ARTIKEL
Sensor Cuaca dan Tanah Menuju Agroindustri 4.0 194 Pembaca
07-02-2020

Dinamika iklim yang saat ini sulit diprediksi merupakan salah satu tantangan dalam bercocok tanam. Perubahan iklim global ditandai dengan peningkatan kejadian anomali iklim diantaranya fenomena El-Nino yang terjadi saat ini menjadi tantangan bagi Direktorat Perlindungan Hortikultura untuk terus berupaya menjawab tantangan yang ada.Seiring dengan kemajuan teknologi pertanian dan menyongsong era industri 4.0 Direktorat Perlindungan Hortikultura memberi bantuan alat sensor tanah dan cuaca pada keltan Gede Harapan, Desa Gekbrong, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur. Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Kab. Cianjur dan keltan Gede Harapan menyampaikan ucapan terimakasih saat bimtek pemanfaatan sensor tersebut. Bimtek dihadiĊ•i petugas (POPT dan PPL) dan petani setempat.

Selanjutnya
LIMA KELOMPOK PENGENDALI HAYATI ATAU BIO PESTISIDA ALAMI 146 Pembaca
07-02-2020

Kelompok tumbuhan insektisida nabati, adalah kelompok tumbuhan yang menghasilkan pestisida pengendali hama insekta. Contoh tumbuhan dari kelompok ini adalah: piretrium, aglaia, babadotan, bengkuang, jaringau, sirsak, saga, srikaya, sereh,   Kelompok tumbuhan antraktan atau pemikat, adalah tumbuhan yang menghasilkan suatu bahan kimia yang menyerupai sex pheromon pada serangga betina. Bahan kimia tersebut akan menarik serangga jantan, khususnya hama lalat buah dari jenis Bactrocera dorsalis. Contoh tumbuhan dari kelompok ini adalah: daun wangi dan selasih.

Selanjutnya
MENYIMAK KASUS BUSUK BATANG BUAH NAGA DI KEPULAUAN RIAU 2012 192 Pembaca
06-02-2020

Buah naga merupakan buah eksotik dari Amerika yang mulai banyak dikembangkan di negara-negara Asia seperti Vietnam, Malaysia, Thailand, Taiwan, Philiphina, termasuk Indonesia. Perpaduan rasa buahnya yang manis-asam dengan tekstur yang lembut dan watery (banyak mengandung air) membuat buah ini semakin digemari, terutama untuk dibuat jus buah, sebagai campuran dalam es buah, ataupun sekedar pelepas dahaga. Pasar buah naga masih dikuasai oleh Vietnam dan Thailand. Namun, kedua negara itupun hanya mampu memenuhi ± 50% permintaan pasar dunia. Budidaya buah naga terbilang mudah dan tidak memerlukan keahlian tertentu, tetapi tetap membutuhkan ketelatenan dan keseriusan. Buah naga dapat berkembang dengan kondisi tanah dan ketinggian lokasi apapun, namun tumbuhan ini cukup rakus akan unsur hara. Di Indonesia, sentra produksi buah naga diantaranya Riau (Siak, Kota Pekanbaru), Banten (Serang), Jawa Tengah (Karanganyar, Teg

Selanjutnya
Enam Tepat Pestisida Hasilkan Produk Hortikultura Aman Konsumsi 159 Pembaca
06-02-2020

Sudah menjadi hal biasa petani menggunakan pestisida untuk mengendalikan hama penyakit. Ada perbedaan pengertian antara pestisida dan residu pestisida. Berdasarkan Undang – Undang Nomor 12 tahun 1992 Tentang Sistem Budidaya Tanaman, pestisida adalah zat atau senyawa kimia, zat pengatur dan perangsang tumbuh, bahan lain serta organisme renik atau virus yang digunakan untuk melakukan perlindungan tanaman. Residu pestisida menurut para pakar adalah zat tertentu yang terkandung di dalam produk, baik sebagai akibat langsung maupun tak langsung dari penggunaan pestisida. Ini mencakup senyawa turunan pestisida serta senyawa hasil konversi, metabolit, senyawa hasil reaksi dan zat pengotor yang dapat memberikan pengaruh toksikologik. Residu pestisida pada sayuran tidak dapat dilihat langsung atau diterka kadarnya dengan mata telanjang. Tingkat bahaya

Selanjutnya
Sistem Budidaya Hortikultura Ramah Lingkungan Semakin Ngetrend Dikalangan M 135 Pembaca
01-02-2020

Seiring perubahan gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat yang semakin dinamis, menuntut penyediaan bahan pangan yang aman dikonsumsi. Tak terkecuali dalam penyediaan produk hortikultura seperti sayuran dan buah-buahan yang makin dituntut berkualitas, fresh dan bebas residu pestisida kimia. Mau tak mau, sistem produksi hulunya juga dituntut berbenah dan menyesuaikan diri. Salah satunya dengan cara menerapkan teknik budidaya ramah lingkungan."Sebagai negara agraris beriklim tropis, pertanian Indonesia tak hanya harus mampu menghasilkan produk dengan jumlah yang mencukupi, namun juga harus berkualitas, sehat dan aman dikonsumsi. Sistem budidaya pertanian kita mau tidak mau harus menerapkan standar mutu dan keamanan pangan, tak hanya level nasional tapi berstandard global. Ini menjadi bagian penting dalam rangka mewujudkan target Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045," ujar Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf di sela Focus Group Disc

Selanjutnya
Belajar Budidaya dan Pengelolaan OPT Stroberi Dari Petani Korea Selatan 398 Pembaca
31-01-2020

Stroberi yang merupakan tanaman asli Chili (Amerika Selatan) sudah sejak lama dikembangkan di Indonesia. Selain dikonsumsi segar, stroberi juga banyak dijadikan makanan olahan seperti sirup, selai, manisan atau bahan tambahan makanan lain. Varietas stroberi introduksi yang berkembang di Indonesia adalah Osogrande di Purbalingga, Selva di Karanganyar, Earlibrite (Holibert) di Garut, Ciwidey Bandung, Rosa Linda, Sweet Charlie, Aerut, dan Camarosa di Bedugul Bali, Dorit, Lokal Berastagi dan California di Berastagi, Chandler di Bondowoso PTPN XII, serta Lokal Batu di Batu (sumber: Balitjestro). Karena memerlukan temperatur rendah, stroberi di Indonesia sebaiknya dibudidayakan di daerah dataran tinggi. Selain itu, stroberi dapat tumbuh dengan baik pada daerah

Selanjutnya
Dorong Budidaya Hortikultura Ramah Lingkungan Kementan Tambah Klinik PHT 113 Pembaca
31-01-2020

Guna mendukung Gerakan Pengendalian OPT Hortikultura ramah lingkungan di seluruh kawasan produksi hortikultura di Indonesia, Kementan melakukan penguatan kelembagaan perlindungan Hortikultura melalui Klinik PHT. Sampai akhir 2018, jumlah klinik PHT hortikultura di Indonesia tercatat 238 unit. Pada Tahun 2020 akan dialokasikan klinik baru sebanyak 250 unit.Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf, saat ditemui usai kegiatan Focus Group Discussion (FGD) tentang penguatan kelembagaan Klinik PHT di Bogor (10/9) menyebut pihaknya berkomitmen menjalankan amanat UU No 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura agar menggunakan bahan pengendali ramah lingkungan untuk mengatasi Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). "Kami akan optimalkan klinik PHT yang ada. Untuk sentra-sentra hortikultura terlebih komoditas strategis seperti cabai dan bawang yang belum ada klinik PHT, kami upayakan ada penambahan," ujar wanita yang akrab dipanggil Yanti tersebut.

Selanjutnya
Ditjen Hortikultura Ajak Petani Terapkan Budidaya Ramah Lingkungan 100 Pembaca
29-01-2020

Tidaklah sulit menemukan pertanaman sayuran di Kecamatan Uepai, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara.  Beberapa jenis sayuran antara lain cabai, timun, pare, daun bawang, kacang panjang, aneka sayuran daun sudah umum dibudidayakan oleh petani didaerah tersebut.  Sumber air yang tersedia dari irigasi teknis mendorong petani untuk menanam sayuran terus menerus dengan bervariasi jenis tanaman.Salah satu petani sayuran adalah Pak Budi, ketua Kelompok  Tani Mandiri di Desa Humboto, Kecamatan Uepai,  Kabupaten Konawe. Berawal dari pemikirannya ingin meningkatkan kesejahteraan orang tuanya serta keluarga membuat pak Budi menekuni budidaya sayuran.  Sedikit demi sedikit keberhasilannya dalam bertani sayuran mulai dirasakan serta dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya.  Pada awalnya dalam pengelolaan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), Budi mengandalkan penggunaan pestisida.  Namun sejak 5 tahun yang l

Selanjutnya
Ditjen Hortikultura Ajak Petani Terapkan Budidaya Ramah Lingkungan 97 Pembaca
29-01-2020

Tidaklah sulit menemukan pertanaman sayuran di Kecamatan Uepai, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara.  Beberapa jenis sayuran antara lain cabai, timun, pare, daun bawang, kacang panjang, aneka sayuran daun sudah umum dibudidayakan oleh petani didaerah tersebut.  Sumber air yang tersedia dari irigasi teknis mendorong petani untuk menanam sayuran terus menerus dengan bervariasi jenis tanaman. Salah satu petani sayuran adalah Pak Budi, ketua Kelompok  Tani Mandiri di Desa Humboto, Kecamatan Uepai,  Kabupaten Konawe. Berawal dari pemikirannya ingin meningkatkan kesejahteraan

Selanjutnya
Organik Perkotaan, Harapan Baru Petani Kota Ternate 180 Pembaca
29-01-2020

Budidaya organik perkotaan menjadi harapan baru bagi petani hortikultura di Kota Ternate.  Dengan sumberdaya alam yangberlimpah petani Kota Ternate semakin bersemangat untuk melestarikan lingkungan dengan budidaya organic perkotaan. Materi abu vulkanik Gunung Gamalama, gunung merapi aktif di pulau Ternate, membawa keberkahan luar biasa bagi petani di Kota Ternate.  Gunung ini telah lebih dari 60 kali meletus dan letusan terakhir terjadi pada Oktober 2018 lalu. Gunung api dengan ketinggian 1.715 mdpl tersebut meletus, dengan menyemburkan materi dan abu vulkanik yang kini dimanfaatkan oleh petani Kota Ternate untuk mengelola kebun organiknya.  Adalah Kelompok Tani (Keltan) Bina Karya, yang diketuai Rahmat Toniku, kini tinggal di Kelurahan Takome, Ternate Barat merupakan salah satu petani yang telah kurang lebih 2 tahun mengelola kebun organikknya dengan menanam kubis, terong, selada, cabe dan sayuran daun lainnya.  

Selanjutnya