Pengendali OPT Raphis PDF Print E-mail
Berita - Tulisan POPT
Written by ditlinhorti   
Thursday, 20 December 2012 04:29
Bahan Pengendali Raphis excelsa Ramah Lingkungan
Hendry Puguh Susetyo, SP
(POPT Ahli Pertama Direktorat Perlindungan Hortikultura)

R. excelsa di beberapa negara dikenal dengan “Lady Palm” sedangkan di Indonesia biasa dikenal dengan “Palem Waregu”. R. excelsa merupakan salah satu tanaman Sub Tropis yang berasal dari Cina selatan dan Jepang dan dimanfaatkan sebagai Tanaman Hias Indoor maupun Tanaman Hias Outdoor. Permintaan tanaman R. excelsa cendrung terus meningkat dari tahun ke tahun, namun negara eksportir sering tidak dapat memenuhi permintaan tersebut baik dari sisi jumlah kontinuitas dan kualitas.

Sehubungan dengan hal tersebut R. excelsa perlu terus menerus disosialisasikan kepada masyarakat untuk dibudidayakan sehingga dapat memperoleh manfaat peluang ekonomi. Upaya memenuhi permintaan tanaman hias tropis di pasar luar negeri masih dilakukan dengan mengeksploitasi tanaman dari hutan dan pekarangan tanpa budidaya intensif. Hal ini menyebabkan kualitas tanaman kurang baik, tidak seragam dan pasokan terbatas sehingga kuantitas, kualitas dan kontinuitas ekspor tidak terjamin.

Salah satu permasalahan yang menjadi hambatan dalam ekspor R. excelsa tersebut adalah serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) utama seperti  Kutu Putih daun (Nipaecoccus nipae), Kutu Putih Akar (Dysmicoccus brevipes), Embun Jelaga (Capnodium sp) dan Algae (Cepheleuros mycoidea). Direktorat Perlindungan Hortikultura melalui Sub Direktorat Perlindungan Tanaman Florikultura telah memfasilitasi kegiatan “Model gerakan pengendalian OPT Skala Luas pada tanaman Raphis excelsa” dilaksanakan pada tanggal 10 – 13 April 2012 di Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat.

Pada kesempatan tersebut disampaikan beberapa alternatif pengendalian OPT pada R. excelsa yang berasal dari bahan hayati yang direkomendasikan oleh  LPHP Bukittinggi, UPTD BPTPH Provinsi Sumatera Barat, diantaranya   :

a. Pengendalian OPT R. excelsa secara mekanis :
  • Bersihkan lahan dari gulma. Gulma yang sudah dicabut dijadikan kompos Trichoderma.
  • Melakukan penjarangan tanaman, sehingga jarak tanam tidak terlalu rapat, dan  kelembaban tidak terlalu tinggi.
  • Pemotongan daun yang tua / rusak.
  • Eradikasi selektif  untuk tanaman yang terserang berat oleh fusarium, lubang bekas pertanaman ditaburi dengan Trichoderma.
b. Pengendalian OPT R. excelsa secara Kultur teknis :
  • Gunakan  pupuk  kandang  yang telah dicampur dengan Trichoderma sebagai pupuk dasar  pada bedengan 0,25 kg perlubang atau 10 ton per Ha.
  • Penyemprotan lahan / lubang tanam  dengan Pseudomonas fluorescens (Pf) dan Beauveria.
  • Pemilihan bibit yang sehat.
  • Jarak tanam jangan terlalu rapat.
  • Pemberian pupuk susulan, pupuk kandang plus Trichoderma dengan membuat alur pupuk pada pinggir bedengan dan benamkan atau tutup kembali pupuk kandang dengan tanah setelah disebar dalam alur pupuk.
  • Naungan jangan terlalu banyak (naungan yang berupa pohon/tanaman).
c.  Pengendalian OPT R. excelsa secara Biologi :
  • Penyemprotan lahan / lubang tanam  dengan Pf dan Beauveria.
  • Sebelum bibit ditanam, akar bibit direndam dalam Pf selama 15 menit dengan dosis 100 cc/liter  untuk meningkatkan ketahanan tanaman.
  • Aplikasi Agens hayati Beauveria dan Pf sejak tanaman berumur 2 minggu dengan dosis 100 gr  atau 100 ml  dalam 10 liter air, interval sekali seminggu.
  • Apabila ditemui kutu daun , maka lakukan pengendalian dengan ramuan nabati (sereh wangi, daun surian, dan daun mahoni).
  • Pemanfaatan musuh alami seperti parasitoid Angyrus ananatis dan A. Pseudococcis  dan Predator  Cryptolaemus montrouzieri atau Scymnus uncinatus.
  • Apabila ditemukan serangan penyakit, aplikasi dengan ramuan nabati untuk penyakit tanaman (daun galinggang dan daun sirih).
  • Pemberian pupuk susulan, pupuk kandang plus Trichoderma dengan membuat alur pupuk pada pinggir bedengan dan benamkan atau tutup kembali pupuk kandang dengan tanah setelah disebar dalam alur pupuk.
  • Naungan jangan terlalu banyak (naungan yang berupa pohon atau tanaman).
d. Pestisida Nabati  untuk  Kutu putih  (N. nipae ) pada tanaman R. excelsa :
  • Bahan  - bahan :     Daun sereh wangi   (Cymbopogon nardus) 1 kg, Daun Mahoni   (Switonia mahagoni) 1 kg, Daun surian  (Tona sureni)  1 kg, Air 10 ltr.
  • Alat – alat : Timbangan, Gayung, Ember, Periuk atau Panci, Kompor, Saringan, Pisau dan Jerigen atau alat penyimpan.
  • Pembuatan ekstrak Pestisida Nabati : Masing-masing bahan pestisida nabati yang diambil dari lapangan ditimbang sebanyak  1 kg, dan direbus dalam 10 liter air selama 1 jam, secara terpisah. Kemudian setelah 1 jam api dimatikan dan ditunggu sampai dingin.  Selanjutnya bahan tersebut disaring. Untuk penyimpanan dalam jangka waktu lama sebaiknya poestisida nabati disimpan dalam bentuk kering / bubuk.
  • Cara Penggunaan : Penyemprotan pada tanaman dilakukan terutama pada bagian bawah daun dan keseluruhan tanaman. Masing – masing eksrak diambil sebanyak 1 liter dan ditambahkan air,  dengan perbandingan   1 : 4.  Ramuan nabati siap untuk diaplikasikan ke lahan dengan menambahkan 1 sendok teh sabun cair dalam 20 liter ramuan nabati.  Penyemprotan dilakukan 1 x seminggu.
  • Hasil aplikasi pestisida nabati pada kutu putih dapat bervariasi untuk masing – masing daerah karena pestisida nabati bersifat spesifik lokasi. Dari hasil uji di pertanaman R. excelsa Kelompok Tani Anyelir, Kel Bukit Apit Puhun, Bukittinggi, LPHP Bukittinggi mendapatkan hasil uji mortalitas kutu putih pada minggu ke 2 aplikasi sebanyak 33% dari total populasi, 74% pada minggu ke empat aplikasi dan sebanyak 90% pada minggu ke lima.

 

e. Pembuatan Pestisida Nabati untuk Penyakit Tanaman R. excelsa :

  • - Bahan – bahan yang diperlukan : Daun Galinggang gajah  /Ketepeng Cina (Cassia alanta) 1 kg, Daun sirih (Piper bettle)  2,5  kg, Air 10 liter.
  • - Alat – alat : Saringan, Gayung, Ember, Periuk/panci, Kompor, Pisau, Timbangan , Blender/alat penumbuk.
  • - Cara Pembuatan : Daun galinggang ditumbuk hingga halus, Bahan yang sudah ditumbuk direndam dalam air 10 liter, Rendaman bahan diperas dan diambil ekstraknya, kemudian ekstrak tersebut disaring, Daun sirih direbus dalam 10 ltr air selama 1 jam dan didinginkan, Campurkan kedua ekstrak tersebut. Untuk penyimpanan dalam jangka waktu lama sebaiknya poestisida nabati disimpan dalam bentuk kering / bubuk.
  • - Cara penggunaan : 1 liter ekstrak ramuan nabati diencerkan dengan air sebanyak 10 liter, diaduk dan dimasukkan ke dalam tangki penyemprotan, penyemprotan  pada  tanaman dilakukan pada seluruh bagian tanaman, aplikasi pada tanaman dilakukan sebanyak 1 kali seminggu.

f. Perbanyakan Beauveria bassiana :

  • Alat – alat   :     Kompor, Periuk / Dandang, Baki/ baskom dan Sendok
  • Bahan         :     Beras, Kantong Plastik, Bibit Beauveria dan Air.
  • Cara Perbanyakan : Rebus air sampai mendidih , masukkan beras selama 4 – 5 menit. Setelah itu langsung dikukus selama 15 menit. Lalu pindahkan kedalam baskom/baki, setelah dingin masukkan kedalam kantong plastik sebanyak seperempat volume kantong.
  • Kemudian, ambil bibit Beauveria dengan sendok sebanyak 4 – 5 butir dan masukkan ke dalam kantong plastik tadi, lalu digoyang-goyang hingga rata, lipatkan ujung kantong seterusnya diklep dengan posisi vertikal .
  • Tempatkan pada rak-rak yang tidak kena sinar matahari langsung.  Setelah 1 minggu Beauveria  tumbuh secara merata pada media. Berwarna putih, dan selanjutnya Beauveria siap dipakai.
g. Perbanyakan Pseudomonas fluorescens :
  • Alat – alat  :      Kompor,   Periuk,    Panci,    Saringan,     Sendok, Aerator dan Jerigen.
  • Bahan  : Susu full cream (20 gr/ltr air), Bibit Pf dan Air.
  • Cara Perbanyakan : Larutkan susu dengan air sampai larut dan saring, Masak sampai mendidih dan biarkan mendidih selama 15 menit, Dinginkan, setelah dingin masukkan biang Pf (1 cc/ltr media), Pasang aerator, Biarkan selama 4 – 7 hari, Pf siap untuk diaplikasikan.
Bahan – bahan tersebut di atas masih perlu untuk terus disosialisasikan dan diterapkan dalam aplikasi pengendalian oleh petani di tingkat lapang untuk lebih banyak mendapatkan informasi mengenai keefektifannya. Diharapkan aplikasi bahan – bahan pengendali hayati tersebut dapat mengatasi permasalahan OPT R. excelsa yang dapat menghambat ekspor, menurunkan serangan OPT, mengurangi penggunaan pestisida sintetik sehingga produksi dan mutu tanaman  R. excelsa meningkat dengan residu pestisida yang minimal dan tidak ada OPT yang terbawa.
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Friday, 14 February 2014 02:12 )
 
DIREKTORAT PERLINDUNGAN HORTIKULTURA
Jalan Aup Nomor 3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520 - Telepon (021) 7819117, Faximile (021) 78845628
Website : http://ditlin.hortikultura.deptan.go.id - E-mail: ditlinhort@deptan.go.id
Copyright © 2013 Direktorat Perlindungan Hortikultura Design by SadCom Multimedia ndik63@yahoo.com