Di Balik Kelambu PDF Print E-mail
Berita - Terkini
Written by ndik   
Monday, 13 August 2018 03:52
2018-08-13/10:53:35
 
Probolinggo: ”Rahasia di Balik Kelambu”
 
 
Untuk menuju swasembada pangan dan ekspor, pembangunan sektor pertanian saat ini mengacu pada peningkatan produksi yang berdaya saing dan aman konsumsi. Produksi bawang merah merupakan salah satu komoditi yang dipacu pengembangannya di seluruh wilayah Indonesia khususnya daerah sentra produksi. Hal tersebut diupayakan untuk pemerataan produksi di seluruh daerah serta stabilisasi harga pasar.
 
Kabupaten Probolinggo, merupakan salah satu daerah sentra produksi bawang merah dan sebagai salah satu sumber pasokan bawang merah di wilayah Provinsi Jawa Timur serta daerah lainnya, selain Kabupaten Naganjuk dan Malang. Peningkatan produksi bawang merah dilakukan dengan berbagai upaya terutama melakukan pengembangan areal pertanaman serta peningkatan Indeks Pertanaman (IP). Di beberapa lokasi pertanaman pengembagan dapat dilakukan sampai 4 kali pertanaman dalam setahun yang didukung oleh sumberdaya yang ada khususnya ketersediaan air. Juga dengan aplikasi berbagai macam bahan input yang digunakan dalam proses budidaya seperti pupuk dan pestisida sintetis yang dapat diperoleh dengan mudah. Namun, tanpa disadari, penggunaan berbagai bahan input budidaya tersebut dapat menimbulkan berbagai dampak negatif baik terhadap pelaku budidaya, konsumen dan terhadap lingkungan (kerusakan lahan, pencemaran akibat residu, kesehatan hewan dan manusia serta matinya berbagai organisme yang bermanfaat bagi lingkungan), serta masalah serangan OPT, khususnya hama.
 
 
Salah satu dampak dari peningkatan IP sampai apalagi sampai 4 kali pada tanaman bawang merah yaitu terjadinya serangan ulat daun bawang  yang merupakan OPT utama seperti  Spodoptera litura dan Spodoptera exigua, sehingga serangan ulat daun bawang tersebut  terjadi hampir disetiap musim tanam. Hal tersebut disebabkan karena siklus hidupnya tidak pernah terputus akibat ketersediaan makanan sepanjang tahun. Juga didukung oleh prilaku perkembangan ulat daung bawang tersebut. Hal lain yang dapat memicu yaitu akibat penggunaan insektisida yang tidak bijaksana sehingga dapat menimbulkan resistensi (kekebalan) serta resurjensi (ledakan populasi). Bahkan, dapat menyebabkan terjadinya mutasi gen. Ulat daun bawang yang tadinya hanya dkenal 2 jenis yaitu Spodoptera litura dan Spodoptera exigua, telah ditemukan juga Spodoptera mauritia dan Spodoptera exempta.
 
Untuk mengurangi dan meminimalisir tingkat kerusakan dan kehilangan produksi bawang merah akibat adanya serangan ulat daun, perlu dilakukan upaya-upaya dengan penerapan teknologi pengendalian selain penggunaan pestisida, yatu teknologi pengendalian OPT yang ramah lingkungan seperti penggunaan perangkap likat, lampu perangkap dan feromon. Serta berbagai teknologi kearifan lokal yang biasa dilakukan oleh petani. 
 
Di Kabupaten Proboloinggo, salah satu cara yang dilakukan oleh petani untuk mengendalikan serangan ulat daun yaitu melakukan pemasangan “kelambu” pada areal pertanaman dengan menggunakan kain kasa dan tiang-tiang dari bambu. Penggunaan kelambu tersebut disamping mengurangi tingkat kerusakan serta penurunan produksi bawang merah akibat serangan ulat daun, juga dapat mengurangi penggunaan insektisidayang tentu saja akan berdampak terhadap biaya produksi, produk yang sehat dan aman konsumsi serta kelestarian lingkungan dapat terjaga. Informasi dari petugas dan petani bahwa sebelum penggunaan kelambu dilakukan penyemprotan insektisida minimal interval 2 hari bahkan ada yang melakukan penyemprotan setiap hari. Tetapi dengan penggunaan kelambu dengan kondisi yang baik, penyemprotan hanya dilakukan dengan melihat serangan ulat daun bawang tersebut. Penggunaan kelambu pada pertanaman bawang merah, awalnya hanya dilakukan oleh perseorangan atas ide dan inisiatif sendiri. Dengan melihat hasil produksi serta keuntungan yang diperoleh dengan penggunaan kelambu tersebut lebih baik sehingga penerapan teknologi penggunaan kelambu juga dilakukan oleh petani bawang merah lainnya di sekitarnya. Bahkan saat ini penggunaan kelambu tersebut dapat dijadikan sebagai usaha jasa yang dilakukan dengan sistem sewa dengan biaya ±10 juta rupiah per 0,3 ha Dengan biaya sebesar ini masih dapat memberikan keuntungan yang cukup karena disamping penggunaan input berkurang khususnya insektisida, juga kelambu tersebut dapat digunakan sampai 4 kali tanam. 
 
 
 
Penerapan teknologi penggunaan kelambu dalam pengendalian OPT khususnya ulat daun pada bawang merah disamping meminimalisir tingkat kerusakan produksi, aman konsumsi, biaya produksi menurun sehingga keuntungan lebih besar, juga dapat menjaga kelestarian lingkungan sesuai dengan kaidah Sistem PHT. Semoga teknologi ini dapat juga diterapkan pada sentra tanaman bawang merah lainnya sesuai dengan kondisi serta kebutuhannya, “Salam PHT”
 
 
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Monday, 13 August 2018 04:07 )
 
DIREKTORAT PERLINDUNGAN HORTIKULTURA
Jalan Aup Nomor 3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520 - Telepon (021) 7819117, Faximile (021) 78845628
Website : http://ditlin.hortikultura.deptan.go.id - E-mail: ditlinhort@deptan.go.id
Copyright © 2013 Direktorat Perlindungan Hortikultura Design by ndik ndikmulyadi@gmail.com