PENYAKIT PAPAYA RINGSPOT VIRUS (PRSV) PADA PEPAYA
1177 Pembaca

07-02-2020



Program PHT merupakan program pengelolaan yang berbasis agroekosistem, perlu keterpaduan kelembagaan yang disesuaikan dengan pendekatan agroekosistem, bukan subsektor (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan karantina). Pergerakan komoditas pertanian antar negara/wilayah berkaitan dengan perdagangan bebas menjadi faktor penting yang berperan terhadap perpindahan dan pemencaran OPT. Terbukanya jalur transportasi dan perhubungan antar negara dan perdagangan bebas memperbesar peluang keluar masuk dan tersebarnya Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK).

Hasil survey dan pemantauan OPTK berhasil membuktikan keberadaan OPTK Papaya ringspot virus (PRSV) di Aceh dan Sumatera Utara. Awal 2013 di Provinsi Aceh, terdapat insidensi PRSV 100% di Desa Lambaro Teunom, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar dengan luas pertanaman 50 ha dan umur tanaman 7 bulan – 3 tahun, serta di Desa Meuse, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireun dengan luas pertanaman 400 ha dengan umur tanaman 7 bulan – 3 tahun. Pemantauan PRSV dilakukan oleh Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Badan Karantina Pertanian di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara di Desa Namo Mbelin, Kecamatan Namo Rambe pada koordinat N-03010.54’ E-098o28.69’ di ketinggian 1.366 m dpl dan Desa Namo Tualang, Kecamatan Biru – Biru pada koordinat N-03028.128’ E-098o40.050’ di ketinggian 76 m dpl. Luas serangan PRSV di daerah pemantauan Kabupaten Deli Serdang mencapai ± 31 ha pertanaman dengan persentase serangan hampir 100% (Badan Karantina Pertanian, 2013).

Dari pemantauan di Kabupaten Deli Serang didapatkan hasil gejala PRSV pada pepaya dimana pada daun terjadi distorsi, mosaic, mottling, blister like patches, daun menjadi belang kekuningan dan terjadi pemucatan tulang daun pada daun muda. Gejala pada tangkai pelepah daun terdapat streak-streak hijau tua, garis atau bercak cincin warna hijau gelap pada batang dan cabang. Pada buah terdapat bercak cincin konsentrik (ring spot), bercak berwarna hijau gelap pada buah sehingga menyebabkan rasa buah pepaya menjadi tidak manis. PRSV tersebut ditularkan melalui vektor kutu daun persik (Myzus persicae) (Badan Karantina Pertanian, 2013).

Berdasarkan literatur Dr. Sri Hendrastuti Hidayat (Dept. Proteksi Tanaman IPB) yang disampaikan pada pertemuan Komisi Perlindungan Tanaman (KPT) 2013 bahwa penyebab penyakit adalah Papaya ring spot virus (PRSV) – Potyvirus yang termasuk OPTK A1 Gol. 1, terdiri dari PRSV Strain – P yang menginfeksi pepaya dan tanaman famili cucurbitaceae seperti labu, mentimun, semangka dan pumpkin dan PRSV Strain – W yang hanya menginfeksi semangka. Analisis sekuen menunjukan tingkat persamaan tinggi antara PRSV-W dan PRSV-P, dimana PRSV-P merupakan mutasi dari PRSV-W. Penyebaran PRSV hanya ditularkan kutu daun (aphid) secara non persisten, artinya virus hanya dapat menyerang tanaman dalam masa yang pendek. Menurut Bos (1990), pada penularan non persisten kutudaun menularkan virus dari dan ke dalam parenkima inang. Perolehan dan inokulasi terjadi dalam periode makan pendek dari beberapa detik sampai menit., vektor segera menjadi infektif sesudah pengambilan virus. Penyebaran PRSV dapat terjadi melalui perpindahan bibit /tanaman pepaya terinfeksi. PRSV tidak dapat bertahan di tanah atau sisa – sisa tanaman.

PRSV ditemukan hampir di semua daerah pertanaman pepaya di dunia, serangan parah dilaporkan di Thailand, Taiwan, Filipina dan Cina. Contoh kasus PRSV pepaya yang penyebarannya masih terbatas di Indonesia memerlukan sinkronisasi dan koordinasi antar lembaga terkait perlindungan tanaman untuk mengendalikan dan mencegah penyebaran lebih luas. Benih merupakan salah satu faktor yang paling potensi dalam penyebaran OPT, untuk itu perlu pengaturan yang ketat terkait proses produksi dan penyebarannya, termasuk benih impor.

Untuk menindaklanjuti penanggulangan PRSV, Badan Karantina Pertanian telah mengupayakan tindakan darurat, pembentukan Tim Tindak Darurat di tingkat pusat dan daerah, surveilan, kajian epidemiologi, kajian dampak ekonomi, sosial dan lingkungan, serta pemberian rekomendasi perlu tidaknya dilakukan eradikasi/pemusnahan. Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara telah menindaklanjuti upaya mencegah penyebaran penyakit. Perlu dilakukan pemantauan seluruh wilayah Indonesia, pemusnahan tanaman pepaya sakit, penghentian sementara penanaman pepaya di daerah endemik dan evaluasi respon varietas pepaya.

Di Hawaii, Thailand dan Filipina telah dikembangkan strategi pengendalian PRSV dengan pengembangan tanaman transgenik tahan PRSV. Strategi lain dengan pemuliaan tanaman resisten dan toleran dengan melakukan persilangan antara Vasconcelellea (kerabat dekat papaya) dengan pepaya (Carica papaya), varietas toleran ini telah beredar secara komersial di Filipina, Taiwan, Thailand dan Florida. Teknik proteksi silang dengan menggunakan virus strain lemah (PRSV HA 5-1 dan PRSV HA 6-1. Rekomendasi pengendalian PRSV dari Dr. Suryo Wiyono (Dept. Proteksi Tanaman IPB agar segera dilakukan pemasyarakatan best practices PHT tanaman pepaya secara intensif dan masif, serta dilakukan riset aksi dalam bentuk demplot area dengan skala luas (sebagai contoh : luasan 10 hektar untuk tanaman pepaya) di daerah sentra produksi dengan pendampingan lembaga teknis terkait perlindungan hortikultura dan pakar bidang perlindungan tanaman perguruan tinggi.

(Hendry Puguh Susetyo, SP, Fungsional POPT Pertama Direktorat Perlindungan Hortikultura)