PENGENDALIAN OPT RAMAH LINGKUNGAN DI KAMPUNG LENGKENG, KALIMANTAN BARAT
182 Pembaca

25-08-2021



Pada 2021, Kementerian Pertanian (Kementan) memiliki program prioritas Pengembangan Kampung Hortikultura yang mengusung konsep One Village One Variety (OVOV). Konsep ini bertujuan untuk membuat kawasan terkonsentrasi dan berskala ekonomi, sehingga mampu menghasilkan produk segar dan olahan yang bersaing dengan negara lain, terutama dalam hal ekspor.

 

Dalam rangka mendukung pelaksanaan program tersebut, UPT Perlindungan Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat melakukan pendampingan pengendalian OPT kampung buah lengkeng di Kabupaten Mempawah selama dua hari pada 18 – 19 Agustus 2021 di dua lokasi berbeda yaitu di Kelompok Tani (Poktan) Tani Makmur I Desa Jongkat, Kecamatan Jongkat dan Poktan Pesona Antibar Bersama, Desa Antibar, Kecamatan Mempawah.

 

Yuliana Yulinda selaku Kepala UPT Perlindungan TPH Kalbar menjelaskan demi terwujud dan terimplementasinya kampung buah, maka UPT Perlindungan TPH Kalbar akan selalu mengawal baik dalam bentuk monitoring rutin maupun bimbingan pengendalian sebagai bentuk pendampingan terhadap para petani di lapangan.

 

“Kami berharap kampung yang akan dikembangkan ini benar-benar bisa terwujud dan terimplementasi di lapangan. Maka dari itu, pendampingan secara rutin kami lakukan salah satunya melalui gerakan pengendalian OPT lengkeng dengan pemanfaatan bahan pengendali ramah lingkungan ini,” ujar Yuliana.

 

Adapun bahan pengendali yang dipergunakan dalam kegiatan tersebut adalah agensia hayati Trichoderma. Sebagaimana diketahui bahwa Trichoderma merupakan cendawan antagonis yang berfungsi untuk mengendalikan Jamur Akar Putih yang dikenal sebagai salah satu penyakit utama pada tanaman lengkeng.

 

Rusmihardi, selaku Kepala Seksi Perlindungan Tanaman Dinas Pertanian Kabupaten Mempawah yang ikut menghadiri kegiatan tersebut menjelaskan bahwa kedua desa tersebut memang terkenal sebagai pemasok produk hortikultura di Kabupaten Mempawah bahkan sampai ke kabupaten kota lainnya di Kalbar. Baik itu sayuran maupun buah-buahan berkembang baik di dua lokasi tersebut.

 

Untuk itu pihaknya menyambut baik dan sangat mendukung atas dilaksanakannya kegiatan tersebut. Dirinya berharap melalui kegiatan tersebut serangan OPT yang muncul pada tanaman lengkeng dapat ditekan sehingga produksi terjaga dan tentunya memiliki keunggulan lain, yakni aman dikonsumsi karena dari bebas residu pestisida sintetis.

 

Sementara itu petugas POPT Kecamatan Jongkat menyampaikan rasa terima kasihnya kepada UPT Perlindungan TPH Kalbar dan Dinas Pertanian Kab. Mempawah yang telah mendukung upaya pelaksanaan pengendalian OPT secara ramah lingkungan. “Tepat satu minggu yang lalu di tempat ini kami bersama-sama petani melakukan gerdal OPT pada tanaman pangan dengan menggunakan Metarhizium spp. dan Beauveria bassiana seluas 14 Ha. Dan hari ini kami melaksanakan lagi gerdal OPT lengkeng juga dengan memanfaatkan agensia hayati Trichoderma. Kegiatan ini tentunya sangat membantu kami sebagai petugas untuk terus mensosialisasikan penggunaan pengendali OPT ramah lingkungan kepada petani,” tukas Diky.

 

Di tempat terpisah, Direktur Perlindungan Hortikultura, Inti Pertiwi mengatakan bahwa UU No. 12 tahun 2019 tentang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan mengatur bahwa perlindungan pertanian dilaksanakan dengan sistem pengelolaan hama terpadu. Penerapan PHT yang dimaksud adalah dimulai dari budidaya tanaman sehat, pengamatan OPT, pemanfaatan agens hayati dan musuh alami serta terus membimbing petani menjadi ahli PHT di lahannya sendiri.

 

“Dikarenakan penggunaaan pestisida kimiawi bisa berdampak pada kesehatan manusia, Kementan khususnya di Direktorat Perlindungan Hortikultura mendorong pemanfaatan pemanfaatan agens hayati untuk pengendalian OPT dan tidak lagi menganggarkan pestisida sintetis. Ini merupakan bukti keberpihakan pemerintah untuk berperan pada pertanian yang ramah lingkungan,” papar Inti.

 

Dirjen Hortikultura, Prihasto Setyanto, dalam beberapa kesempatan juga turut menegaskan bahwa pengelolaan OPT hortikultura ramah lingkungan sangat diperlukan untuk mendukung pencapaian kampung hortikultura berdaya saing, berkualitas baik dan minim residu pestisida. Penggunaan pestisida kimia sintetis diharapkan mulai dikurangi.Pria yang sering disapa Anton itu menjelaskan bahwa banyak manfaat yang diperoleh jika petani mempraktikkan budidaya ramah lingkungan. Banyak bahan pengendali ramah lingkungan yang bisa dijadikan pilihan terbaik sehingga hal ini turut mendukung percepatan terwujudnya pertanian maju, mandiri dan modern. "Hal ini sesuai arahan Mentan SYL bahwa produk hortikultura harus berkualitas baik dari segi tampilan maupun kandungan. Dengan demikian produk hortikultura seperti buah, florikultura, sayuran, jamur dan tanaman obat diharapkan aman konsumsi dan rendah residu pestisida,” pungkasnya.

 

Oleh : Diky Dwi C POPT Ahli Muda UPT Perlindungan TPH Kalbar