LALAT BUAH

Lalat Buah (Bactrocera sp.)
(Ordo : Diptera, Famili : Tephritidae)

901111-12_040320201583336413_new21

Morfologi /Bioekologi

Serangga dewasa tergolong gesit mirip lalat rumah, banyak ditemukan pada siang atau sore hari terbang di sela-sela tanaman. Imago berukuran panjang sekitar 6 – 8 mm dan lebar 3 mm. Torak berwarna oranye, merah kecoklatan, coklat atau hitam. Pada lalat betina ujung abdomen lebih runcing dan mempunyai alat peletak telur (ovipositor) yang cukup kuat untuk menembus kulit buah, sedangkan pada lalat jantan abdomen lebih bulat. (Gambar 10.). Siklus hidup di daerah tropis ± 25 hari. Serangga betina dapat meletakkan telur 1 – 40 butir /buah/hari, dan betina dapat menghasilkan telur 1200 – 1500 butir.
Telur berwarna putih bening sampai kuning krem, dan berubah menjadi lebih tua mendekati saat menetas. Berbentuk bulat panjang seperti pisang dengan ujung meruncing, berukuran panjang 1,2 mm, lebar 0,2 mm, berkelompok 2 – 15 butir di bawah kulit buah . Stadium telur 2 hari.
Larva terdiri dari 3 instar berbentuk belatung/bulat panjang dengan salah satu ujungnya (kepala) runcing dengan 2 bintik hitam yang jelas merupakan alat kait mulut, mempunyai 3 ruas torak, 8 ruas abdomen, berwarna putih kekuning-kuningan dengan panjang sekitar 10 mm. Larva menetas di dalam buah tomat. Larva instar 3 mempunyai kemampuan meloncat dan melenting keluar dari dalam buah dan menjatuhkan diri ke tanah, membentuk puparium dari kulit larva terakhirnya dan menjadi pupa di dalam tanah. Stadium larva 6 – 9 hari.
Pupa (kepompong) lalat buah berwarna coklat, berbentuk oval dengan panjang sekitar 5 mm. Pupa berumur sekitar 10 hari, dan menjadi serangga dewasa.
Hama ini tersebar di Asia, Pasifik, Afrika umumnya di daerah tropis dan subtropis. Penyebaran lalat buah di Indonesia hampir di seluruh propinsi.

Gejala Serangan

Buah yang terserang ditandai oleh lubang titik coklat kehitaman pada bagian pangkalnya, tempat serangga dewasa memasukkan telur. Umumnya telur diletakkan pada buah yang agak tersembunyi dan tidak terkena sinar matahari langsung, pada buah yang agak lunak dengan permukaan agak kasar. Larva membuat saluran di dalam buah dengan memakan daging buah serta menghisap cairan buah dan dapat menyebabkan terjadi infeksi oleh OPT lain, buah menjadi busuk dan jatuh ke tanah sebelum larva berubah menjadi pupa.
Tanaman Inang
Selain tomat, tanaman sayuran lainnya yaitu ketimun, cabai, gambas, paria, dan buah-buahan seperti jambu air, jambu biji, belimbing, mangga, nangka, jeruk, melon.

Pengendalian

a). Kultur teknis

Pencacahan (pembongkaran) tanah sekitar tanaman agar kepompong yang berada di dalam tanah terkena sinar matahari, terganggu hidupnya dan akhirnya mati,
Sanitasi buah yang terserang baik yang gugur maupun yang masih berada di pohon, dikumpulkan dan dimusnahkan dengan cara dibakar atau dibenamkan dalam tanah.

b). Pengendalian fisik / mekanis

Penggunaan perangkap dengan atraktan Metil Eugenol (ME) atau minyak Melaleuca brachteata (MMB) dengan dosis 1 ml / perangkap sebanyak 40 buah per hektar atau 2 buah per 500 m2 yang dipasang di tengah pertanaman sejak tanaman berumur 2 minggu. Setiap 2 minggu atraktan diganti.

c). Pengendalian hayati

Pemanfaatan musuh alami parasitoid famili Braconidae (Biosteres sp., Opius sp.), predator famili Formicidae (semut), Arachnidae (laba-laba), Staphylinidae (kumbang), Dermaptera (cecopet).
d). Pengendalian kimiawi
Jika cara lain tidak dapat menekan populasi hama, dapat digunakan insektisida yang terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian