IPM PDF Print E-mail
Berita - Berita Utama
Written by ditlinhorti   
Friday, 16 September 2016 07:09
INTEGRATED PEST MANAGEMENT, KONSEP TERPADU PERLINDUNGAN TANAMAN

Ditulis dan diolah dari berbagai sumber oleh : 
Andi Abdurahim, S.Si.
(POPT Ahli Pertama Direktorat Perlindungan Hortikultura)
 
 


Konsep Integrated Pest Management (IPM) atau diistilahkan sebagai Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) bermula dari kekhawatiran para ilmuwan serta praktisi lingkungan hidup, biologi dan pertanian (teknologi, ekonomi dan bisnis) terhadap keterbatasan teknik dan metode yang mereka terapkan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan populasi manusia yang semakin banyak namun tetap berupaya menjaga kelestarian lingkungannya. Ada banyak konsep dan metode yang ditawarkan, namun kesemuanya berakhir pada bagaimana meningkatkan kapasitas produksi setinggi-tingginya dengan memperluas areal produksi dan menekan populasi hama sebesar-besarnya. Hingga muncul produk pemberantas hama (pestisida) dengan beragam merk dan isinya. Lalu terjadilah kompetisi antar perusahaan pestisida dengan perusahaan pestisida lainnya untuk meraih pengguna sebanyak-banyaknya. Sementara para pengguna yakni petani di negara berkembang, yang notabene berpengetahuan terbatas dan berpendidikan rendah, tidak mengetahui tujuan dan maksud dibalik penawaran yang dilakukan perusahaan pestisida tersebut. Alhasil yang terjadi adalah kerusakan lingkungan yang akut dan sulit dikendalikan. 
 
Konsep IPM atau PHT ini dimaksudkan untuk mendapatkan hasil pertanian yang tinggi dengan mengurangi resiko yang terjadi. Maksud dari “hasil pertanian yang tinggi” adalah  kuantitas dan kualitas produk yang diinginkan, sementara maksud dari “mengurangi resiko” adalah menekan populasi hama hingga ambang batas ekonomi secara wajar dan tidak mencemari atau merusak lingkungan. Tantangan ke depan konsep IPM atau PHT ini adalah bagaimana para petani mampu mengalihkan perhatian mereka dari penggunaan pestisida kepada teknik dan metode non-pestisida serta ramah lingkungan atau dengan kata lain meninggalkan cara-cara instan untuk mendapatkan hasil banyak secepat-cepatnya tanpa mengindahkan kelestarian lingkungan. Meskipun banyak kalangan baik pemerhati maupun akademisi yang menyangsikan pestisida akan ditinggalkan. Hal tersebut disebabkan ada beberapa teknik pengendalian hama-penyakit yang masih menggunakan pestisida di bawah ambang batas.
 
Pertanian berkelanjutan mengacu pada pengelolaan hama-penyakit yang ramah lingkungan dan menjaga kelestarian sumberdaya lingkungan, manusia, tumbuhan dan hewan. Sebelum munculnya gagasan IPM atau PHT, era pestisida sangat mendominasi dunia pertanian dan lingkungan antara tahun 1939 hingga 1975. Era ini ditandai dengan penemuan insektisida dan derivatnya. Penggunaan insektisida secara luas tanpa kontrol menyebabkan kerusakan lingkungan dimana-mana, bahkan telah menelan banyak korban. Sebanyak 3 juta hingga 25 juta petani setiap tahun di seluruh dunia teracuni insektisida, 20 ribu diantaranya meninggal dunia. Bahkan yang mengerikan, National Resource Defence Council Amerika Serikat melaporkan sedikitnya satu dari 3400 anak di seluruh dunia dengan rentang usia 1 hingga 5 tahun setiap hari terkena kanker akibat mengkonsumsi makanan yang terkontak pestisida. Yang mengejutkan justru penerapan pestisida untuk membasmi hama hanya mencapai target kurang dari 1%, selebihnya masuk ke lingkungan seperti tanah, air, udara, makanan dan komoditi lainnya.

Memasuki tahun 1976 hingga kini, IPM atau PHT meskipun terlambat, dapat menjadi penawar bagi terselamatkannya manusia dan lingkungannya. Meskipun sebenarnya gagasan IPM atau PHT telah dimulai pada akhir tahun 1960 dan awal 1970 di berbagai belahan dunia. Namun gagasan IPM atau PHT baru menemukan momentumnya pada tahun 1970an. Sebuah studi kasus menarik di Indonesia dalam rentang tahun 1989-1991 sebagai bagian dari program National IPM Programme menunjukkan hubungan antara outbreak brown planthopper dan tingginya penggunaan pestisida. Setelah itu pemerintah Indonesia melarang penggunaan pestisida secara nasional sebagai bagian strategi pengendalian. Hasilnya justru terjadi peningkatan produksi padi pada areal yang rendah atau nihil pestisida. Ke depan, semoga gagasan IPM atau PHT dapat dikembangkan menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi manusia dan lingkungan di seluruh dunia.

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Friday, 16 September 2016 07:19 )
 
DIREKTORAT PERLINDUNGAN HORTIKULTURA
Jalan Aup Nomor 3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520 - Telepon (021) 7819117, Faximile (021) 78845628
Website : http://ditlin.hortikultura.deptan.go.id - E-mail: ditlinhort@deptan.go.id
Copyright © 2013 Direktorat Perlindungan Hortikultura Design by SadCom Multimedia ndik63@yahoo.com