OPT Krisan PDF Print E-mail
Berita - Tulisan Ilmiah
Written by ditlinhorti   
Monday, 22 December 2014 08:19
PENGELOLAAN OPT TANAMAN KRISAN: KALAU BISA RAMAH LINGKUNGAN KENAPA HARUS PESTISIDA SINTETIS?
Oleh : Slamet Riyadi
POPT Ahli Muda Direktorat Perlindungan Hortikultura
 
 
 

Latar Belakang
Usahatani tanaman krisan sekarang ini semakin meningkat seiring dengan semakin meningkatnya permintaan pasar untuk berbagai keperluan, seperti upacara-upacara adat, dekorasi di kantor-kantor, hotel-hotel dan para hobiis, bahkan beberapa pengusaha tanaman krisan yang dikelola dengan baik dan memenuhi standar sudah menjadi komoditas ekspor dalam bentuk bunga potong.
 
Tanaman krisan atau biasa disebut bunga seruni dalam bahasa ilmiah dikenal denagn nama Dendranthema grandiflora Tzvelev Syn. Chrysanthemum morifolium Ramat), merupakan tanaman hias bunga yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan sangat prosfektif secara komersial, merupakan salah satu jenis tanaman hias yang banyak diminati masyarakat, baik dalam bentuk bunga pot maupun bunga potong Sentra produksi dan pengembangan bunga krisan antara lain yaitu: Kabupaten Bogor, Cianjur, Sukabumi, Bandung, Bandung Barat (Jawa Barat), Kabupaten Semarang, Wonosobo, Karanganyar (Jawa Tengah), Kabupaten Sleman (DI Yogyakarta), Kabupaten Malang, Pasuruan, Kota Batu (Jawa Timur), Brastagi (Sumut), NTB, Bali, Tomohon (Sulawesi Utara), Kabupaten Solok, Tanah Datar, Padang Panjang (Sumatera Barat), dan Kabupaten Pagar Alam (Sumatera Selatan).
Dalam usahatani tanaman krisan, Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) merupakan salah satu kendala yang dihadapi petani. Beberapa OPT utama tanaman krisan antara lain yaitu: Hama: Kutu Daun (Macrosiphoniella sanborni Gill), Pengorok Daun (Liriomyza spp.), Thrips (Thrips parvispinus Karny., T. palmi Karny dan T. tabaci  Lindeman), Penyakit Bercak Daun Septoria  (Septoria chrysanthemi  Allesch;   S. obesa Syd), Hawar Bakteri (Erwinia chrysanthemi (Burkh) Young), Karat (Puccinia chrysanthemi Roze L. Puccinia horiana Henn.), Layu Fusarium (Fusarium oxysporum f.sp.chrysanthemi Schlecht.ex.Fr), dan penyakit Tepung (Oidium chrysanthemi Rab.).
Pengendalian OPT mempunyai peranan penting dalam program peningkatan produksi pertanian, termasuk tanaman krisan. Banyak cara pengendalian OPT yang dapat diterapkan  tetapi tidak semua cara dapat dilaksanakan karena tergantung dari berbagai  faktor antara lain keadaan fase pertumbuhan  tanaman, OPT sasaran, ketersediaan sarana dan prasarana, faktor pengendalian ramah lingkungan, tenaga dan keadaan sosial ekonomi serta budaya petani. Oleh karena itu beberapa teknik pengendalian perlu dikaji efektivitas dan efisiensinya khususnya terhadap teknik pengendalian yang relatif baru.
Pengendalian OPT yang dilaksanakan pada sentra-sentra pertanaman krisan sebagai kawasan pengembangan, dimaksudkan untuk mensosialisasikan teknologi pengendalian OPT yang ramah lingkungan kepada petugas dan petani. Dengan adanya model pengendalian OPT pada tanaman krisan di daerah sentra pengembangan ini diharapkan dapat menjadi daerah percontohan  dalam menanggulangi OPT tanaman krisan dengan menerapkan teknik/cara pengendalian ramah lingkungan, sehingga dapat mengurangi tingkat serangan OPT, serta untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia sintetis yang selama ini diterapkan oleh petani. Untuk mencapai sasaran tersebut diperlukan operasional model pengendalian OPT pada tanaman krisan
Pada beberapa sentra produksi tanaman krisan, antara lain di Kabupaten Cianjur (Jawa Barat), Kabupaten Sleman (DIY), dan Kabupaten Batu (Jawa Timur), sudah dilaksanakan berbagai kegiatan seperti gerakan pengendalian, pelaksanaan model gerakan pengendalian dalam bentuk demplot, pembinaan-pembinaan dan dalam model SLPHT. Hal tersebut dimaksudkan untuk mensosialisasikan teknologi pengendalian OPT ramah lingkungan pada tanaman krisan, baik terhadap petugas maupun terhadap petani krisan sebagai pelaku usaha.
Dalam upaya pengendalian OPT,  sebagai salah satu faktor kendala dalam proses budidaya harus diupayakan dengan cara-cara yang bijaksana, dengan mempertimbangkan aspek ekonomi dan aspek ekologi, dengan penerapan sistem perlindungan yang ramah lingkungan. Salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan adalah pengurangan pemakaian input kimia, khususnya penggunaan pestisida kimia sintetis yang banyak digunakan oleh petani dan pelaku usahatani lainnya. Penggunaan pestisida kimia yang tidak bijaksana dan tidak rasional akan menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan dan produk hortikultura, yang juga akan berdampak terhadap konsumen akibat residu yang terkandung pada produk hortikultura.
Dalam upaya pengendalian OPT pada umumnya petani masih mengandalkan penggunaan pestisida kimia. Akibat dari penggunaan pestisida secara terus menerus dapat menimbulkan berbagai dampak pada lingkungan maupun kesehatan manusia. Di samping itu, dalam menghadapi perdagangan bebas menuntut untuk manghasilkan produk pertanian yang memenuhi berbagai persyaratan standar mutu dari negara-negara tujuan ekspor, terutama persyaratan SPS yaitu anatara lain bebas dari cemaran pestisida, OPT dan bahan kimia lainnya. Pengendalian OPT menggunakan pestisida masih secara luas dilakukan oleh masyarakat dalam sistem pertanian.
Sehubungan dengan hal tersebut, perlu diupayakan teknologi pengendalian OPT pada tanaman krisan yang ramah lingkungan. Informasi serta praktek teknologi pengendalian ramah lingkungan sudah banyak dihasilkan, misalnya penggunaan varietas tahan, secar fisik dan mekanis, penggunaan musuh alami, penggunaan agens hayati, serta penggunaan pestisida hayati dan pestisida nabati. Teknologi pengendalian OPT ramah lingkungan pada tanaman krisan belum banyak dilakukan oleh petani. Untuk itu perlu dilakukan sosialisasi, antara lain melalui kegiatan Model Gerakan Pengendalian




PENGELOLAAN OPT TANAMAN KRISAN SECARA RAMAH LINGKUNGAN
Sistem perlindungan tanaman merupakan bagian yang sangat penting dalam upaya menekan kehilangan hasil  produksi yang diakibatkan oleh  adanya serangan OPT. Keberhasilan dalam pelaksanaan pengendalian OPT sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain yaitu teknologi yang diterapkan. Selain akan berdampak terhadap produksi, juga akan berdampak terhadap petani pengelola serta lingkungan sekitar pertanaman, bahkan dapat berdampak terhadap masalah sosial. Akibat pengendalian OPT pada tanaman krisan dengan penggunaan pestisida sintetis, banyak menimbulkan dampak negatif terhadap produksi, petani maupun lingkungan di sekitar pertanaman.  Untuk mengurangi penggunaan pestisida sisntetis, perlu dilakukan sistem pengendalian yang ramah lingkungan, yang sesuai dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 Tentang Sistem Budidaya Tanaman, Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman, dan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura. Pengendalian OPT tanaman krisan sesuai dengan sistem PHT, dengan menerapkan prinsip-prinsip PHT. Pengelolaan OPT secara raramah lingkunga dapat dilakukan dengan penerapan beberapa komponen teknologi, antara lain yaitu:
Penerapan Sistem Budidaya Tanaman Sehat
Budidaya tanaman sehat dilakukan dengan penerapan Good Agriculture Practices (GAP). Budidaya tanaman sehat akan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan OPT. Dalam penerapan budidaya tanaman sehat pada tanaman krisan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Pemilihan lokasi: Pemilihan lokasi yang tepat dan sesuai, yaitu kesesuaian agroklimat, serta jauh dari tanaman yang terserang OPT
2. Pemilihan sumber benih yang sehat: Sumber benih  yang baik diambil dari tanaman induk yang sehat, berkualitas prima, daya tumbuh tanaman kuat, bebas dari OPT dan komersial di pasar. Penggunaan varietas tahan, misalnya untuk mengendalikan penyakit karat pada krisan dengan penggunaan varietas tahan,
- Misalnya perendaman atau pencelupan benih sebelum tanam ke dalam suspensi Pseudomonas fluorescens, untuk mencegah penyakit layu Fusarium sp., dan mengendalikan penyakit karat.
- menggunakan  larutan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizhobacteria) dengan cara penyiraman atau pencelupan benih ke dalam larutan
3. Pencelupan benih ke dalam larutan fungisida atau bakterisida sebelum tanam
4. Pemeliharaan tanaman  yang optimal
- Melakukan penyiraman, pemupukan, penyiangan serta pengendalian OPT yang tepat
- Pembuatan draenase dan pengaturan aerase yang baik untuk mengurangi genangan air dan perbaikan aliran udara
- Pengaturan jarak tanam/jarak media tanam untuk mengurangi kelembaban dan pengaturan penyinaran
- Pengaturan kondisi lingkungan perbenihan yang sesuai baik di dalam maupun di sekitar lokasi
5. Sanitasi lingkungan: sanitasi lingkungan di dalam dan di sekitar lokasi pertanaman untuk menghindari adanya sumber serangan dari inang lain dan tempat berkembangnya OPT
6. Penggunaan media tanam dan media tumbuh
- Penggunaan media tanam dan media tumbuh yang sesuai yang sudah diberi perlakuan, misalnya pemanasan atau perlakuan khusus untuk membebaskan media dari OPT, khususnya penyakit tular tanah.
- Penggunaan bahan organik untuk memperbaiki tekstur dan kimia tanah/media tanam
7. Pembuatan rumah lindung yang sesuai: untuk melindungi tanaman dari cekaman iklim yang tidak sesuai, serta adanya serangan hama
8. Sterilisasi peralatan
- Media tumbuh didesinfeksi dengan uap air panas agar tanaman bebas dari OPT yang dapat ditularkan melalui media tumbuh.
- Membersihkan dan sterilisasi peralatan, khususnya alat-alat potong dengan cara dicuci bersih kemudian  didesinfeksi dengan alkohol 70 % atau desinfektan lainnya.



Penerapan Sistem Pertanian Organik
Sistem pertanian organik adalah sistem manajemen produksi terpadu yang menghindari penggunaan pupuk buatan, pestisida sintetis, dan hasil rekayasa genetik, menekan pencemaran udara, tanah, dan air. Di sisi lain, pertanian organik meningkatkan kesehatan dan produktivitas di antara flora, fauna dan manusia.
Manfaat Sistem Pertanian Organik: Tanaman yang dihasilkan bebas dari residu atau sisa-sisa pestisida dan bahan kimia lainnya yang disebabkan oleh aktifitas pemupukan. Tanaman yang dihasilkan lebih sehat dan segar, Tanaman yang dibudidayakan secara ogannik ini mampu menjaga kelestarian dan keseimbangan alam.
Budidaya tanaman dengan sistem pertanian organik ini pada dasarnya adalah menghindari segala pemakaian bahan kimia terhadap tanah maupun tanaman. Penerapan dari sistem pertanian organik ini adalah penggunaan bahan alami untuk kesuburan tanah dan Tidak menggunakan bahan kimia dalam budidaya
Penerapan Sistem Pertanian Organik dapat Menghasilkan produk pertanian yang berkualitas tinggi, membudidayakan tanaman secara alami, mendorong dan meningkatkan siklus hidup biologi dalam ekosistem pertanian, memelihara dan meningkatkan kesuburan tanah dalam jangka panjang, menghindarkan seluruh bentuk cemaran akibat dari penerapan teknik pertanian, meningkatkan usaha konservasi tanah dan air serta mengurangi masalah erosi akibat pengolahan tanah yang intensif, serta dapat meningkatkan peluang pasar produk organik baik domestik maupun global.
Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan serta tidak merusak lingkungan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pertanian organik antara lain adalah: lahan harus bebas dari bahan kimia sintetis (pupuk dan pestisida), penggunaan pupuk organik  yang berasal dari bahan-bahan organik seperti pangkasan daun tanaman, kotoran ternak, sisa tanaman, dan sampah organik yang telah dikomposkan, benih tidak berasal dari produk hasil rekayasa genetika atau Genetically Modified Organism (GMO).  benih berasal dari kebun pertanian organik, pengendalian OPT dilakukan dengan cara fisik/mekanik dan pengendalian hayati, serta penanganan pasca panen sesuai dengan persyaratan pasca panen pertanian organik



Penerapan Sistem Pengendalian Hayati
Alternatif lain pengendalian OPT ramah lingkungan yang dapat diterapkan dalam pengendalian OPT tanaman krisan yaitu dengan cara pengendalian hayati.
1. Penggunaan Pestisida Nabati
Dalam upaya mengantisipasi permasalahan tersebut sudah saatnya perlu kita kembangkan penggunaan pestisida nabati yang merupakan  alternatif sebagai sarana pengendalian OPT yang selalu tersedia di alam, dapat dibuat sendiri serta relatif cukup aman bagi lingkungan.
Pestisida nabati merupakan produk alam yang berasal dari tumbuhan yang mengandung bioaktif seperti alkaloid senyawa skunder  yang jika diaplikasikan ke  ke jasad sasaran (hama) dapat mempengaruhi sistem syaraf, terganggunya reproduksi, keseimbangan hormon,prilaku berupa penarik/pemikat, penolak, mengurangi nafsu makan dan terganggunya sistem pernafasan.
Senyawa bioaktif dalam tumbuhan bahan pestisida nabati dapat dimanfaatkan sama seperti pestisida  sintetis. Bagian tumbuhan yang  bahan pestisida nabati bisa digunakan dalam bentuk utuh, bubuk/tepung maupun ekstrak.
Informasi tentang teknologi pengendalian OPT dengan penggunaan pestisida nabati yang berasal dari berbagai jenis tumbuhan sangat banyak, baik berupa buku-buku, leaflet, serta melalui berbagai media massa dan internet. Efektifitas berbagai jenis pestisida nabati dalam pengendalian beberapa jenis OPT tertentu, terutama golongan hama sudah diuji, baik ditingkat peneliti maupun di tingkat lapang. Bahkan beberapa petani sering melakukan uji coba penggunaan pestisida nabati pada tanaman mereka dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada. Beberpa jenis tumbuhan tyang sudah terbukti dapat digunakan sebagai bahan pestisida nabati antara lain adalah: Babadotan (Ageratum conyzoides L), Batrawali (Tinospora rumphii), Mojo (Aegle marmelos), Gadung (Dioscorea hispida), Kembang Kenikir  (Tagates Patula), Kipait / Kembang bulan (Tithonia sp), Mimba(Azadirachta indica), Mindi (Melia azedarach), Bengkoang (Pachyrrhyzus erosus), Sarikaya (Anona squamosa), Sereh Wangi (Andopogon nardus), Seureuh (Piper betle), Suren (Toona sureni), Sirsak (Annona muricata), Gambar: Selasih (Ocium sp.), Tembakau (Nicotiana tabacum),  dan beberapa tumbuhan lainnya.
2. Penggunaan Agens Pengendali Hayati (predator, parasitoid, patogen serangga agens antagonis)
Pengendalian hayati dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami (parasitoid, predator, patogen serangga, agen antagonis patogen) yang potensial dapat mengendalikan OPT tertentu. Pengendalian hayati dapat dilakukan dengan cara memodifikasi lingkungan agar sesuai untuk perkembangan agens hayati.
Teknologi pengendalian dengan pemanfaatan agens pengendali hayati sudah banyak dihasilkan oleh peneliti baik oleh Perguruan Tinggi maupun Lembaga Penelitian. Demikian juga penegembangan dan pemanfaatan agens pengendali hayati telah dilakukan oleh Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) dan kelompok tani/petani (POS-IPAH, PPAH, PUSPAHATI), serta produk-produk dalam bentuk komersial dari produsen pestisida.
Beberapa jenis agens pengendali hayati yang sudah dikembangkan antara lain adalah: parasitoid Trichogramma spp. dan Diadegma semiclausum, patogen serangga seperti Bacillus thuringiensis, Metarrhizium anisopliae, Beauveria bassiana, Nomuraea nileyi, Paecilomyces dan Hirsutella saussurei, agens antagonis seperti Pseudomonas fluorescens, Tricoderma spp., Gliocladium sp., dan lain-lain



Penggunaan Pestisida Secara Bijaksana, Baik dan Benar.
Pengendalian OPT merupakan bagian yang sangat penting dalam budidaya tanaman sebagai upaya mengurangi kehilangan hasil  serta mutu yang diakibatkan oleh  OPT. Namun demikian  keamanan produk harus tetap terjaga dari cemaran khususnya bahan kimia. Pada umumnya petani dalam mengendalikan OPT masih mengandalkan dengan penggunaan pestisida sintetis karena hasilnya sangat cepat tanpa mempertimbangkan dampat yang ditimbulkan. Penggunaan pestisida  sebagai salah satu komponen pengendalian  OPT sebaiknya diterapkan secara bijaksana hal ini berkaitan dengan dampak negatif akibat penggunaan pestisida yang tidak bijaksana   berupa resurgensi, resistensi, matinya populasi musuh alami dan pencemaran lingkungan melalui residu yang ditinggalkan serta terjadinya keracunan pada manusia



Penggunaan pestisida sintetis dibolehkan, namun harus dilakukan secara bijaksana, baik dan benar. Pengurangan penggunaan pestisida kimia sistetis dengan penerapan sistem pertanian organik, sistem budidaya tanaman sehat, penerapan sistem pengendalian hayati, dan penggunaan pestisida secara bijaksana, baik dan benar.
Adanya serangan OPT  pada kondisi dimana pengendalian dengan penggunaan pestisida kimia harus dilaksanakan (misalnya eksplosi), seharusnya sebaiknya tetap dilaksanakan secara bijaksana, baik dan benar dengan menggunakan pestisida kimiawi  yang terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian. Dalam aplikasinya sebaiknya tetap memperhatikan beberapa hal yaitu tepat sasaran, dosis , formulasi, cara serta waktu aplikasi. Disamping itu juga harus menggunakan alat-alat pengaman/pelindung.
Dengan penerapan pengendalian OPT yang ramah lingkungan, maka diharapkan akan menimbulkan berbagai manfaat, antara lain adalah
- Pengendalian OPT yang dilakukan dengan cara yang ramah lingkungan akan menyebabkan terjaganya sumberdaya yang ada, khususnya sumberdaya lahan, sehingga proses produksi dapat berkelanjutan. Juga dapat meminimalkan biaya produksi sehingga keuntungan yang dicapai dapat optimal
- Peningkatan daya saing difokuskan pada peningkatan kualitas produk hortikultura untuk menghasilkan produk yang bermutu, berkaitan dengan daya saing produk baik di pasar domestik maupun ekspor. Untuk menghasilkan produk yang bermutu diperlukan input teknologi serta pemenuhan persyaratan-persyaratan teknis lainnya, misalnya melalui penerapan GAP/SOP dan GHP serta penerapan prinsp-prinsip PHT dengan pendekatan Sekolah Lapang (SL).
- Penerapan sistem pertanian organik, budidaya tanaman sehat, pengendalian hayati, serta penggunaan pesisida kimia secara bijaksana dan rasional, akan meningkatkan kelestarian lingkungan.
Sumber: Diliput dari berbagai sumber dan hasil kunjungan lapang

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Wednesday, 21 March 2018 03:49 )
 
DIREKTORAT PERLINDUNGAN HORTIKULTURA
Jalan Aup Nomor 3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520 - Telepon (021) 7819117, Faximile (021) 78845628
Website : http://ditlin.hortikultura.deptan.go.id - E-mail: ditlinhort@deptan.go.id
Copyright © 2013 Direktorat Perlindungan Hortikultura Design by SadCom Multimedia ndik63@yahoo.com