Bertani dilahan gambut PDF Print E-mail
GAMBAR - JUDUL
Written by ndik   
Sunday, 22 September 2019 23:32

2019-09-23 / 06:32:49

JANGAN TAKUT BERTANI DILAHAN GAMBUT

Tagline tersebut menjadi viral dikalangan petani, petugas dan instansi yang terkait dalam pengembangan sektor pertanian di Propinsi Kalimantan Barat, karena besarnya potensi lahan gambut. Kota Pontianak, salah satu kota dengan luas lahan gambut yang cukup besar sedang giat giatnya mengkampanyekan budidaya hortikultura ramah lingkungan pada lahan gambut.

Salah satu komoditas unggulan lokal yang banyak dikembangkan di Kota Pontianak adalah lidah buaya, sayuran daun, papaya dan hortkultura lainnya. Dengan potensi lahan gambut yang sangat luas, Kota Pontianak, berpeluang untuk mengembangkan hortikultura secara ramah lingkungan dan terhampar pada lahan gambut seluas puluhan hektar.  Adalah pak Suwardi, Ketua Kelompok Tani (KT) Usaha Sejahtera dengan 11 anggotanya, telah hampir 2 dasawarsa berusahatani lidah buaya, sayuran dan papaya, secara ramah lingkungan didesa Sungai Selamat Kecamatan Pontianak Utara, Kota Potianak.  Saai ini mereka sedang membudidayakan lidah buaya, sayuran daun dan papaya secara ramah lingkungan pada hamparan lahan gambut kurang lebih 10 hektar. 

Kini hasil panen Lidah Buaya mereka telah merambah ke Jakarta untuk memasok bahan baku industry kosmetik.  Dengan usia panen yang cukup lama, 8 bulan, KT Usaha Sejahtera ini telah menyesuaikan pola tanam lidah buaya sehingga panen dapat dilakukan 2 kali dalam senimggu.  Demikian pula untuk budidaya ramah lingkungan komoditas hortikultura lainnya, seperti sayuran daun dan papaya,  KT ini juga mengelolanya dengan tanpa bahan kimia.

Pada kesempatan kunjungan lapang, akhir minggu ketiga Agustus lalu, Direktur Perlindungan Hortikultura, Ir. Sriwijayanti Yusuf, M.Sgr.Sc.,  menyampaikan apresiasinya, atas usaha Suwardi dan anggota KT nya, dalam menerapkan budidaya hortikultura ramah lingkungan, dengan tanpa menggunakan sama sekali bahan kimia. Perlakuan budidaya yang telah lama diterapkan adalah penggunaan pupuk kendang yang telah difermentasi, trichoderma sebagai pestisida nabati, serta abu sabut sebagai penyeimbang pH gambut yang cukup tinggi kadar keasamannya. Kini Suardi dan anggotanya tinggal menikmati hasil panen dengan harga jual Lidah buaya Rp. 1.350 – 2000,-/kg, mereka mampu memasarkan 2,5 ton dalam seminggu, belum lagi hasil panen dari sayuran daun dan pepaya.  Pada kesempatan tersebut, Direktur Perlindungan Hortikultura, didampingi oleh Kepala Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH), Kalimantan Barat, Yuliana Yulinda, Koordinator Pengamat Organisme Penyakit Tumbuhan (POPT), dan   staf teknis. Yuliana menyampaikan bahwa, BPTPH akan terus mendampingi KT diwilayah lahan gambut untuk mengembangkan budidaya hortikultura lainnya secara ramah lingkungan. 

Diakhir kunjungan lapangnya, Direktur Perlindungan Hortikultura, terus memberikan motivasi kepada Suardi dan beberapa anggotanya, untuk mengembangkan budidaya ramah lingkungannya, menjadi budidaya organik, untuk menyediakan pangan sehat dan aman konsumsi sekaligus menjaga kelestarian alam pada lahan gambut yang tersedia secara luas.  Sriwijayanti juga mengarahkan sekaligus menginstruksikan agar BPTPH semakin meningkatan kualitas layanan bimbingan teknis terhadap pengembangan budidaya hortikultura ramah lingkungan di propinsi Kalimantan Barat.

 

by : Kurnianur

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."