Model Adaptasi dan Mitigasi DPI PDF Print E-mail
Berita - Berita Utama
Written by Ndik   
Monday, 19 March 2018 01:14
2018-03-19
 
MODEL ADAPTASI DAN MITIGASI
DAMPAK PERUBAHAN IKLIM (DPI)
DI MUSIM KEMARAU PADA TANAMAN BAWANG MERAH
 
 
 
PENDAHULUAN
Pemanasan global menyebabkan peningkatan intensitas kejadian iklim ekstrim (El-Nino dan La-Nina) dan terjadinya perubahan iklim, dimana kondisi beberapa unsur iklim cenderung berubah atau menyimpang dari dinamika dan kondisi rata-rata menuju ke arah tertentu. Perubahan iklim terjadi karena proses alam dan/atau akibat kegiatan manusia secara terus menerus yang mengubah komposisi atmosfir dan tata guna lahan yang menyebabkan terjadinya pemanasan global. 
Perubahan iklim telah terjadi dan dindikasikan akan terus terjadi apabila tidak dilakukan upaya mitigasi dan adaptasi.. Kejadian iklim ekstrim makin kerap terjadi seperti fenomena banjir dan kekeringan, perubahan pola curah hujan, serta fluktuasi suhu dan kelembaban udara, yang secara langsung atau tidak langsung telah membawa kerugian pada sektor pertanian termasuk hortikultura, terutama tanaman semusim yang sangat rentan, yang dapat berujung pada gagal panen dan berdampak terhadap produksi.
Meningkatnya kejadian iklim ekstrim berupa kekeringan akan mengurangi luas tanam dan luas panen yang pada akhirnya akan mempengaruhi produksi, terutama tanaman yang sangat tergantung dengan ketersediaan air seperti tanaman bawang merah. Salah satu faktor yang menjadi pembatas dalam pengembangan tanaman bawang merah adalah faktor ketersediaan air yang erat kaitannya dengan jumlah dan distribusi curah hujan pada suatu wilayah. Curah hujan yang rendah atau distribusi hujan yang tidak merata menyebabkan terjadinya defisit air atau kekeringan fisiologis yang berdampak negatif terhadap pertumbuhan tanaman.Untuk itu, perlu penerapan teknologi budidaya yang adaptif terhadap kondisi iklim yang ekstrim untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan, serta teknologi mitigasi untuk mengurangi peningkatan gas rumah kaca (GRK) yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim.

SISTEM PENGAIRAN YANG TEPAT

Penerapan tek-nologi sistem pe-ngairan yang tepat pada kondisi iklim ekstrim akan lebih efektif dan efisien dalam penggunaan air terhadap tanam-an bawang merah. Sistem pengairan yang dapat diaplikasikan disesuaikan dengan kondisi lahan dan sumber air, jenis dan sumberdaya air. Teknologi pengairan yang dapat diterapkan antara lain yaitu, sistem pompanisasi, pembuatan embung, sistem irigasi tetes, sistem irigasi springkler dan lain-lain.
 
 
PENGGUNAAN MULSA
Penggunaan mulsa pada lahan pertanaman dilkukan untuk mengurangi penguapan pada musim kemarau sehingga penggunaan air lebih efisien, untuk mengurangi pertumbuhan gulma sehingga mengurangi kegiatan penyiangan, serta dapat mengurangi perkembangan OPT pada tanah. Jenis mulsa yang dapat digunakan yaitu mulsa plastik atau jerami. 

PENGGUNAAN BAHAN ORGANIK
 
Penggunaan bahan organik pada lahan berupa pupuk kandang atau kompos dapat memperbaiki fisik, biologi dan kimia tanah. Sifat fisik tanah yang kaya akan bahan organik menyebabkan tanah menjadi remah sehingga meningkatkan daya simpan air. Disamping itu akan meningkatkan kesuburan tanah dengan bayaknya kandungan unsur-unsur bahan organik yang dibutuhkan oleh tanaman. Peningkatan bahan organik juga akan meningkatkan aktifitas mikroorganisme di dalam tanah yang dapat berfungsi sebagai pengurai dan juga sebagai musuh alami bagi OPT, khususnya mikroorganisme antagonis bagi penyakit tular tanah serta entomopatogen bagi hama yang terdapat pada tanah. Penggunaan bahan organik juga akan mengurangi penggunaan pupuk sintetis yang akan mengurangi peningktan GRK.

BUDIDAYA TANAMAN SEHAT
 

 
Budidaya tanaman sehat dilakukan dengan penerapan Good Agriculture Practices (GAP). Budidaya tanaman sehat akan mening-katkan ketahanan tanaman terhadap serangan OPT. Dalam budidaya tanaman sehat diawali dengan pemilihan benih yang baik dan bermutu yang berasal dari tanaman induk yang sehat. Di samping itu pemilihan lokasi yang tepat yaitu kesesuaian agroklimat tanaman, serta pemeliharan yang baik dan optimal (pemupukan, penyiangan, penyiraman, pengendalian OPT). Penerapan budidaya tanaman sehat yang lebih adaptif terhadap kondisi iklim ekstrim serta dapat mengurangi peningkatan GRK.

PENGENDALIAN HAYATI
 

 
Pengendalian hayati dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami (parasitoid, predator, patogen serangga, agen antagonis patogen) yang potensial dapat mengendalikan OPT tertentu. Atau dilakukan dengan cara memodifikasi lingkungan agar sesuai untuk perkembangan agens hayati. Juga dapat dilakukan dengan penggunaan pestisida nabati dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada. 

 
Pengendalian OPT yang dilakukan dengan cara yang ramah lingkungan akan menyebabkan terjaganya sumberdaya yang ada, khususnya sumberdaya lahan, sehingga proses produksi dapat berkelanjutan. Juga dapat meminimalkan biaya produksi sehingga keuntungan yang dicapai dapat optimal. Disamping itu, penerapan sistem pengendalian hayati akan mengurangi penggunaan pestisida sintetis yang dapat berdampak terhadap peningkatan GRK.
 
 

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Friday, 23 March 2018 04:06 )
 
DIREKTORAT PERLINDUNGAN HORTIKULTURA
Jalan Aup Nomor 3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520 - Telepon (021) 7819117, Faximile (021) 78845628
Website : http://ditlin.hortikultura.deptan.go.id - E-mail: ditlinhort@deptan.go.id
Copyright © 2013 Direktorat Perlindungan Hortikultura Design by SadCom Multimedia ndik63@yahoo.com