AKAR GADA

Akar Bengkak, Akar Gada (Club Root) (Plasmodiophora brassicae Wor.)

901111-12_02022020_1580626457_t2

Nama umum : Plasmodiophora brassicae
Woronin (1877)
Klasifikasi :
- Kingdom : Protozoa
- Filum : Plasmodiophoromycota
- Ordo : Plasmodiophorales
- Famili : Plasmodiophoraceae
Sumber gambar : CABI

Morfologi dan daur penyakit

P. brassicae termasuk cendawan tingkat rendah dari kelas Plasmodiophoramycetes. Fase aseksual kelas ini ialah Plasmodium yang berkembang di dalam sel-sel inangnya. Bentuk site umumnya bulat atau agak lonjong berukuran (1,6 x 4,3) - (4,6 x 6,0) mikron, berduri atau berambut pendek. Site-sitenya terlepas antara satu dengan lainnya. Sporangium berdiameter 6,0 - 6,5 mikron. Zoospora berdiameter 1,9 - 3,1 mikron dan mempunyai 2 flagela.
Faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan P. brassicae antara lain kelembaban tanah, suhu, intensitas cahaya, dan kemasaman tanah.
Kelembaban tanah yang tinggi sangat cocok untuk perkecambahan spora istirahat kemudian menginfeksi inangnya. Keadaan tanah yang kering menyebabkan patogen membentuk spora istirahat. Spora istirahat tersebut dapat bertahan dalam tanah lebih dari 10 tahun.
Suhu optimum untuk mengadakan infeksi dan perkembangan gejala adalah 20 – 25 oC. Tanaman kubis lebih tahan terhadap infeksi P. brassicae pada lingkungan yang mempunyai intensitas cahaya rendah. Perkembangan P. brassicae sangat baik pada kondisi tanah masam sedangkan pada tanah alkalin (+ pH 8) perkembangannya terhambat.
Penyebaran inokulum P. brassicae dapat terjadi melalui alat-alat pertanian, angin atau air, pupuk kandang yang terkontaminasi karena ternaknya memakan bagian tanaman kubis-kubisan yang terinfeksi patogen tersebut.
Di Indonesia penyakit ini dilaporkan terdapat di Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan dan Irian Jaya.

Gejala serangan

Gejala serangan P. brassicae tampak jelas pada keadaan cuaca panas atau siang hari yang terik. Daun berwarna hijau-biru dan layu seperti kekurangan air, pada malam hari atau pagi hari akan segar kembali. Pertumbuhan tanaman menjadi terhambat hingga kerdil dan tanaman kubis tidak dapat membentuk krop yang akhirnya mati. Kalau tanaman dicabut, akarnya tampak membengkak seperti berumbi.
P. brassicae menginfeksi tanaman kubis sejak awal pra pembentukan krop (0 - 49 hst). Infeksi patogen akan meningkat pada kondisi tanah yang masam. Penelitian di rumah kaca gejala bengkak pada akar sudah terlihat 10 hari setelah inokulasi.
Tanaman inang lain
Jenis kubis-kubisan. Tanaman inang lain yang bukan jenis kubis-kubisan antara lain Lolium perenne, Agrotis alb-stolonifer, Dactalis glomerata dan Trifolium pratense.

Cara pengendalian

Pengendalian secara bercocok tanam antara lain meliputi pola tanam, waktu tanaman, penggunaan bibit sehat, pengelolaan air.
Pengapuran tanah pada lahan dengan keasaman (pH) < 5,5 dengan kapur pertanian (Kaptan) atau Dolomit di lahan yang akan ditanami kubis sebanyak 2 – 4 ton/ha yang dilakukan 15 hari sebelum tanam
Perlakuan benih kubis dengan ekstrak umbi bawang selama 2 jam atau dapat juga dengan menggunakan fungisida yang dianjurkan.
Tanah persemaian dan pupuk kandang harus bebas pathogen.
Penyiraman tanaman di persemaian dengan air bersih
Eradikasi selektif terhadap tanaman terserang kemudian memusnahkannya.
Penggunaan mulsa daun jagung setebal 3 – 5 cm pada musim kemarau

 

Jenis OPT Sayur - Kubis