Budidaya Hortikultura Ramah Lingkungan PDF Print E-mail
GAMBAR - JUDUL
Written by ndik   
Wednesday, 11 September 2019 01:31

2019-09-11 / 08:32:14

Dorong Budidaya Hortikultura Ramah Lingkungan

Kementan Tambah Klinik PHT

Guna mendukung Gerakan Pengendalian OPT Hortikultura ramah lingkungan di seluruh kawasan produksi hortikultura di Indonesia, Kementan melakukan penguatan kelembagaan perlindungan Hortikultura melalui Klinik PHT. Sampai akhir 2018, jumlah klinik PHT hortikultura di Indonesia tercatat 238 unit. Pada Tahun 2020 akan dialokasikan klinik baru sebanyak 250 unit.

 

 

Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf, saat ditemui usai kegiatan Focus Group Discussion (FGD) tentang penguatan kelembagaan Klinik PHT di Bogor (10/9) menyebut pihaknya berkomitmen menjalankan amanat UU No 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura agar menggunakan bahan pengendali ramah lingkungan untuk mengatasi Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). "Kami akan optimalkan klinik PHT yang ada. Untuk sentra-sentra hortikultura terlebih komoditas strategis seperti cabai dan bawang yang belum ada klinik PHT, kami upayakan ada penambahan," ujar wanita yang akrab dipanggil Yanti tersebut.

"Klinik PHT harus fokus di sentra utama, struktur organisasinya juga harus jelas. Petugas Pengawas OPT bergerak aktif dan selalu berkoordinasi rutin dengan Dinas Pertanian setempat. Bagus juga kalau Klinik PHT bisa rutin menyampaikan testimoni berbagai keberhasilan yang dicapai agar diketahui para petani lainnya," kata Yanti. "Para pemerhati ramah lingkungan musti rutin melakukan kampanye PHT yang ramah lingkungan melalui media sosial. Terlebih tahun 2020 nanti akan dicanangkan sebagai Tahun Kesehatan Tanaman Internasional dalam Sidang Umum PBB. Ini momentum Klinik PHT menunjukan eksistensinya," tandas Yanti.

Staf Pengajar Institut Pertanian Bogor (IPB), Bonjok Istiadji, yang tampil sebagai narasumber mengatakan bahwa kegiatan pengendalian hama terpadu (PHT) harus dilakukan secara biointensif dan selaras dengan konsep Good Agriculture Practices (GAP). "Klinik PHT di tingkat petani sebaiknya rutin melakukan kerjasama dengan Perguruan Tinggi setempat, terutama yang menangani disiplin ilmu perlindungan tanaman. Petugas Klinik PHT harus lebih proaktif dalam menjemput client dan menyelesaikan permasalahan petani," papar Bonjok. Menurut Bonjok, idealnya petani memiliki keahlian dalam perlindungan tanaman yang spesifik lokasi, spesifik komoditas dan spesifik sentra. "Klinik PHT bisa jadi media komunikasi dan diskusi. Bisa pakai aplikasi populer sepertu WhatsApp Grup," katanya.

Kepala Laboratorium Pengamatan Hama Pertanian (LPHP) Bantul DIY, Paryoto, pada kesempatan yang sama mengatakan perlindungan tanaman harus fokus pada tiga hal, yakni sistem, pelaku dan tenaga pendamping. "Dalam manajemen tata kelola Klinik PHT perlu pembagian peran pelaksana, ada divisi marketing produk serta ada insentif bisnis dan jaminan kontrak tanam termasuk Quality Control nya," urai Paryoto. "Idealnya satu sentra produksi terdapat satu klinik pelayanan PHT," imbuhnya.

Sementara, peserta FGD yang datang dari beberapa perwakilan LPHP, mengusulkan revitalisasi Klinik PHT di seluruh Indonesia terutama peningkatan kompetensi SDM Klinik PHT melalui pelatihan mengingat perkembangan teknologi Agens Hayati sudah sangat pesat. Teknologi tersebut diantaranya aplikasi Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), Bakteri Endofit, Bakteri Anti Kekeringan, Bakteri Anti Frost, bioteknologi hingga teknologi remote sensing untuk monitoring intensitas serangan OPT.

 


 

Dihubungi terpisah, Ketua Kelompok Tani Cabai "Sidodadi" Dusun Braol, Campursari, Ngadirejo Temanggung, Yasmadi, menuturkan selama 3 tahun terakhir kelompoknya sudah menerapkan program budidaya ramah lingkungan. "Kami sudah bisa membuat dan mengaplikasikan Trichoderma dan PGPR di lapangan. Hasilnya sangat optimal," kata Yasmadi yang mengaku mengkoordinir kelompok binaan yang tersebar 3 desa seluas 150 hektar.

"Kami juga tanam refugia dan bunga matahari sebagai tanaman pembatas.Likat kuning juga kami gunakan. Hasilnya sangat membantu mengurangi serangan hama. Teknologi ramah lingkungan ini aman bagi kami sendiri sebagai petani maupun orang lain," ucapnya senang. " Bagusnya lagi, biaya produksi cabai kami bisa berkurang hingga 30 persen. Jadi sangat menguntungkan pakai teknologi ramah lingkungan ini," pungkas Yasmadi.

 

 

 

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Wednesday, 18 September 2019 04:03 )