ARTIKEL
Tata Kelola Dampak Perubahan Iklim untuk Pengembangan Hortikultura 208 Pembaca
08-08-2021

Terjadinya dampak perubahan iklim (global warming) di Indonesia tidak menyurutkan langkah Kementerian Pertanian untuk mendorong pertumbuhan sektor pertanian. Kurang lebih terdapat 267 juta penduduk Indonesia yang membutuhkan pangan setiap harinya, termasuk sayur dan buah. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menginstruksikan jajarannya untuk terus memberikan pendampingan kepada para petani dan petugas lapang. Kendati masih dalam nuasa PPKM, informasi iklim dalam penerapan budidaya hortikultura perlu terus dijalankan.   Menindaklanjuti arahan tersebut, Direktorat Jenderal Hortikultura melakukan bimbingan teknis bertemakan Penerapan Informasi Iklim untuk Mendorong Budidaya Hortikultura secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting dan YouTube.   Dalam sambutannya, Direktur Jenderal Hortikultura

Selanjutnya
Terapkan Budidaya Hortikultura Ramah Lingkungan Bantul Siap Antisipasi Dampak Pemanasan Global 185 Pembaca
06-05-2021

Bantul, Hortiindonesia.comSalah satu strategi Kementan menggenjot produksi komoditas hortikultura yang sehat dan berdaya saing adalah implementasi program Gerakan Mendorong Produksi, Daya Saing dan Ramah Lingkungan Hortikultura (Gedor Horti). Salah satunya dengan melakukan langkah-langkah  tepat mengantasipasi dampak perubahan iklim. Pendekatan adaptasi dan mitigasi dampak perubahan iklim, pengukuran konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) berupa pengukuran nitrogen oksida (N20) dan Carbon dioksida (CO2) dilakukan pada tanaman bawang merah di Kampung Sayuran Hortikultura.Di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul - Yogyakarta terdapat kurang lebih 140 hektare lahan bawang merah dengan potensi wilayah mencapai 600 hektare.  Kampung sayuran ini disinyalir sudah melakukan penerapan budidaya kawasan ramah lingkungan yang ditandai dengan penerapan dan pemanfaatan embung dan penggunaan teknologi hemat air berupa irigasi sprinkle.

Selanjutnya
Mengenal AWS Telemetri untuk Database Iklim Hortikultura 168 Pembaca
01-02-2020

PendahuluanDampak perubahan iklim (DPI)  dengan curah hujan ekstrim basah atau ekstrim rendah, kerap menimbulkan bencana banjir dan kekeringan serta serangan OPT pada tanaman hortikultura, sehingga mengancam kelangsungan produksi hortikultura dan kerugian bagi petani. Curah hujan tinggi dihampir sepanjang Tahun 2010 menyebabkan rendahnya produktivitas hortikultura hingga 15 – 30 %, akibatnya ekspor buah manggis dari NTB ke Negeri Cina tertunda dari harga cabai merah di pasaran melonjak tinggi hingga mencapai Rp 100 ribu/kg. Kejadian curah hujan ekstrim secara langsung mengganggu pertumbuhan tanaman dan secara tidak langsung menciptakan kelembaban yang disenangi organisme pengganggu tumbuhan (OPT) tertentu sehingga memicu terjadinya serangan penyakit dari golongan cendawan, dimana kombinasi kedua penyebab tersebut telah menimbulkan kerugian besar bagi petani hortikultura.Namun sayang untuk mengetahui kehilangan hasi

Selanjutnya
Model Adaptasi dan Mitigasi DPI Dampak Perubahan iklim Dimusim Kemarau Pada 222 Pembaca
01-02-2020

PENDAHULUANPemanasan global menyebabkan peningkatan intensitas kejadian iklim ekstrim (El-Nino dan La-Nina) dan terjadinya perubahan iklim, dimana kondisi beberapa unsur iklim cenderung berubah atau menyimpang dari dinamika dan kondisi rata-rata menuju ke arah tertentu. Perubahan iklim terjadi karena proses alam dan/atau akibat kegiatan manusia secara terus menerus yang mengubah komposisi atmosfir dan tata guna lahan yang menyebabkan terjadinya pemanasan global. Perubahan iklim telah terjadi dan dindikasikan akan terus terjadi apabila tidak dilakukan upaya mitigasi dan adaptasi.. Kejadian iklim ekstrim makin kerap terjadi seperti fenomena banjir dan kekeringan, perubahan pola curah hujan, serta fluktuasi suhu dan kelembaban udara, yang secara langsung atau tidak langsung telah membawa kerugian pada sektor pertanian termasuk hortikultura, terutama tanaman semusim yang sangat rentan, yang dapat berujung pada gagal panen dan ber

Selanjutnya
Dampak Banjir di Brebes bulan Februari 2018 136 Pembaca
01-02-2020

Brebes (6/2) – Banjir yang melanda pada bulan Februari 2018 berdampak mendalam pada petani bawang merah di Brebes. Lima kecamatan dikepung genangan air yang bersumber dari beberapa aliran sungai sejak 12 Februari 2018 lalu. Berdasarkan keterangan beberapa petani di lokasi menyebutkan, dampak genangan air menyebabkan puso bawang merah seluas 270 ha di Kecamatan Wanasari, 175 ha di Kecamatan Jatibarang, 175 ha di Kecamatan Jatibarang, 40 ha di Kecamatan Brebes, 210 ha di Kecamatan Songgom dan 210 ha di Kecamatan Losari.Banjir di Kecamatan Wanasari terjadi selama 3 hari sejak  12 Februari 2018 akibat jebolnya tanggul Sungai Pemali di Desa Glonggong dan Dukuh Cecek – Jagalampeni. Tanaman yang mengalami puso meliputi Desa Jagalempeni, Glonggong, Cisalam, Lengkong, Sidamulya, Wanasari, Siasem, Pebatang dan Pesantunan.“Ada yang baru tanam kemarin lalu (terkena) banjir. Ada yang sudah 30 hari. Kalau saya ngitungnya semua bawang

Selanjutnya
Pompa Air, Sarana Penanganan Kekeringan dan Banjir Petani Sayuran Kab Banyu 132 Pembaca
31-01-2020

Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian RI No : 45/Kpts/PD.200/1/2015 telah menetapkan kawasan tanaman hortikultura di Sumatera Selatan, diantaranya Kabupaten Banyuasin untuk kawasan cabai dan bawang merah.  Karakteristik lahan pertanaman sayuran kabupaten Banyuasin provinsi Sumatera Selatan adalah lahan rawa lebak. Lahan rawa lebak termasuk dalam lahan potensial dan prospektif untuk pengembangan produk pertanian di masa depan.Kecamatan Banyuasin I merupakan sentra hortikultura antara lain cabai lokal/cabai banyuasin dan sayuran daun (sawi hijau, pokcoy, terong, kacang panjang). Keunggulan cabai lokal Banyuasin adalah ketahanannya terhadap serangan penyakit antraknosa.  Memasuki musim kemarau bulan Juli dan Agustus 2019 harga cabai di produsen / petani berkisar antara Rp. 50.000 – Rp. 60.000 per kg, hal ini karena   ketersediaan air   di musim kemarau terbatas dan banyak lahan yg tdk ditanami cabai.   P

Selanjutnya
Hadapi Kekeringan, Petani Muda Jambi Manfaatkan Limbah Sawit 215 Pembaca
28-01-2020

Musim kemarau yang belum berakhir dan ketersediaan air yang minim menjadi kendala bagi petani hortikultura. Tanah yang kering membutuhkan frekuensi penyiraman yang lebih sering agar tanaman tidak mati. Salah satu petani di Kecamatan Sungai Gelam-Jambi, Forastera Simbolon, memanfaatkan jangkos atau janjangan kosong sawit sebagai pupuk dasar di lahan yang dikelolanya. Jangkos adalah limbah yang dihasilkan dari peng

Selanjutnya
Ditjen Hortikultura Siapkan Pompa Air Bagi Petani Didaerah Terkena Dampak K 156 Pembaca
28-01-2020

Sebagian besar masyarakat Kalimantan Selatan menjadikan pertanian sebagai sumber penghidupan utama sebagai petani. Komoditas hortikultura khususnya sayuran dan buah-buahan memegang bagian terpenting dari keseimbangan pangan, sehingga harus tersedia setiap saat dalam jumlah yang cukup, mutu yang baik, aman konsumsi, harga yang terjangkau, serta dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Pada umumnya petani menanam berbagai jenis sayuran diantaranya ; cabai besar, cabai rawit, sawi, kacang panjang, mentimun, pare, kemangi, tomat, gambas di lahan dekat pemukiman dengan luasan sempit.Budidaya pertanian di Kalimantan yang banyak merupakan lahan lebak dihadapkan dengan dua kendala utama akibat Dampak Perubahan Iklim (DPI), yakni kebanjiran pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau, sehingga waktu panen sulit diperkirakan. Teknologi budidaya tanaman sayuran yang dilakukan oleh petani masih sederhana dengan pengetahuan lokal sehingga produktiv

Selanjutnya