PERUBAHAN IKLIM DAN PENGARUHNYA TERHADAP SERANGAN OPT PADA TANAMAN HORTIKULTURA
54 Pembaca

29-06-2022



Aktivitas manusia mengubah konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer sehingga menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Sejak tahun 2000-an, konsentrasi CO2 di atmosfer telah meningkat secara signifikan daripada beberapa dekade sebelumnya. Kecenderungan yang sama juga terjadi pada konsentrasi CH4, N2O, dan gas rumah kaca lainnya.1

Perubahan iklim adalah salah satu permasalahan global bagi sektor pertanian. Peningkatan suhu muka bumi dan karbondioksida (CO2) berpengaruh besar terhadap produksi tanaman budidaya. Konsekuensi dari perubahan iklim adalah munculnya varian OPT baru, perubahan praktik budidaya tanaman akibat peningkatan peristiwa kekeringan atau kebanjiran yang mengancam produksi tanaman.4

Perubahan iklim dikhawatirkan menyebabkan populasi serangga hama menjadi tidak stabil, yang berujung pada ledakan populasi di sejumlah wilayah, dan penurunan populasi di wilayah lain. Respon agroekosistem terhadap perubahan iklim diprediksi akan mengubah distribusi geografis dari serangga hama, batas toleransi suhu serangga hama maupun musuh alaminya, muncul strain baru dengan virulensi yang beragam, terjadinya pergeseran hama akibat perubahan ketersediaan makanan mereka di alam, serta perubahan interaksi kompetisi antara tanaman budidaya dengan gulma.4  

Serangga adalah hewan berdarah dingin (ektotermik) yang mana suhu tubuhnya mengikuti suhu lingkungan di sekitarnya. Bisa dikatakan, suhu adalah faktor lingkungan yang paling kuat pengaruhnya terhadap perilaku, distribusi, perkembangan, daya hidup, dan kemampuan reproduksi serangga. Banyak ahli menyimpulkan bahwa iklim yang berubah akan membuat serangga hama menjadi lebih aktif sehingga berpotensi menjadi ancaman besar terhadap sektor pertanian.1

Jangkauan geografis serangga hama akan terpengaruh dengan adanya perubahan iklim. Serangga hama yang awalnya hanya berada di wilayah beriklim tropis, persebarannya diprediksi akan meluas ke wilayah beriklim subtropis yang menjadi lebih hangat karena kenaikan suhu muka bumi. Hal ini akan menurunkan efektivitas teknologi proteksi tanaman yang telah ada, serta mengurangi hasil produksi tanaman budidaya yang pada akhirnya dapat mengganggu ketahanan pangan.4  

Peningkatan suhu secara langsung mempengaruhi kemampuan reproduksi hama, bertahan hidup, penyebaran, dan dinamika populasi, serta interaksi antara hama, lingkungan, dan musuh alaminya. Populasi hama kutu-putih contohnya sangat dipengaruhi oleh faktor iklim, presipitasi, dan kelembapan. Suhu yang lebih hangat dan didukung dengan kelembapan tinggi berkorelasi positif dengan peningkatan populasi kutu-putih.3 Selain itu, serangan hama ulat grayak (Spodoptera litura) dilaporkan mengalami kenaikan populasi ketika level CO2 meningkat. Begitu juga dengan hama ulat penggorok (Helicoverpa armigera) populasinya akan meningkat di wilayah subtropis yang mengalami kenaikan suhu menjadi lebih hangat.4

Peningkatan level CO2 di udara juga akan menyebabkan kandungan nitrogen (N) tanaman menjadi berkurang. Di sisi lain, sistem pertahanan tanaman juga akan menurun saat menghadapi serangan OPT. Asam jasmonat (jasmonic acid) yang merupakan fitohormon alami tanaman yang berperan penting dalam sistem pertahanan tanaman, justru tidak bekerja ketika level CO2 lebih tinggi.4 Konsentrasi CO2 yang meningkat akan mengubah rasio karbon dan nitrogen (C : N) pada daun yang mana kandungan nitrogen menjadi lebih rendah atau kurang bernutrisi bagi serangga hama.3  

Nitrogen adalah elemen kunci pada tubuh serangga untuk perkembangannya, sehingga peningkatan konsentrasi CO2 akan memacu laju konsumsi tanaman pada serangga hama. Hal ini akan menyebabkan level kerusakan tanaman akibat serangga hama meningkat, sebab hama harus mengkonsumsi lebih banyak jaringan tanaman untuk memperoleh jumlah kandungan makanan (nitrogen) yang ekuivalen.3

Strategi pengendalian OPT dan efektivitasnya mungkin akan berkurang karena adanya perubahan agroekosistem akibat perubahan iklim.4 Oleh sebab itu, sistem peringatan dini (early warning system) berdasarkan perubahan cuaca, historis serangan OPT, dan jenis tanaman perlu dikembangkan untuk mengantisipasi dampak dari perubahan iklim.1

Sebaran OPT secara global diprediksi akan mengalami pergeseran karena perubahan suhu, curah hujan, dan kelembapan akibat perubahan iklim. Adapun langkah paling efektif untuk mencegah dan membatasi penyebaran hama dan penyakit tanaman via lalu lintas internasional adalah dengan meregulasinya (sanitary and phytosanitary/SPS), serta memastikan insidensi serangan pada level yang rendah.2 Selain itu perlu dilakukan langkah antisipasi seperti surveilans dan pemantauan (monitoring) untuk mendeteksi OPT baru sehingga bisa langsung diambil tindakan pengendalian atau eradikasi sebelum menyebar luas. 2

 

Referensi:

1 D.K Das, J. Singh, S. Vennila, 2011. Emerging crop pest scenario under the impact of climate change  - a brief review. Journal of Agriculture Physics. Vol. 11, 13-20.

2 IPPC Secretariat, 2021. Scientific review of the impact of climate change on plant pests – A global challenge to prevent and mitigate plant pest risks in agriculture, forestry and ecosystems. Rome. FAO on behalf of the IPPC Secretariat. https://doi.org/10.4060/cb4769en

3 Skendži´c, S.; Zovko, M.; Živkovi´c, I.P.; Leši´c, V.; Lemi´c, D., 2021. The Impact of Climate Change on Agricultural Insect Pests. Insects, 12, 440. https://doi.org/10.3390/insects12050440

4 War et al., 2016. Impact of climate change on insect pests, plant chemical ecology, tritrophic interactions and food production. International Journal of Clinical and Biological Sciences, 1(2), 16-29.

 

Penulis:
Krisnanda Surya Dharma, S.Si.
POPT Ahli Pertama