ARTIKEL
Sekola Lapang Iklim Hortikultura Antisipasi terhadap Perubahan Iklim 170 Pembaca
01-02-2020

Sub Direktorat Dampak Perubahan Iklim dan Persyaratan TeknisPerubahan iklim pada sub sektor hortikultura sudah terjadi dan makin meningkat dampak kejadiaanya pada tahun mendatang seperti bencana alam banjir, kekeringan dan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Meningkatnya dampak perubahan iklim (DPI) diprakirakan juga akan menimbulkan kerusakan dan kerugian makin besar pada tanaman hortikultura. Hal ini akan terjadi apabila upaya antisipasi terhadap DPI pada tanaman hortikultura kurang mendapat perhatian dan perencanaan yang baik  serta berkelanjutan.Pengalaman Tahun 2010 misalnya, DPI terhadap hortikultura, yaitu terjadinya curah hujan tinggi hampir sepanjang tahun menyebabkan produktivitas turun antara 35 – 75 persen, sehingga buah-buahan yang pada kondisi iklim normal mudah diperoleh, saat itu  menjadi sulit ditemukan di pedagang dan  pasar buah. Bahkan cabai akibat kelangkaan harganya melonja

Selanjutnya
Mengenal AWS Telemetri untuk Database Iklim Hortikultura 215 Pembaca
01-02-2020

PendahuluanDampak perubahan iklim (DPI)  dengan curah hujan ekstrim basah atau ekstrim rendah, kerap menimbulkan bencana banjir dan kekeringan serta serangan OPT pada tanaman hortikultura, sehingga mengancam kelangsungan produksi hortikultura dan kerugian bagi petani. Curah hujan tinggi dihampir sepanjang Tahun 2010 menyebabkan rendahnya produktivitas hortikultura hingga 15 – 30 %, akibatnya ekspor buah manggis dari NTB ke Negeri Cina tertunda dari harga cabai merah di pasaran melonjak tinggi hingga mencapai Rp 100 ribu/kg. Kejadian curah hujan ekstrim secara langsung mengganggu pertumbuhan tanaman dan secara tidak langsung menciptakan kelembaban yang disenangi organisme pengganggu tumbuhan (OPT) tertentu sehingga memicu terjadinya serangan penyakit dari golongan cendawan, dimana kombinasi kedua penyebab tersebut telah menimbulkan kerugian besar bagi petani hortikultura.Namun sayang untuk mengetahui kehilangan hasi

Selanjutnya
Waspada Serangan OPT Hortikultura pada Musim Kemarau 2012 131 Pembaca
01-02-2020

PendahuluanDampak Perubahan iklim (DPI) pada tanaman hortikultura tidak hanya menyebabkan banjir  pada musim hujan (MH) dan kekeringan pada musim kemarau (MK) melainkan perubahan musim tersebut juga memicu meningkatnya serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT)  pada tanaman hortikultura, sehingga produksi dan mutu hasil rendah dan menimbulkan kerugian bagi petani. Untuk mengurangi DPI pada tanaman hortikultura diperlukan upaya antisipasi untuk penerapan langkah adaptasi, diantaranya  melalui  pemanfaatan informasi iklim yang tersedia, mengolah dan analisis data iklim, serta melaksanakan waktu dan pola tanam di kawasan hortikultura sesuai musim.Menurut Prakiraan Musim Kemarau 2012 yang disampaikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), bahwa Awal Musim Kemarau (MK) 2012 di 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia diprakirakan umumnya terjadi pada bulan Mei 2012 sebanyak 126 ZOM (36,8%) dan Jun

Selanjutnya
Mulsa pada Tanaman Semangka Tanpa Biji (Citrullus vulgaris) 915 Pembaca
01-02-2020

Tanaman semangka (Citrullus vulgaris L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura dari famili Cucurbitaceae (labu-labuan) yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi, terutama jenis semangka tanpa biji. Untuk itu, budidaya semangka tanpa biji dapat dijadikan salah satu alternatif sumber pendapatan di samping tanaman hortikultura lainnya. Budidaya tanaman semangka tanpa biji di Indonesia masih terbatas untuk memenuhi pasaran dalam  negeri. Padahal terbuka peluang yang sangat luas bahwa semangka dapat diekspor ke luar negeri, sebab kondisi alam Indonesia sesungguhnya lebih menguntungkan daripada kondisi alam negara produsen lain di pasaran Internasional. Permintaan pasar dunia akan semangka mencapai 169.746 ton. Sampai saat ini Indonesia mendapat peluang ekspor semangka cukup besar yaitu 1.000 ton per tahun (Ashari, 1995).

Selanjutnya
Pemetaan Wilayah 332 Pembaca
01-02-2020

emetaan wilayah bertujuan untuk menentukan rupa wilayah yang akan digunakan dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan. Penentuan wilayah meliputi luas areal inti dan penyangga, mengetahui ekosistem (keragaman tanaman dan biota). Pembuatan peta didahului dengan survey ke wilayah pemetaan. Hasil pemetaan berupa peta transek yang merupakan sketsa mencakup identifikasi wilayah dan tata letak tanaman sasaran dan tanaman lainnya. Sebelum melakukan pemetaan area ditentukan dulu area mana yang akan dijadikan tempat (site) perlakuan dengan beberapa pertimbangan, diantaranya: rupa bumi, vegetasi, kepemilikan lahan, petani/ kelompok tani dan faktor lain yang dapat mendukung/menghambat pelaksanaan kegiatan.Alat yang harus dipersiapkan dalam melakukan pemetaan ialah Peta Wilayah (peta desa, peta kecamatan, peta kabupaten), Global Positioning System (GPS), alat tulis dan Komputer.Langkah-langkah melakukan Pemetaan:a. Transek.

Selanjutnya
Perbanyakan Benih Pisang Sehat 164 Pembaca
01-02-2020

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil buah tropis yang memiliki keanekaragaman dan keunggulan cita rasa bila dibandingkan dengan buah-buahan dari negara-negara penghasil buah tropis lainnya. Produksi buah tropika nusantara terus mengalami peningkatan, pada tahun 2005 produksinya sebesar 14.786.599 ton dan pada tahun 2009 produksi buah mencapai 18.653.900 ton.  Dari total produksi tersebut, pisang menduduki produksi peringkat pertama diikuti mangga dan jeruk. Produksi pisang pada tahun 2009 sebesar 6.373.533 ton atau berkontribusi  sebesar 34 persen terhadap produksi buah nasional. Total areal pertanaman pisang adalah yang paling luas dan tertinggi produksinya dibandingkan dengan areal tanam dan produksi komoditas buah lainnya.Sumbangan produksi buah pisang di Indonesia masih mendominasi produksi buah nasional meskipun dari tahun ke tahun ada kecenderungan prosentasenya menurun, bahkan Pisang juga merupakan unggulan ekspor utama

Selanjutnya
Memasyarakatkan Pengembangan Pestisida Nabati Sebagai Alternatif Pengendali 323 Pembaca
01-02-2020

Dalam pengendalian biologi, penelitian dan kajian mengenai agens hayati (virus, bakteri, cendawan dan serangga) dan biopestisida telah banyak dilakukan. Namun demikian, agens hayati dan biopestisida sebagai salah satu alternatif sarana pengendalian OPT pada tanaman hortikultura masih dirasakan kurang/belum secara optimal dalam penerapannya. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan petugas perlindungan dan petani dalam usaha  pengembangan dan pemanfaatannya, serta kurangnya sarana prasarana untuk eksplorasi, identifikasi, maupun pengawasan mutu agens hayati.Pengendalian biologi lebih menekankan pada usaha perlindungan tanaman yang memanfaatkan musuh alami daripada penggunaan pestisida. Penggunaan pestisida secara berlebihan dan tidak bijaksana dapat mendorong terjadinya resistensi, resurjensi, serangga hama sasaran, terbunuhnya musuh alami dan residu pestisida yang mungkin melebihi batas maksimum yang ditetapkan, se

Selanjutnya
Aplikasi Pestisida Sintetik pada Tanaman Melati 674 Pembaca
01-02-2020

Melati merupakan tanaman florikultura berupa perdu berbatang tegak yang hidup menahun. Di Indonesia, salah satu jenis melati dijadikan sebagai simbol nasional yaitu melati putih (Jasminum sambac) karena bunganya dikaitkan dengan berbagai tradisi dari banyak suku di negara ini. Jenis lain yang juga populer adalah gambir (Jasminum. officinale).Di Indonesia nama melati dikenal oleh masyarakat di seluruh wilayah Nusantara. Di Italia, Bunga Melati Casablanca (Jasminum Officinalle), yang disebut juga Spanish Jasmine ditanam tahun 1692 untuk dijadikan parfum. Tahun 1665 di Inggris dibudidayakan melati putih (Jasminum sambac) yang diperkenalkan oleh Duke Casimo de Medici. Dalam tahun 1919 ditemukan melati Jasminum  parker di kawasan India Barat Laut, Kemudian dibudidayakan di Inggris pada tahun 1923.Secara umum, bunga melati bermanfaat sebagai bunga tabur, bahan industri minyak wangi, kosmetika, parfum, farmasi, penghias rangkaian bunga dan baha

Selanjutnya
Kementan Dukung Nusa Tenggara Timur Terapkan Hortikultura Ramah Lingkungan 515 Pembaca
01-02-2020

Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dikenal sebagai daerah kering, ternyata mempunyai potensi pengembangan hortikultura yang cukup besar. Saat ini dimana sebagian besar wilayah di Indonesia mengalami kekeringan, beberapa lokasi di NTT masih menikmati kecukupan air untuk bertani. Di wilayah dataran tinggi kabupaten Ende, Manggarai, Manggarai Barat, Timor Tengah Selatan, petani sayuran masih menanam tanaman hortikultura dengan ketersediaan air yang cukup.Saat kunjungan kerja ke Propinsi NTT, Direktur Perlindungan Hortikultura, Kementerian Pertanian, Sri Wijayanti Yusuf, mengatakan bahwa NTT menyimpan banyak potensi pengembangan hortikultura. Wilayah ini mempunyai iklim yang unik, dimana pada musim kemarau seperti ini, NTT mendapat udara dingin, dampak musim dingin dari Australia  Dengan keunikan ini, serta ketersediaan air yang memadai, tanaman hortikultura dapat tumbuh secara optimal, seperti bawang putih, bawang merah, jeruk dan buah lainn

Selanjutnya
Merintis Produk Sayuran Organik Disulawesi Selatan 186 Pembaca
01-02-2020

 Dengan semakin menguatnya pola hidup sehat dengan pangan sehat, dproduk pangan organik, khususnya produk pangan segar semakin banyak dicari oleh konsumen.  Peluang ini merupakan tantangan bagi para petani organik yang sudah banyak dijumpai di banyak wilayah, dengan mengembangkan usaha tani organiknya dengan penambahan luas kebun dan ragam komoditasnya. Sulawesi Selatan merupakan salah satu propinsi yang sedang grncar gencarnya menggalakan pengembangan hortikultura organik khususnya sayuran di Sulawesi Selatan.  Sebagai dentuk dukungan, pemerintah melalui Kementerian Pertanian  telah mengalokasika

Selanjutnya