PENGENDALIAN OPT RAMAH LINGKUNGAN MULAI DITERAPKAN PETANI DIREJANG LEBONG
216 Pembaca

01-02-2020



Rejang lebong merupakan daerah sentra produksi utama sayuran di Bengkulu. Di daerah ini berbagai macam sayuran dapat tumbuh dengan baik seperti cabai, bawang merah, kentang, wortel, kubis, bawang daun, tomat, terung, dll.
Selain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat, produksi sayuran dari Kabupaten Bengkulu ini didistribusikan ke Provinsi sekitarnya seperti Sumatera Selatan, Lampung dan Jambi. Menurut Sekretaris Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong  Solahudin, komoditas sayuran utama yang dihasilkan adalah kubis dan sudah mulai dicoba untuk diekspor ke Malaysia walauoun belum kontinue.

901111-12_31012020_1580496136_enung-3901111-12_31012020_1580496133_enung-2

Komoditas sayuran seperti diketahui umumnya rentan terhadap serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Dalam mengendalikan OPT di lapangan kebanyakan petani setempat masih menggunakan pestisida kimia. Namun demikian beberapa petani di Rejang Lebong sudah mulai menerapkan pengendalian OPT secara ramah lingkungan tutur Solahudin.
Menurut Nahrowi, ketua KT Barokah yang berlokasi di Desa Belitar Seberang Kecamatan Sindang Kelingi Kabupaten Rejang Lebong, dia bersama 17 orang anggotanya yang memiliki lahan sekitar 12 hektar mulai menerapkan  pengendalian OPT secara ramah lingkungan  dengan menggunakan bahan pengendali OPT seperti trichoderma, PGPR dan pestisida nabati, namun untuk pembuatan pestisida  nabati terkendala ketersediaan bahan baku. Keterampilan membuat bahan pengendali yang ramah lingkungan didapat dari temen- temen BPTPH dan petugas POPT, tutur Nahrowi.

901111-12_31012020_1580496139_enung-4

Saat melakukan pembinaan dan monitoring ke lapangan, Enung Hartati Kasi Sarana Pengendalian  OPT Sayuran Ditlin Hortikultura menyarankan petani untuk terus menerapkan pengendalian OPT secara ramah lingkungan. Selain penggunaan bahan yang sudah bisa mereka buat, pada kesempatan itu juga Enung menyampaikan kepada petani bahwa untuk mengendalikan ulat bawang yang merupakan OPT utama bisa menggunakan perangkap feromon sex sebanyak 20 buah/hektar. Sedangkan untuk mengendalikan lalat buah bisa menggunakan perangkap atraktan sebanyak 20 buah/hektar. Pada kesempatan tersebut juga di praktekkan cara pemasangan perangkap. Dengan penggunaan sarana pengendali OPT yang ramah lingkungan, selain lingkungan menjadi sehat, petani sehat dan produk yang dihasilkan aman konsumsi serta bisa menekan biaya produksi. Alhamdulillah petani sangat antusias dan ingin mencoba mempraktekan di lahan usahanya.
Pada kesempatan terpisah Direktur Perlindungan Hortikultura Sri Wijayanti Yusuf menyampaikan bahwa Kementerian Pertanian tak henti-2 nya terus mengajak dan mendorong petani agar menerapkan pengendalian OPT secara ramah lingkungan  dan bijaksana jika menggunakan pestisida kimia dengan memperhatikan 6 tepat yaitu tepat sasaran, tepat mutu,  tepat jenis pestisida, tepat waktu, tepat dosis dan konsentrasi,  tepat cara penggunaannya.