SOLARISASI TANAH: METODE PENGENDALIAN OPT NON-KIMIAWI YANG EFEKTIF DAN BEBAS RESIDU
125 Pembaca

20-05-2022



Solarisasi tanah merupakan metode pengendalian OPT dengan memanfaatkan lembaran plastik polietilen (PE) transparan dan panas matahari untuk menekan populasi mikrobia patogen dalam tanah. Metode ini menjadi salah satu langkah efektif dalam manajemen pengelolaan terpadu hama penyakit tanaman secara non-kimiawi dan dapat dikombinasikan dengan langkah-langkah pengendalian lainnya. Solarisasi tanah termasuk ke dalam pengendalian OPT secara pre-emptif untuk memutus siklus hidup mikrobia patogen sehingga populasi dan potensi serangannya pada tanaman dapat terkontrol di bawah ambang batas ekonomi.1

 

Keuntungan solarisasi tanah, metode ini bersifat aman bagi petani, tanaman utama, dan organisme non-target lainnya karena tidak menggunakan bahan kimiawi berbahaya. Metode ini juga mudah diadopsi oleh petani karena tidak membutuhkan keterampilan khusus.1 Solarisasi tanah juga sejalan dengan semangat budidaya organik dan pertanian ramah lingkungan karena sama sekali tidak meninggalkan residu berbahaya layaknya pestisida kimia sintetik.2

 

Ada beberapa mekanisme yang membuat solarisasi tanah efektif dalam mengendalikan OPT. Pertama, proses solarisasi akan meningkatkan temperatur tanah hingga pada level mematikan bagi banyak spesies mikrobia patogen dan hama tanaman. Temperatur yang tinggi menyebabkan gangguan ikatan pada molekul dan membran sel mikrobia patogen.2

 

Kedua, kenaikan suhu akibat solarisasi juga akan memicu perubahan kimiawi tanah. Konsentrasi unsur hara mineral terlarut umumnya akan meningkat pada tanah yang disolarisasi. Hal ini berkaitan dengan proses degradasi sel-sel mikrobia tanah yang mati terkena panas. Selain itu suhu tinggi menyebabkan bahan-bahan organik dalam tanah akan mengeluarkan senyawa volatil yang bersifat toksik bagi mikrobia patogen.2 Solarisasi juga akan mempercepat proses penguraian bahan organik dalam tanah, menghasilkan unsur hara mudah larut yang bermanfaat bagi tanaman seperti nitrogen (NO3, NH4+), calcium (Ca++), magnesium (Mg++), potassium (K+), dan asam fulvat.3

 

Ketiga, solarisasi tanah dilaporkan dapat meningkatkan populasi agens hayati antagonis bermanfaat, sebab ketersediaan substrat dan unsur hara tanah berlimpah akibat matinya banyak mikrobia patogen yang sensitif panas. Populasi mikrobia antagonis ini, seperti Bacillus spp., fluorescent pseudomonads, thermotolerant fungi (Trichoderma spp.), dan nematoda non-patogen yang selamat selama proses solarisasi, secara cepat akan mengkolonisasi tanah dan mencegah rekolonisasi mikrobia patogen. Hal ini tentunya menguntungkan bagi tanaman budidaya.2

 

Ada beragam jenis OPT yang dapat dikendalikan dengan solarisasi tanah, antara lain dari golongan cendawan patogen (Fusarium spp., Phytophthora spp., Pythium spp., Plasmodiophora brassicae, Rhizoctonia solani, Sclerotium spp.); nematoda (Criconemella xenoplax, Ditylenchus dipsaci, Globodera rostochinensis, Meloidogyne spp., Xiphinema, spp.); bakteri (Agrobacterium spp., Pseudomonas spp.); dan beberapa jenis gulma/tumbuhan liar yang sensitif panas (Ageratum spp., Amaranthus spp., Digitaria spp., Portulaca spp., dan Setaria spp.).1, 4 Populasi gulma yang terkendali lagi pula akan mencegah pertumbuhan dan penyebaran mikrobia patogen atau serangga hama yang sebagian siklus hidupnya berlangsung di gulma.4

 

Pada tanaman buah tahunan, solarisasi tanah juga dapat dilakukan sebelum dan sesudah penanaman. Selain dapat memutus siklus hidup patogen tanah, solarisasi pada tanaman buah tahunan juga dapat mengurangi kebutuhan air untuk irigasi, serta meningkatkan pertumbuhan, pembungaan, dan/atau pembuahan pada pohon. Perlakuan solarisasi secara periodik mungkin dapat dilakukan untuk meningkatkan efektivitas dalam membunuh mikrobia patogen.3

 

Ada beberapa faktor yang menjadi hambatan efektivitas dari solarisasi tanah, antara lain faktor lokasi, cuaca, durasi perlakuan, kelembapan tanah, warna tanah, dan kontur tanah. Solarisasi tanah sangat efektif di wilayah geografis yang hangat atau panas, cerah tak berawan, dan tidak ada angin. Tanah yang kering, berwarna gelap, dan berkontur datar juga lebih maksimal dalam menyerap panas sehingga makin efektif membunuh patogen.3

 

Plastik polietilen (PE) transparan paling efektif untuk proses solarisasi tanah dibandingkan plastik gelap dan berwarna. Semakin tebal plastik, maka tanah semakin cepat panas dan tahan lama. Plastik dengan ketebalan 0,025 mm adalah yang paling ekonomis dan juga efektif membunuh patogen. Tetapi untuk wilayah yang berangin kencang disarankan menggunakan plastik dengan ketebalan 0,038 - 0,050 mm. Penggunaan plastik biodegradable atau photodegradable tidak direkomendasikan untuk solarisasi karena akan mudah hancur saat terkena sinar UV.3

 

Meskipun solarisasi tanah memiliki banyak kelebihan, namun ada beberapa kelemahan dari metode ini, yakni solarisasi hanya bisa diaplikasikan di wilayah dengan iklim panas. Proses solarisasi tanah sering kali membutuhkan waktu yang lama (satu bulan atau lebih) untuk memutus siklus hidup mikrobia patogen. Selain itu, agens hayati bermanfaat bisa jadi ikut mati, terutama dari jenis yang tidak toleran panas.1

 

Dari perspektif dampak terhadap peningkatan produksi pangan dan kelestarian lingkungan, solarisasi tanah tentu bisa menjadi alternatif yang murah, mudah diaplikasikan, bebas residu kimia, efektif mengendalikan OPT, dan mampu memacu pertumbuhan tanaman budidaya. Solarisasi selain dapat memutus siklus hidup patogen tanah, terbukti juga meningkatkan unsur hara terlarut yang bermanfaat bagi tanaman. Harapannya, kebutuhan dan penggunaan pestisida kimia sintetik juga dapat ditekan hingga tidak lagi mencemari udara, air, dan tanah di sekitarnya. Namun limbah plastik sisa perlu dievaluasi secara hati-hati, apalagi jika metode ini diterapkan secara massal. Di sisi lain dalam proses produksinya, plastik polietilen (PE) yang digunakan untuk solarisasi tanah tentu menghasilkan jejak karbon yang tidak sedikit.4

 

Referensi:

1 Akhtar, J., Khalid, A., Kumaar, B. (2008). Soil Solarization: A Non-Chemical Tool for Plant Protection. Green Farming 1(7):50-53.

2 D'Addabbo, T., Miccolis, V., Basile, M., Candido, V. (2009). Soil Solarization and Sustainable Agriculture. Sociology, Organic Farming, Climate Change and Soil Science (pp.217-274).

3 Elmore, C.L., Stapleton, J.J., Bell, C.E., Devay, J.E. 1997. Soil Solarization: A Nonpesticidal Method for Controlling Diseases, Nematodes, and Weeds. Vegetable Research and Information Center, University of California.

4 Gill, H.K., Aujla, I.S., De Bellis, L., Luvisi, A. (2017). The Role of Soil Solarization in India: How an Unnoticed Practice Could Support Pest Control. Front. Plant Sci. 8:1515.

 

Penulis:
Krisnanda Surya Dharma, S.Si.

POPT Ahli Pertama