Penyakit Bakteri pada Jagung Manis PDF Print E-mail
Berita - Tulisan POPT
Written by ditlinhorti   
Thursday, 20 December 2012 04:30
Waspadai
Penyakit Bakteri Pantoea stewartii pada Jagung Manis
Oleh: Warastin Puji M.

P. stewartii merupakan bakteri OPTK A1 (OPT yang dilaporkan belum terdapat di wilayah Indonesia) pada tanaman jagung yang sudah masuk ke dalam wilayah Indonesia. Berdasarkan hasil kegiatan pemantauan daerah sebar OPTK 2012, P. stewartii telah tersebar di Provinsi Sumatera Barat, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten dan Sulawesi Selatan. P. stewartii menyerang tanaman jagung, terutama jagung manis pada seluruh stadia tanaman (stadia pembungaan, pembuahan, pembibitan dan pertumbuhan vegetatif). Bagian tanaman yang terinfeksi yaitu buah, kuncup bunga, daun, akar, benih, batang dan seluruh bagian tanaman. Kerugian akibat OPT ini berkisar 40 – 100%.

Penularan:

P. stewartii merupakan patogen tular benih. Selain dapat ditularkan melalui benih juga dapat menyebar melalui perantara vektor. Bakteri patogen ini mampu hidup pada benih jagung selama 200 -250 hari yang disimpan pada suhu 8-15°C.
Munculnya penyakit ini pada jagung, tidak terlepas dari impor benih baik untuk produksi maupun plasma nutfah untuk perakitan varietas-varietas baru, sehingga memungkinkan tersebarnya patogen, karena benih merupakan media pembawa yang paling cocok untuk menyebar melintasi batasan alaminya.

Kisaran Inang:
  • Utama (U): Zea mays (jagung, jagung manis, corn, maize), Zea mexicana (teosinte)
  • Sekunder (S):  Saccharum officinarum (tebu, sugarcane), Sorghum bicolor (sorgum, sorghum), Triticum aestivum (gandum, wheat), Vigna radiata  (kacang hijau, mungbean), Cucumis sativus (mentimun, cucumber), Agrotis alba, Avena sativa, Coix lacryma, Echinochloa americana, Trapsacum spp.,Panicum spp., (Permentan 93/2011). 
Serangga vektor/vektor penyakit: 
 

Selain melalui benih, penyakit ini juga ditularkan oleh kumbang jagung Corn Flea Beetle Chaetocnema pulicaria (Coleoptera: Chrysomelidae) sebagai vektor utama yang mampu mendukung proses hibernasi patogen. Vektor lain yang diduga memiliki kemampuan menyebarkan penyakit ini diantaranya Diabrotica undecimpunctata howardi (larva dan imago) dan Diabrotica longicornis (larva).

Gejala di lapangan
Terdapat 2 (dua) fase gejala:
  1. Layu pada bibit, terutama pada tanaman berdaun kurang dari 5 helai. Tanaman menjadi layu, kerdil dengan adanya garis hijau pucat kekuningan yang memanjang pada permukaan daun, dan; 
  2. Hawar daun tua pada fase vegetatif dan generatif. Gejala layu terjadi setelah munculnya malai. Pada daun berwarna putih memanjang searah tulang daun dan pinggirnya mengalami nekrosis.
Rekomendasi Pengendalian P. stewartii 
  • Melakukan pengamatan (survei deteksi dan delimitasi) untuk mengetahui daerah serangan dan kerugian yang ditimbulkan;
  • Meningkatkan pengawasan terhadap peredaran benih jagung manis (benih impor maupun benih yang berasal dari daerah serangan);
  • Melakukan studi lapangan untuk penerapan teknologi pengendalian penyakit yang ramah lingkungan;
  • Mengefektifkan gerakan operasional pengendalian OPT dengan tetap berpegang pada prinsip pengendalian hama terpadu (PHT) meliputi:
a. Mekanis
  • sanitasi lingkungan dengan cara mengumpulkan sisa-sisa tanaman dan gulma rerumputan kemudian membakarnya
  • Membersihkan tanaman yang terserang agar tidak menjadi sumber penyakit dan memutus siklus hidup penyakit
  • Mengendalikan serangga penular/vektor 
b. Kultur teknis
  • Melakukan penanaman secara tumpangsari antara jagung dengan tanaman yang bukan inang P. stewartii.
  • Menggunakan benih sehat dan bersertifikat
  • Menanam varietas hibrida resisten yang mampu menekan perkembangan bakteri pada jaringan vaskular tanaman dan hanya ditanam satu kali pada suatu lahan.
  • Perencanaan penanaman jagung (Forecasting Culture) yaitu dengan merencanakan dan mempersiapkan penanaman pada musim hujan di mana suhu rata-rata harian antara 20-24 oC yang mampu menekan perkembangan penyakit.
  • Penggunaan unsur hara yang seimbang yaitu dengan menurunkan kandungan N dan P tidak dan meningkatkan kandungan Ca yang berpotensi mengurangi perkembangan penyakit.
c. Perlakuan kesehatan benih:
Yaitu memeriksa kesehatan benih sebelum digunakan menggunakan prosedur ELISA pada benih.

d. Biologi  
Penelitian mengenai musuh alami serangga vektor P. stewartii belum banyak diteliti, oleh karena itu, sebagai studi awal dapat dengan cara mengisolasi cendawan entomopatogen dari serangga vektor yang terinfeksi cendawan entomopatogen, kemudian dijadikan isolat untuk proses identifikasi.

e. Kimiawi
  • Perlakuan benih melalui perendaman benih dengan beberapa antibiotik pada suhu 40-47°C selama 1.5 jam; dan perlakuan benih dengan pestisida berbahan aktif imidakloprid, thiamethoxam, and clothianidin.
 
Di susun  
Oleh: Warastin Puji M.
Kasi  Pengelolaan Dampak Iklim dan Lingkungan 
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Friday, 14 February 2014 02:22 )
 
DIREKTORAT PERLINDUNGAN HORTIKULTURA
Jalan Aup Nomor 3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520 - Telepon (021) 7819117, Faximile (021) 78845628
Website : http://ditlin.hortikultura.deptan.go.id - E-mail: ditlinhort@deptan.go.id
Copyright © 2013 Direktorat Perlindungan Hortikultura Design by SadCom Multimedia ndik63@yahoo.com