Mitigasi GRK PDF Print E-mail
Berita - Berita Utama
Written by Ndik   
Tuesday, 20 March 2018 00:56

2018-03-20

 

MITIGASI

GAS RUMAH KACA (GRK)

SEKTOR PERTANIAN
 
 
PENDAHULUAN

 
Perubahan iklim yang terjadi karena akibat pemanasan global yang disebabkan oleh peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) yang berlangsung dalam jangka waktu lama. Emisi GRK adalah lepasnya gas-gas yang mempunyai efek rumah kaca pada suatu area ke atmosfer dalam jangka waktu tertentu, baik yang disebabkan oleh proses alamiah dan biologi maupun proses kimia dan fisika akibat aktivitas manusia, termasuk pertanian. Peningkatan emisi GRK secara langsung akan meningkatkan konsentrasi GRK di atmosfer yang menyebabkan pemanasan global akibat efek rumah kaca atau terhalangnya panas (heat) atau radiasi gelombang panjang ke luar atau ke atmosfir oleh GRK..

KEBIJAKAN PEMERINTAH
 
Menyikapi perubahan iklim, kebijakan pembangunan pertanian secara umum adalah meminimalisasi dampak negatif dari fenomena alam tersebut agar sasaran pembangunan pertanian tetap dapat dicapai. Kebijakan juga diarahkan untuk meningkatkan peran sektor pertanian, terutama subsektor perkebunan dan subsektor pertanian di lahan gambut, dalam menurunkan gas rumah kaca (GRK).
Pemerintah Indonesia telah meratifikasi terkait pemanasan global melalui Undang-Undang No. 17 tahun 2004, artinya Indonesia terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam mengatasi perubahan iklim dengan target penurunan tingkat emisi rata-rata 5,2% sampai pada tahun 2012 untuk negara-negara maju ternasuk Indonesia. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPPC) memprediksi bahwa perubahan iklim saat ini berjalan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Oleh karena itu, perlu upaya ekstrim penurunan GRK sampai tahun 2050. Indonesia berkomitmen menurunkan emisi GRK 26% dengan kemampuan sendiri dan menjadi 41% dengan bantuan luar negeri sampai tahun 2020. Komitmen ini tertuang dalam Rencana Aksi Nasional (RAN) GRK melalui Pepres 61 tahun 2011. Target pada 5 sektor utama yang terlibat langsung, yaitu kehutanan dan lahan gambut, limbah pertanian, industri, energi dan transportasi, dan pengelolaan limbah. serta Pepres No. 71 tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Inventarisasi GRK Nasional. Berdasarkan Pepres RAN (Rencana Aksi Nasional), GRK, pertanian berkewajiban menurunkan emisinya sekitar 8 juta ton CO2e sampai tahun 2020.

Kebijakan yang akan ditempuh adalah:
  1. Meningkatkan pemahaman petani dan pihak terkait dalam mengantisipasi perubahan iklim
  2. Meningkatkan kemampuan sektor pertanian untuk beradaptasi dengan perubahan iklim, termasuk membangun sistem asuransi perubahaniklim,
  3. Merakit dan menerapkan teknologi tepat guna dalam memitigasi emisi GRK,
  4. Meningkatkan kinerja penelitian dan pengembangan dibidang adaptasi dan mitigasi perubahan iklim
SUMBER GRK
 
Sumber utama GRK terdiri atas CO2, N2O dan CH4. Gas CO2 diserap dari atmosfer melalui proses fotosintesis dan dilepaskan melalui respirasi, dekompososisi, dan pembakaran bahan organik. Gas N2O diemisikan sebagai efek samping proses nitrifikasi dan denitrifikasi, sedangkan gas CH4 diemisikan melalui proses metanogenesis pada kondisi anaerob dalam tanah, penyimpanan pupuk kandang melalui proses enteric fermentation, dan akibat pembakaran bahan organik tidak sempurna. Gas lain yang dihasilkan pada proses pembakaran adalah NO2, NH3, NMVOC dan CO yang disebut emisi tidak langsung. Gas-gas tersebut merupakan pemicu (precursor) dalam pembentukan GRK di atmosfer. Emisi tidak langsung juga terjadi dari proses pencucian atau aliran permukaan yang membawa senyawa nitrogen, terutama NO3 yang kemudian dapat dikonversi menjadi N2O melalui proses denitrifikasi.

TEKNOLOGI MENURUNKAN GRK
 
 
  1. Perluasan areal pertanian dan perkebunan di lahan tidak produktif / terdegradasi
  2. Pemanfaatan lahan gambut terlantar terdegradasi untuk pertanian melalui tatakelola air dan ameliorasi yang menurunkan emisi GRK
  3. Pengembangan teknologi pengelolaan lahan tanpa Bakar
  4. Teknologi integrasi tanaman-ternak (padi sawah dan perkebunan)
  5. Teknologi Minapadi (Padi-Ikan) untuk daerah dengan sumber air cukup
  6. Teknologi pemupukan tepat sasaran (precision farming)
  7. Teknologi tumpangsari tanaman perkebunan-pangan
  8. Pemanfaatan limbah pertanian untuk energi (Biogas)
  9. Pemberian pupuk organik untuk meningkatkan simpanan karbon dalam tanah
  10. Pengelolaan air di lahan sawah dengan irigasi intermittent dan alternate wet and drying (AWD)
  11. Teknologi pengelolaan pakan untuk sub sektor peternakan
 
RAN GRK SEKTOR PERTANIAN
(Pepres 61/2011)
 
 
  1. Optimalisasi lahan
  2. Penerapan teknologi budidaya tanaman
  3. Pemanfaatan pupuk organik dan biopestisida
  4. Pengembangan areal perkebunan (sawit, karet, kakao)    di lahan tidak berhutan/terlantar/lahan terdegradasi/areal penggunaan lain  (APL)
  5. Pemanfaatan kotoran/urin ternak dan limbah pertanian untuk biogas
  6. Pengelolaan lahan gambut untuk pertanian berkelanjutan
  7. Pengembangan pengelolaan lahan pertanian di lahan gambut terlantar dan terdegradasi untuk mendukung sub sektor perkebunan, peternakan dan hortikultura
  8. Penelitian dan pengembangan teknologi rendah emisi, MRV/ sektor pertanian non gambut
  9. Litbang teknologi rendah emisi, metodologi MRV/pada areal pertanian di lahan gambut
 

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."