Mulsa pada Tanaman Semangka PDF Print E-mail
Berita - Berita Utama
Written by ndik   
Thursday, 20 December 2012 05:21
Mulsa pada Tanaman Semangka Tanpa Biji
(Citrullus vulgaris)
Oleh: Retno Wikan Tyasningsiwi (POPT Fungsional, Direktorat  Perlindungan Hortikultura)

Tanaman semangka (Citrullus vulgaris L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura dari famili Cucurbitaceae (labu-labuan) yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi, terutama jenis semangka tanpa biji. Untuk itu, budidaya semangka tanpa biji dapat dijadikan salah satu alternatif sumber pendapatan di samping tanaman hortikultura lainnya. Budidaya tanaman semangka tanpa biji di Indonesia masih terbatas untuk memenuhi pasaran dalam  negeri. Padahal terbuka peluang yang sangat luas bahwa semangka dapat diekspor ke luar negeri, sebab kondisi alam Indonesia sesungguhnya lebih menguntungkan daripada kondisi alam negara produsen lain di pasaran Internasional. Permintaan pasar dunia akan semangka mencapai 169.746 ton. Sampai saat ini Indonesia mendapat peluang ekspor semangka cukup besar yaitu 1.000 ton per tahun (Ashari, 1995).

Dalam budidaya semangka, penggunaan mulsa sangat diperlukan. Mulsa atau Penutup tanah dapat diartikan sebagai bahan yang secara sengaja dihamparkan di permukaan lahan pertanian untuk tujuan-tujuan tertentu, seperti: untuk menghindari kehilangan air melalui penguapan, menekan pertumbuhan gulma yang ada disekitar tanaman sehingga mengurangi biaya dalam pengendalian gulma, menaikkan suhu dan menurunkan kelembaban disekitar tanaman sehingga dapat menghambat munculnya hama dan penyakit, melindungi tanah dari terpaan hujan, erosi, menjaga struktur serta menambah kesuburan tanah sehingga membuat tanaman tumbuh dengan baik.

Mulsa dibedakan menjadi dua macam dilihat dari bahan asalnya, yaitu mulsa organik dan anorganik.

Mulsa organik berasal dari bahan-bahan alami yang mudah terurai seperti sisa-sisa tanaman, jerami dan alang-alang. Sisa-sisa tanaman yang disebar di permukaan tanah dapat berupa serasah tanaman (gulma), cabang, ranting, batang maupun daun-daun bekas tanaman atau sisa tanaman hasil panen. Mulsa organik diberikan setelah tanaman /bibit ditanam. Keuntungan mulsa organik adalah lebih ekonomis (murah), mudah didapatkan, dan dapat terurai sehingga menambah kandungan bahan organik dalam tanah.
Macam-macam mulsa organik
1. Mulsa vertikal
Mulsa umumnya disebarkan secara merata di permukaan tanah, akan tetapi teknik mulsa vertikal dilakukan dengan memasukkan sisa tanaman kedalam saluran atau alur yang dibuat menurut kontur pada bidang olah untuk mengurangi kekuatan aliran permukaan dan menampung sedimen terangkut di sepanjang saluran bidang olah. Cara lain penerapan mulsa vertikal adalah dengan memasukkan sisa tanaman secara vertikal ke dalam rekahan tanah yang terjadi pada musim kemarau. Dalam aplikasi mulsa vertikal harus memperhatikan hal-hal berikut: (1). Kemiringan lereng, (2). Panjang lereng, (3).  Jarak antara saluran, (4). Lebar saluran, dan (5). Kedalaman saluran.
Semakin besar kemiringan lereng, jarak antara saluran akan semakin dekat, sementara ukuran dan kedalaman saluran akan menentukan banyaknya bahan mulsa yang dapat di benamkan.

Keunggulan Mulsa Vertikal: (1). Mampu mengurangi erosi pada dinding dan dasar saluran; Penambahan mulsa vertikal mampu mengurangi erosi sebesar 47 % dalam satu kali musim tanam, (2). Meningkatkan peresapan air hujan; Mulsa vertikal mampu mengurangi aliran permukaan sebesar 65.9 % dalam satu kali musim tanam (BP2TP DAS IBT 2001), (3). Meningkatkan kesuburan tanah karena menambah bahan organik tanah. Penerapan mulsa vertikal dalam satu kali musim tanam pada lahan pertanian kering setara dengan 1747. 8 kg urea, 20.28 kg SP36 dan 6.61 kg KCl per hektar (BP2TP DAS IBT 2006), (4). Meningkatkan kehidupan jasad mikro di dalam tanah, dan (5). Meningkatkan kelembaban tanah.

2. Mulsa anyaman

Anyaman mulsa yang terbuat dari alang-alang dapat dimanfaatkan untuk mencegah erosi. Penganyaman dilakukan menggunakan tali rafia, tali ijuk atau tali lain yang dapat bertahan lama.  Cara membuatnya adalah sebagai berikut: (1). Alang-alang dipotong sama panjang sekitar 50 cm – 1 m. Lebar mulsa disesuaikan dengan lebar dan tinggi bedengan sehingga dapat menutup seluruh bedengan. Untuk lebar bedengan sekitar 110 cm, dengan tinggi 30 cm, maka lebar mulsa = 110 + (2 x 30) = 170 cm. Siapkan 4 buah balok kayu sebagai pengikat tali dengan panjang balok sekitar 10 cm dan lebar 5 cm; (2). Siapkan tali rafia atau tali ijuk, potong-potong, sesuaikan lebar bedengan atau sekitar 2 m untuk lebar bedengan 170 cm kemudian belah 2 memanjang; (3). Ikatkan masing-masing ujung tali pada balok kayu, kemudian lipat dua tali hingga bagian tengah tali dan ujung balok bertemu; (4). Ambil satu genggam bahan mulsa, selang-selingkan antara pangkal batang dan ujung batang sehingga diperoleh mulsa yang rata ketebalannya; (5). Mulailah menganyam dari ujung tengah tali; (6). Untuk panjang 1 digunakan 2 buah tali. Selipkan tali berselang-seling sehingga diperoleh lembaran mulsa yang rapat namun masih memungkinkan memasukkan tanaman dari atasnya.

Keunggulan mulsa anyaman: (1). Mudah dalam pemeliharaan, (2). Menekan perkembangan gulma: Penyiangan cukup dilakukan di sekitar batang tanaman, (3). Mengurangi frekuensi penyiraman karena berkurangnya penguapan, (4). Meningkatkan kelembaban tanah.

Pemeliharaan mulsa anyaman: (1). Mulsa anyaman dapat digunakan 2-3 kali musim tanam tergantung musim; Penanaman dimusim kemarau dapat menggunakan mulsa hingga tiga kali musim tanam, (2). Pemanenan dilakukan dengan cara terlebih dahulu mencabut semua bagian tanaman yang berada diatas mulsa, (3). Setelah semua dipanen mulsa digulung atau ditumpuk dengan hati-hati untuk penggunaan berikutnya, (4). Bagian mulsa yang rusak pada penggunaan mulsa untuk musim tanam berikutnya dapat ditutup dengan bahan mulsa yang sam

3. Mulsa sisa tanaman

Mulsa ini terdiri dari bahan organik sisa tanaman (jerami padi, batang jagung), pangkasan dari tanaman pagar, daun-daun dan ranting tanaman. Bahan tersebut disebarkan secara merata di atas permukaan tanah setebal 2-5 cm sehingga permukaan tanah tertutup sempurna. Mulsa sisa tanaman dapat memperbaiki kesuburan, struktur, dan cadangan air tanah. Mulsa juga menghalangi pertumbuhan gulma, dan menyangga (buffer) suhu tanah agar tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Selain itu, sisa tanaman dapat menarik binatang tanah (seperti cacing), karena kelembaban tanah yang tinggi dan tersedianya bahan organik sebagai makanan cacing. Adanya cacing dan bahan organik akan membantu memperbaiki struktur tanah. Mulsa sisa tanaman akan melapuk dan membusuk. Karena itu perlu menambahkan mulsa setiap tahun atau musim, tergantung kecepatan pembusukan. Sisa tanaman dari rumput-rumputan, seperti jerami padi, lebih lama melapuk dibandingkan bahan organik dari tanaman leguminose seperti benguk, Arachis, dan sebagainya.

Mulsa anorganik terbuat dari bahan-bahan sintetis yang sukar/tidak dapat terurai. Contoh mulsa anorganik adalah mulsa plastik, mulsa plastik hitam perak atau karung. Mulsa anorganik dipasang sebelum tanaman/bibit ditanam, lalu dilubangi sesuai dengan jarak tanam. Mulsa anorganik banyak digunakan dalam budidaya semangka, cabai, atau melon. Sejauh ini mulsa yang biasa digunakan dalam budidaya semangka berupa bahan sintetik yaitu mulsa hitam perak (MHP).

Teknik budidaya dengan sistem mulsa plastik hitam perak (MPHP) merupakan pengembangan teknologi sistem mulsa plastik untuk berbagai usaha tani tanaman sayuran dan buah-buahan yang dirintis oleh negara Jepang dan Taiwan. MPH ini memiliki dua muka dan dua warna yaitu muka pertama berwana hitam dan muka kedua berwarna perak. Warna hitam dimaksudkan untuk menutup permukaan tanah, dimana warna ini akan menyerap panas sehingga suhu di perakaran tanaman menjadi hangat. Akibatnya, perkembangan akar akan optimal sehingga aktifitas mikroorganisme dalam tanah bisa berkembang dengan baik yang menyebabkan semangka dapat dipanen lebih awal.  Selain itu warna hitam juga mencegah sinar matahari menembus ke dalam tanah sehingga benih-benih gulma tidak akan tumbuh. Sedangkan warna perak dimaksudkan sebagai permukaan atas tempat menanam suatu tanaman budidaya dimana warna ini akan memantulkan cahaya matahari sehingga proses fotosintesis menjadi lebih optimal, kondisi pertanaman tidak terlalu lembab, mengurangi serangan penyakit, dan mengusir atau menekan jumlah serangga penggangu tanaman seperti Thirps, Aphids, tungau, dan  ulat daun pada semangka. Selain itu, mulsa juga dapat menjaga buah yang berada di atas permukaan tanah terhindar dari percikan air tanah sehingga dapat mengurangi resiko berjangkitnya penyakit busuk buah. Praktis untuk melakukan sterilisasi tanah dengan menggunakan gas fumigan seperti Basamid-G, karena fungsi MPHP mempercepat proses pembentukan gas zat fumigan tanpa harus membeli plastik khusus, serta dapat mengurangi pekerjaan penyiangan dan penggemburan tanah sehingga menghemat biaya usaha budidaya. Untuk tanaman yang berumur pendek seperti semangka ini, mulsa plastik hitam perak dapat digunakan 2 kali masa tanam.

Adapun pemasangan mulsa plastik yang tepat dilakukan dengan cara di bawah ini: (1). Mulsa dipasang ketika matahari sedang bersinar dengan teriknya, sehingga mulsa mudah memuai dan akan menutup rapat bedengan. (2). Mulsa dipasang dengan bagian perak menghadap ke atas, (3). Pemasangan mulsa sedikitnya dilakukan oleh empat orang. Mula-mula, mulsa dipasang dengan cara dua orang memegang masing-masing ujung mulsa pada masing-masing ujung bedengan. Dua orang lainnya, masing-masing memegang mulsa pada sisi-sisi bedengan. Tarik tepi mulsa hingga mulsa menutup seluruh bagian bedengan. Gunakan pasak dari bambu untuk mengaitkan sisi-sisi mulsa dengan bedengan, sehingga mulsa tidak mudah terlepas. Pemasangan pasak dilakukan di sekeliling bedengan dari ujung satu ke ujung lainnya, (4). Setelah itu, mulsa terpasang didiamkan selama 2-3 minggu, agar proses fermentasi atau dekomposisi tanah bisa berjalan lancar, (5). Kemudian, mulsa dilubangi dengan menggunakan alat pelubang mulsa berupa kaleng berdiameter 10 cm. Lubang dibuat sesuai jarak tanam, yakni 50-60 cm dalam barisan dan 70-80 cm antarbarisan. Jarak tanam berpengaruh terhadap tingkat kelembapan di sekitar tanaman; tingkat perkembangan patogen; tingkat penggunaan unsur hara tanah; dan intensitas penerimaan cahaya matahari. Jarak tanam yang terlalu rapat menyebabkan peningkatan kelembapan tanah, sehingga bisa memicu tumbuhnya patogen. Selain itu, pertumbuhan tanaman menjadi terhambat karena proses fotosintesis tidak berjalan sempurna, (6). Setelah mulsa dilubangi, diamkan selama 3-4 hari atau seminggu, sehingga gas di dalam tanah hilang. Selanjutnya, bibit siap ditanam ke dalam lubang yang telah disiapkan. Disarankan, tenggat waktu antara tanah ditutup mulsa dengan pemindahan bibit tidak terlalu cepat, sebab di dalam mulsa tengah terjadi fermentasi atau dekomposisi gas yang bisa menghambat pertumbuhan atau malah mematikan bibit yang ditanam.
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Thursday, 17 January 2013 02:28 )