PUNYA OMSET 200 JUTA PER BULAN, PETANI MILENIAL INI TERAPKAN BUDIDAYA RAMAH LINGKUNGAN
466 Pembaca

21-05-2021



Semarang - (20/05/2021) Pemasaran online Sayuran Organik Merbabu (SOM) patut diacungi dua jempol, pasalnya perusahaan milik petani milenial itu terus melebarkan sayap untuk memenuhi permintaan sayuran organik di berbagai daerah dari Jawa hingga Kalimantan. Seperti diketahui, sayuran organik ini disinyalir sebagai bahan makanan paling berkualitas saat pandemi Covid-19 sehingga menjadi salah satu kebutuhan yang ramai diburu konsumen.

 

Bersama anggota kelompok tani Citra Muda, usaha milik Sofyan Adi ini mampu beromset 200 juta rupiah per bulan. Kesuksesan ini tidak terlepas dari dukungan penuh Kementerian Pertanian (Kementan) melalui bimbingan teknis dan berbagai bantuan kebutuhan operasional usaha tani seperti alsintan, cold storage, bangsal pasca panen dan klinik tanaman.

 

Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementan mendukung SOM menjadi salah satu lokasi pengembangan Agroeduwisata. Berbagai Fasilitas seperti modern greenhouse irrigation di berikan untuk membantu SOM melebarkan sayap lebih pesat lagi. Direktur Jenderal Hortikultura Hortikultura Prihastyo Setyanto mengungkapkan, “Akan kita kawal dan berikan bimbingan terus SOM, ini potensi yang harus didukung penuh”. Lebih jauh, Inti Pertiwi Direktur Perlindungan Hortikultura menambahkan, “SOM ini kan organik ya, jadi tanpa ada input kimia ke lahan. Apalagi ditengah isu global warming seperti ini kita harus turut aktif menjaga lingkungan”.

901111-12_210520211621580769_7fbd9622-0f5b-495e-a413-520e3fc3fe9b

 

Saat ini terdapat sekitar 70 komoditas hortikultura yang diproduksi SOM, dan sekitar 50 jenis berjalan kontinyu. Tujuh puluh komoditas tersebut telah tersertifikasi INOFICE, sehingga kualitas produk organik dari SOM ini terjamin dan tidak diragukan lagi. Produk-produk tersebut terdiri dari 61 jenis sayuran dan 9 jenis tanaman obat.

 

Penanganan pasca panen juga menjadi salah satu upaya dalam menjaga kualitas produk SOM. Pengelolaan ini dilakukan agar produk SOM tetap segar dan berkualitas saat sampai ke tangan konsumen. Seluruh produk SOM akan diberikan perlakuan ozonisasi terlebih dahulu sebelum didistribusikan.

 

Perwakilan Direktorat Perlindungan Hortikultura, Muhammad Agung Sunusi pada saat ditemui dilapangan menjelaskan, ozonisasi sendiri bertujuan untuk menghilangkan mikroorganisme terutama bakteri dan jamur yang dapat mempercepat pembusukan produk. " Produk akan di cuci terlebih dahulu untuk membuang kotoran, kemudian direndam sesuai dengan waktu yang disesuaikan jenis komoditas, dikeringkan kemudian di packing. Setelah melalui proses ozonisasi, waktu penyimpanan produk akan lebih panjang. Contohnya cabai yang bisa bertahan dari 7 hari menjadi 38 hari," ujarnya.

 

Lebih lanjut, Sofyan menjelaskan bahwa dirinya bersama kelompok tani Citra Muda mengelola klinik tanaman untuk memproduksi agen hayati seperti PGPR dan Trichoderma. "Agen hayati ini kami pakai sebagai pengganti pestisida, selain ramah lingkungan juga bisa kami perbanyak sendiri," ujarnya. Sofyan juga menambahkan, bahwa dirinya benar-benar memperhatikan pengelolaan lahan, " Kami pakai pupuk kandang, sedangkan untuk hamanya kami pakai agen hayati dan tanaman refugia seperti kenikir. Jadi aman residu kimia dan ramah lingkungan sehingga sehat untuk dikonsumsi," kata Sofyan.