Okra si Lady’s Finger PDF Print E-mail
Berita - Tulisan POPT
Written by ditlinhorti   
Thursday, 20 December 2012 04:25
Okra si Lady’s Finger Hortikultura
Oleh: Retno Wikan Tyasningsiwi (POPT Fungsional Ditlin Horti)

Kata okra ( Abelmoschus Esculentus ) yang lebih dikenal dengan sebutan  kacang arab, masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat Indonesia. Berbeda dengan masyarakat negara-negara di kawasan Asia Tengah maupun Asia Selatan, disana okra sangat digemari. Okra merupakan sayuran berbentuk buah yang dapat diolah menjadi beragam makanan lezat dan berkhasiat bagi kesehatan. Okra termasuk tanaman genus Hibiscus dari famili Malvaceae (kapas-kapasan). Tanaman ini memiliki julukan Lady's Finger karena bentuk buahnya yang panjang dan meruncing di bagian ujungnya seperti jari-jari lentik gemulai seorang wanita cantik.

Menurut sejarah, tanaman okra berasal dari Afrika dan dibawa ke Amerika sekitar 3 abad lalu oleh para budak Afrika. Saat ini tanaman okra sudah dikenal luas di berbagai negara di Asia, Eropa, dan Australia. Bahkan masakan berbahan dasar okra sangat populer di Sri Lanka, Jepang, Philipina, Arab Saudi dan Eropa. Tanaman ini tersebar ke berbagai daerah tropik dan subtropik  seperti India, Afrika Barat dan Brasil, yang pada akhirnya lebih populer di negara-negara Eropa dan Australia.

Di Indonesia okra tidak terlalu dikenal, walaupun ternyata tanaman ini sudah dibudidayakan sejak ratusan tahun silam. Akan tetapi belakangan ini nama Okra mulai banyak dikenal terutama di Jakarta dimana sudah gencar beredar berita bahwa tanaman Okra sangat baik untuk penderita diabetes karena sangat ampuh turunkan kadar gula darah.

Ciri-ciri tanaman okra: Tinggi tanaman mulai 1 hingga 4 meter. Buah panjang dan hijau, biasanya membentuk persegi lima dengan ujung runcing. Sepintas dari kejauhan, batangnya mirip tanaman tembakau, tetapi dedaunannya kecil-kecil. Bagian yang dikonsumsi adalah buah muda dimana di dalam 100 g buah muda terkandung 90 g air, 2 gprotein, 7 g karbohidrat, 1 g serat, 70-90 mg kalsium dengan total energi sebesar 145 kJ.

Di Indonesia, ternyata banyak luas areal sawah yang ditanami okra, yaitu terdapat di desa Milangkori Kecamatan Patebon atau Ngampel, dimana dapat dengan mudah dijumpai para petani yang sedang membudidayakan jenis tanaman yang mudah tumbuh pada iklim tropis tersebut. Menurut keterangan beberapa petugas lapangan dari Perusda Aneka Usaha, di Kendal terdapat sekitar 60 ha areal tanaman okra. Seluas 35 ha di antaranya berada di Kecamatan Kendal dan Boja. Harga panen tanaman okra yang ditawarkan untuk petani cukup menjanjikan, semula tanaman tersebut hanya dihargai Rp 1.500/kg namun sekarang sudah mencapai Rp 2.500 - Rp 2.750/kg untuk kualitas A. Sedangkan okra yang dijual di supermarket, harga satu bungkusnya kurang lebih Rp 5.500/100gr.

Menurut Rodiah dan Abu, Staff Peneliti BPTP  Karangploso-Malang, adapun keuntungan bertanam okra antara lain:

  • Okra dapat ditanam dengan mudah dan pemeliharaannya sangat sederhana.
  • Masa berproduksinya cukup lama sehingga dapat menjadi sumber penghasilan  yang lumayan
  • Buah muda sebagai sayur mengandung gizi yang tinggi
  • Buah Okra muda dapat tahan lama disimpan (10-20 hari) di ruangan sejuk sehingga memudahkan untuk pengiriman
  • Tanaman Okra dapat ditanam secara tumpangsari dengan tanaman lainnya.
Dapat dipelajari Cara budidaya okra yang baik, diantaranya:
  • Lahan Okra dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi pada hampir semua jenis tanah dengan pH tanah minimal 4.5. Okra dapat tumbuh dengan baik pada tanah berpasir dengan pengairan yang baik, dan pH antara 6.5-7.5.
  • Tanah yang akan ditanami diolah dan diberi pupuk dasar berupa pupuk kandang / kompos sebanyak 4 – 6 ton/ha dan diusahakan tanah mengandung K tinggi.
  • Selanjutnya tanah itu dibuat bedengan dengan lebar sekitar 100 cm dan panjang tergantung lahan. Jarak antar bedengan adalah 25 cm. Sedangkan lubang tanamnya berdiameter sekitar 20 cm dengan kedalaman sekitar 5 cm. Jarak tanam yang dianjurkan  90-125 cm x 28-62 cm.
  • Benih disebar merata dan ditutup tanah tipis-tipis. Setelah berumur 21 hari siap dipindah ke lahan tanam. Benih yang akan ditanam adalah biji okra yang sudah tua dan sudah diseleksi terlebih dahulu dengan cara perendaman. Perendaman dilakukan dengan air hangat 24 jam sebelum tanam.
  • Dalam satu lubang tanam, dapat ditanam 5-6 benih
  • Selanjutnya dilakukan pemeliharaan okra,  misalnya dengan pengairan, pembersihan lahan dan lain-lain. Dimana okra memerlukan kondisi tanah yang agak lembab, apabila tidak hujan sebaiknya diberi pengairan dengan interval dua hari sekali. Penyiangan atau Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan penanaman menggunakan mulsa plastik hitam perak.
  • Tanaman ini dapat dipanen pada usia 1,5 bulan. Okra dipanen pada saat buahnya masih muda, yaitu 5-6 hari setelah bunga mekar. Okra berbunga pada 50 hari setelah tanam. Panjang buah okra yang disukai konsumen adalah 6,5 - 9 cm. Panen okra dapat dilakukan 3 kali dalam seminggu. Masa berbuah adalah 82 hari setelah tanam. Panen buah okra dilakukan dua hari sekali. Okra yang baru dipanen dan disimpan di tempat sejuk dan kering biasanya dapat bertahan selama seminggu. Okra yang akan dijadikan benih dibiarkan tua dan kering di pohon, setelah itu dipetik dan dikeluarkan bijinya yang langsung bisa ditanam atau dikeringkan dulu.

Hama penyakit yang sering menyerang tanaman okra antara lain: antraknosa, bercak daun, busuk buah, belalang dan ulat daun. Penyakit pada tanaman okra antara lain antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides Penz). Gejala penyakit ini pada daun terjadi bercak-bercak tidak teratur dengan ukuran kurang dari 5 mm, kecuali terjadi penyatuan bercak-bercak tersebut. Pusat bercak sering pecah sehingga menyebabkan bercak berlubang. Daun yang sakit mengering dan gugur. Serangan pada tangkai daun dapat menyebabkan daun layu dan rontok. Pada batang muda bercak-bercak berwarna kelabu yang bisa berkembang dan menggelangi batang yang dapat menyebabkan matinya bagian yang terserang. Pada bagian bunga terjadi bintik-bintik kecil berwarna hitam terutama pada keadaan cuaca lembab, dan dapat menyebabkan rontoknya sebagian atau seluruh kuncup bunga. Buah juga dapat terinfeksi, pada buah-buah yang matang terlihat gejala khas yaitu bercak-bercak hitam pada bagian kulit, yang sedikit demi sedikit melekuk dan bersatu daging buah membusuk. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan memusnahkan tanaman yang terserang dan tidak memegang tanaman yang sehat sehabis memegang tanaman sakit, rotasi tanaman, pengaturan jarak tanam agar lingkungan tidak terlalu lembab, sanitasi, dan drainase yang benar.

Penyakit bercak daun (Cercospora blight): gejala awal terdapat pada daun berupa bercak klorosis berwarna kekuningan. Bercak ini kemudian berkembang dan tengahnya mengalami nekrosis sehingga berwarna cokelat dan dibatasi oleh halo berwarna kuning. Bercak nekrotik ini bentuknya tidak teratur, diameternya dapat mencapai 1-2 cm, pusatnya berwarna kelabu, tepinya berwarna cokelat tua, dan umumnya berada di antara dua tulang daun utama. Pengendalian untuk penyakit ini dengan melakukan sanitasi lingkungan, drainase yang baik, dan melakukan pergiliran tanaman.

Penyakit busuk buah (Phytophthora sp) memiliki gejala mula-mula pada buah terjadi bercak kebasah-basahan, lalu warnanya berubah menjadi coklat, coklat tua dan hitam. Setelah 5 hari pada bercak ini tampak jamur putih yang terdiri dari miselium dan sporangium. Penyakit busuk buah ini juga dapat terjadi pada buah yang letaknya tinggi. Hal ini diduga jamur dibawa oleh serangga. Cara pengendalian penyakit ini antara lain: Perbaikan drainase tanah agar tidak terlalu basah (lembab), memangkas daun-daun yang tidak produktif untuk mengurangi kelembaban kebun,

memotong (memangkas) bagian tanaman yang terserang berat, menghindari luka mekanis pada bagian akar dan pangkal batang sewaktu pemeliharaan tanaman, eradikasi tanaman terserang, pemanfaatan jamur antagonis seperti Trichoderma harzianum yang dapat diaplikasikan pada permukaan tanah untuk jamur tular tanah.
Hama yang sering menyerang okra antara lain belalang dan ulat daun. Serangan belalang ditandai dengan adanya lubang-lubang pada daun. Ia menyerang daun setelah daun mulai lebar. Pemberantasannya dilakukan dengan menggunakan Dithane M-45. Sedangkan serangan ulat daun menyebabkan daun berlubang-lubang besar dan kemudian habis karena dimakan olehnya. ulat Heliontes sp yang merusak daun, bunga dan juga buah muda. Pengendalian ulat ini dapat dilakukan dengan penyemprotan dengan Dursban 20 EC dengan dosis 2-3 cc/lt air
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Friday, 14 February 2014 02:14 )
 
DIREKTORAT PERLINDUNGAN HORTIKULTURA
Jalan Aup Nomor 3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520 - Telepon (021) 7819117, Faximile (021) 78845628
Website : http://ditlin.hortikultura.deptan.go.id - E-mail: ditlinhort@deptan.go.id
Copyright © 2013 Direktorat Perlindungan Hortikultura Design by SadCom Multimedia ndik63@yahoo.com