486998_popt

Oleh : Catur Kurnia Sari, SP
POPT Ahli Pertama
UPT Perlindungan Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat
Editor : Ndik