Supply Chain Manajement PDF Print E-mail
Berita - Berita Utama
Written by ndik   
Friday, 09 September 2016 01:01
SUPPLY CHAIN MANAGEMENT PRODUK HORTIKULTURA INDONESIA,
 TANTANGAN YANG HARUS DITUNTASKAN

Ditulis dan diolah dari berbagai sumber oleh : 
Andi Abdurahim, S.Si.
(POPT Ahli Pertama Direktorat Perlindungan Hortikultura)

Indonesia sebagai negara dengan wilayah yang luas dan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia memiliki tantangan dalam pengelolaan produk hortikultura, khususnya Supply Chain Management (Rantai Pasok). Berbagai jenis buah-buahan dengan beragam varietasnya, sayuran dan tanaman hias tersedia di negara kita. Sebut saja misalnya mangga Gedong Gincu. Seberapa banyak masyarakat mengenal mangga Gedong Gincu, dan seberapa banyak ketersediaannya di pasaran? Lalu bagaimana penentuan harga buah tersebut dari tingkat lapang (petani) hingga sampai ke tangan konsumen? Belum ada yang bisa menjawabnya. Itu baru satu jenis buah saja. Belum lagi bila kita bicara mengenai bawang merah dan cabai sebagai bahan kebutuhan pokok dalam negeri terutama saat menjelang Hari Raya (Idul Fitri) dan pergantian tahun. Kedua produk tadi senantiasa mewarnai masyarakat Indonesia dengan gejolak harga yang melambung tinggi.
 
Supply Chain Management (Rantai Pasok) untuk produk hortikultura di Indonesia masih mengalami pasang surut mulai dari tingkat lapang hingga ke tangan konsumen. Bilamana ketersediaan produk di tingkat lapang diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat luas maka kemungkinan produk tersebut dapat diterima oleh masyarakat secara mudah. Begitu pula sebaliknya. Adapun harga produk tersebut sangat tergantung dari pendek atau panjangnya rantai pasok. Contoh kasus terjadi pada buah mangga Gedong Gincu. Harga di tingkat lapang (petani) pada musim panen berkisar pada harga Rp 18.000,00 maka pada tingkat konsumen di Ibukota dan sekitarnya bisa mencapai kisaran harga Rp 30.000,00 – Rp 35.000,00.
 
Keinginan sebagian besar masyarakat Indonesia pada umumnya adalah mampu membeli produk hortikultura dengan harga yang terjangkau, meskipun sedikit mahal. Namun yang perlu dicermati dari Supply Chain Management produk hortikultura selain ketersediaan produk dan harga, juga berkaitan dengan kualitas produk. Kualitas produk yang diinginkan masyarakat antara lain kesegaran produk alias masih fresh, tidak mengadung bahan aktif berbahaya atau residu pestisida dan sejenisnya, bebas dari hama dan penyakit, tidak rusak, serta dapat dipakai dalam waktu yang lama atau long-periode. 
 
Disinilah peran Pemerintah dituntut dalam mengelola kebutuhan masyarakat terhadap produk hortikultura. Simpang siur mengenai ketersediaan dan harga dari salah satu produk hortikultura yang telah menjadi bahan kebutuhan pokok masyarakat, misalnya bawang merah dan cabai, hendaknya telah diantisipasi oleh Pemerintah, baik daerah maupun pusat, dengan mengelola sentra produksi serta memperbaik rantai pasoknya. Meskipun disadari atau tidak, mengelola kedua hal tersebut membutuhkan biaya dan tenaga yang tidak sedikit. Namun baik biaya maupun tenaga yang dikeluarkan untuk memperbaiki atau mengelolanya masih jauh lebih murah bila dibandingkan melaksanakan operasi pasar produk hortikultura yang terkesan mengambil jalan pintas dan agak memaksa.
 
Salah satu contoh berikut mungkin bisa dijadikan pelajaran. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Singgih & Woods (2001-2002) mengenai Rantai Pasok Pisang antara di Indonesia dan Australia terdapat perbedaan yang cukup mencolok. Salah satu perbedaan tersebut yakni pengaruh budaya setempat. Yang dimaksud budaya disini adalah konteks simbol, norma, interpretasi model dan nilai yang dikembangkan oleh setiap grup sosial. Nilai-nilai tersebut membentuk inti budaya dan mengacu pada sesuatu yang dianggap baik atau buruk, bersih atau kotor, normal atau abnormal, masuk akal atau tidak, rasional atau irasional, adil atau tidak dan sebagainya. Di Indonesia, ada dua metode penentuan harga di tingkat lapang (petani) yaitu (1) berdasarkan berat buah atau weight-based, dan (2) berdasarkan ketersediaan buah di pohon atau tree-based. Weight-based yakni bilamana petani secara langsung membawa buah dari kebun ke lokasi penimbangan atau pengepul lalu buah-buah tersebut ditimbang kemudian ditetapkan harganya sesuai kesepakatan. Tree-based yakni bilamana seorang atau sejumlah pedagang datang secara langsung ke kebun lalu memilih buah-buah yang diperkirakan mentah/matang diantara pohon-pohon yang diinginkan, lalu terjadilah tawar-menawar antara pedagang dan petani untuk menetapkan harganya. Untuk kasus buah pisang, tidak ada standar grade secara formal baik berat buah, kematangan, panjang buah, dan warna.
 
Di Indonesia, yang lebih dominan dalam menentukan harga buah tersebut adalah para pedagang/pembeli, bukan petani. Sebaliknya di Australia, yang menentukan harga adalah para petani, bukan pedagang/pembeli. Implikasi dari hasil penelitian tersebut adalah tingkat ketahanan para petani di Indonesia masih sangat tergantung terhadap keberadaan para pemilik modal, dalam hal ini adalah para pedagang/tengkulak. Oleh karena itu selain upaya memperbaiki budidaya di sentra produksi, juga harus turut mengelola rantai pasok dari tingkat lapang/hulu hingga hilir. Konsekuensinya adalah stabilisasi ketersediaan produk dan harga bahkan kualitas yang terjamin mulai dari tingkat lapang hingga ke konsumen. Berikut ini contoh aliran rantai pasok pisang yang ada di Indonesia sebagai hasil penelitian Singgih & Woods (2001-2002).


Lantas apa yang bisa disimpulkan dari penjelasan di atas? Bahwa supply chain atau aliran rantai pasok produk hortikultura di Indonesia memerlukan penanganan yang serius, bukan setahun atau dua tahun, melainkan sepanjang tahun. Penanganan supply chain melibatkan unsur terkait budidaya tanaman, perlindungan tanaman, pemasaran, hingga regulasi atau kebijakan pemerintah. Hasil yang diharapkan adalah perbaikan supply chain mulai dari tingkat lapang hingga konsumen akhir. Dengan demikian kita bisa menghemat tenaga, waktu dan biaya yang dikeluarkan dalam masa yang akan datang. Semoga.

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Wednesday, 21 March 2018 03:31 )