Merintis Produk Sayuran Organik PDF Print E-mail
GAMBAR - JUDUL
Written by ndik   
Tuesday, 20 August 2019 07:53

2019-08-20-14:54:12

MERINTIS PRODUK SAYURAN ORGANIK DI SULAWESI SELATAN

 Dengan semakin menguatnya pola hidup sehat dengan pangan sehat, dproduk pangan organik, khususnya produk pangan segar semakin banyak dicari oleh konsumen.  Peluang ini merupakan tantangan bagi para petani organik yang sudah banyak dijumpai di banyak wilayah, dengan mengembangkan usaha tani organiknya dengan penambahan luas kebun dan ragam komoditasnya.

 

Sulawesi Selatan merupakan salah satu propinsi yang sedang grncar gencarnya menggalakan pengembangan hortikultura organik khususnya sayuran di Sulawesi Selatan.  Sebagai dentuk dukungan, pemerintah melalui Kementerian Pertanian  telah mengalokasikan 13 Desa Pertanian Organik (DPO) bidang Hortikutura, sejak 2016, 2018 dan 2019 yang tersebar di 13 kabupaten/kota. Produk sayuran yang dihasilkan sebagian besar adalah sayuran yang menjadi konsumsi harian seperti bayam, kangkung, kacang panjang, sawi, kol, cabai, terong, tomat, timun dan bawang merah.

 

 Pengembangan DPO di propinsi Sulawesi Selatan dilaksankan oleh UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPPH) Provinsi Sulawesi Selatan. Lokasi DPO antara lain di Desa Benteng Gajah, Kecamatan Topo Bulu, Kabupaten Maros yang dilaksanakan oleh Kelompok tani Tanete Panasa, dan di Desa Barabatu, Kecamatan Labbakkang Kabupaten Pangkep yang dilaksanakan oleh kelompok tani Sipatuo. Kelompok tani tersebut menerapkan sistem budidaya organik pada tanaman sayuran dengan pemanfaatan sumberdaya yang ada di sekitar lokasi pertanaman, antara lain pemanfaatan limbah tanaman dan kotoran ternah yang diolah menjadi kompos. Disamping itu juga, limbah ternak diolah menjadi biogas. Hal yang unik dari kedua kelompok tani tersebut adalah pemanfaatan limbah cacing sebagai kompos.

“Dengan budidaya organik, aplikasi pupuk kompos secara optimal serta pengendalian OPT dengan penggunaan agens hayati dan pestisida nabati, sangat banyak keuntungan yang diperoleh. Produk yang dihasilkan aman residu kimia sehingga aman dikonsumsi dan sayuran yang dihasilkan relatif lebih tahan”.  Lanjut disampaikan oleh ketua kelompok bahwa “yang paling penting adalah biaya produksi relatif lebih rendah” selanjutnya disampaikan olek Pak Sahabuddin (Kasi Diagnosis UPTD BPTPH Provinsi Sul-Sel) bahwa “Kami sangat mendukung program Desa Pertanian Organik dengan melakukan fasilitasi sarana pengendalian ramah lingkungan serta melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap petani.”


Dalam rangka mensosialisasikan produk sayuran organik, produk kelompok tani Tanete Panasa diperkenalkan ke staf di kecamatan dan desa dan akan melakukan kerjasama dengan Puskesmas setempat.  Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka sosialisasi dan untuk menarik pasar produk organik.

 

Pada saat dilakukan kunjungan oleh staf Direktorat Perlindungan Hortikultura (Slamet Riyadi), disarankan bahwa walaupun program Desa Pertanian Organik berakhir pada tahun 2019 diharapkan bahwa kelompok tani tetap komitmen dengan pertanian organik walaupun secara mandiri tidak dengan bantuan pemerintah.


Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Tuesday, 20 August 2019 08:08 )