NTT Terapkan Hortikultura Ramah Lingkungan PDF Print E-mail
GAMBAR - JUDUL
Written by ndik   
Friday, 20 September 2019 12:15

2019-09-20  / 19:15:56

KEMENTAN DUKUNG SEMANGAT NUSA TENGGARA TIMUR TERAPKAN

HORTIKULTURA RAMAH LINGKUNGAN

Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dikenal sebagai daerah kering, ternyata mempunyai potensi pengembangan hortikultura yang cukup besar. Saat ini dimana sebagian besar wilayah di Indonesia mengalami kekeringan, beberapa lokasi di NTT masih menikmati kecukupan air untuk bertani. Di wilayah dataran tinggi kabupaten Ende, Manggarai, Manggarai Barat, Timor Tengah Selatan, petani sayuran masih menanam tanaman hortikultura dengan ketersediaan air yang cukup.

 

Saat kunjungan kerja ke Propinsi NTT, Direktur Perlindungan Hortikultura, Kementerian Pertanian, Sri Wijayanti Yusuf, mengatakan bahwa NTT menyimpan banyak potensi pengembangan hortikultura. Wilayah ini mempunyai iklim yang unik, dimana pada musim kemarau seperti ini, NTT mendapat udara dingin, dampak musim dingin dari Australia  Dengan keunikan ini, serta ketersediaan air yang memadai, tanaman hortikultura dapat tumbuh secara optimal, seperti bawang putih, bawang merah, jeruk dan buah lainnya.

 

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Propinsi Nusa Tenggara Timur, Yohanes Oktovianus, mengatakan bahwa pemerintah daerah NTT bertekad untuk memenuhi kebutuhan buah, sayur, tanaman obat dan tanaman hias dari wilayahnya sendiri. Kami punya potensi yang besar untuk pengembangan hortikultura, terutama untuk mendukung pengembangan pariwisata yang sedang digalakan, untuk itu kami perlu dukungan pemerintah pusat, jelasnya.

Sri Wijayanti menambahkan, bahwa  dukungan APBN 2019 di propinsi NTT untuk pengembangan hortikultura tersebar di 22 Kabupaten. Dukungan ini sesuai dengan tekad dan semangat  Pemerintah Propinsi NTT dalam membangun wilayahnya.  Beberapa komoditas yang dikembangkan adalah bawang merah, cabai, bawang putih, jeruk, pisang dan mangga. Kementan berharap, dengan dukungan tersebut, semua pulau besar di NTT menjadi wilayah mandiri cabai dan bawang merah, sehingga ketersediaan dan harga menjadi stabil. Khusus untuk pengembangan bawang putih, Sri berharap, dengan kondisi iklim yang unik ini,  kedepan NTT, bersama dengan propinsi Nusa Tenggara Barat mampu menjadi sentra bawang putih Indonesia di wilayah timur.

Pada kunjungan kerja tersebut, Sri berkesempatan mengunjungi kecamatan Kelimutu kabupaten Ende,  yang terkenal dengan keindahan danau tiga warna yang sering berubah-ubah warnanya. Wilayah dengan ketinggian di atas 1.000 mdpl tersebut,  menyimpan potensi pengembangan hortikultura yang cukup besar. Berbagai tanaman buah, dan sayur-sayuran seperti jeruk, pisang, markisa, sawo, apel, nanas, kentang kubis, sawi, wortel dan lainnya, tumbuh dengan sangat baik di wilayah ini.

 

Petani bawang putih, Rafael Dala, dari elompok Tani Embun Rini, Desa Nduaria, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende sangat senang, dengan bantuan sarana produksi dari Pemerintah untuk menanam kembali bawang putih, yang sempat ditinggalkannya beberapa tahun. Kami ingin kembalikan kejayaan bawang putih, bukan hanya menjadi legenda masa lalu, ujarnya.

Untuk mempertahankan kelestarian alam yang masih sangat terjaga dengan baik ini, Sri juga menyampaikan, bahwa Direktorat Jenderal Hortikultura akan terus mendorong agar pengembangan hortikultura di NTT dilakukan secara ramah lingkungan, dengan lebih banyak menggunakan input saprodi berbahan organik, pemanfaatan agen hayati, penanaman refugia untuk konservasi musuh alami, serta pemanfaatan bahan organik lainnya.  Nurdin, Kepala Bidang Hortikiltura, Dinas Pertanian Kabupaten Ende, menjelaskan bahwa jumlah petani hortikultura di wilayah Ende memang masih sangat sedikit yang menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Sebagian besar produk hortikultura disini organik, karena petani jarang sekali menggunakan pupuk dan pestisida kimia untuk berbudidaya hortikultura, tambahnya. Hubertus, koordinator Penyuluh Pertanian Lapang Kabupaten Ende, yang telah puluhan tahun mendampingi kelompok tani diwilayah Ende, menguatkan penjelasan Nurdin tentang kebiasaan petani tersebut.  Pada kesempatan kunjungan lapang tersebut, Wido petugas dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Propinsi NTT,  menambahkan bahwa, mereka selalu mengajak para petani untuk berbudidaya hortikultura secara ramah lingkungan dengan mengarahkan agar petani penerima bantuan dari APBN selalu menggunakan input saprodi berbahan organik.

Mengakhiri kunjungan lapangnya, Sri optimis, bahwa NTT akan menjadi salah satu wilayah  penghasil produk organik hortikultura dari wilayah timur Indonesia.

 #SalamRamahLingkungan

#DitlinHortikultura

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."