Ditjen Hortikultura Siapkan Pompa Air Bagi Petani PDF Print E-mail
GAMBAR - JUDUL
Written by ndik   
Wednesday, 02 October 2019 23:44
2019-10-03 / 06:44:37
 
DITJEN HORTIKULTURA SIAPKAN POMPA AIR BAGI PETANI
DI DAERAH TERKENA DAMPAK KEKERINGAN
 
Sebagian besar masyarakat Kalimantan Selatan menjadikan pertanian sebagai sumber penghidupan utama sebagai petani. Komoditas hortikultura khususnya sayuran dan buah-buahan memegang bagian terpenting dari keseimbangan pangan, sehingga harus tersedia setiap saat dalam jumlah yang cukup, mutu yang baik, aman konsumsi, harga yang terjangkau, serta dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Pada umumnya petani menanam berbagai jenis sayuran diantaranya ; cabai besar, cabai rawit, sawi, kacang panjang, mentimun, pare, kemangi, tomat, gambas di lahan dekat pemukiman dengan luasan sempit.
 
 
 
Budidaya pertanian di Kalimantan yang banyak merupakan lahan lebak dihadapkan dengan dua kendala utama akibat Dampak Perubahan Iklim (DPI), yakni kebanjiran pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau, sehingga waktu panen sulit diperkirakan. Teknologi budidaya tanaman sayuran yang dilakukan oleh petani masih sederhana dengan pengetahuan lokal sehingga produktivitas dibawah potensi komoditasnya. Masalah kekeringan sering mengakibatkan gagalnya panen, oleh karena itu perlu ditemukan teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas lahan dan tanaman. Sentra sayuran Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, terkena dampak kekeringan sejak tiga bulan terakhir sehingga petani saat ini tidak berani menanam sayuran seperti biasanya, yang ada bertanam sayuran  produksinya menurun dibandingkan sebelumnya, jelas Bahriman Petugas Pengendali Organisme Tumbuhan (POPT) Landasan Ulin, Kota Banjarbaru.
 
  
 
Antisipasi DPI jangka pendek di bidang pertanian dapat dilakukan untuk mengurangi kemungkinan kerugian lebih besar pada usahatani dengan menyusun rencana pengelolaan hortikultura yang adaptis terhadap DPI, meliputi pemeliharaan lokasi di luar daerah DPI, memperbanyak pemupukan organik, penggunaan benih unggul yang toleran banjir/kekeringan, dan menyesuaikan pola tanam dengan kondisi musim, serta menyiapkan sarana embung dan pompanisasi untuk membuang air bila terjadi banjir dan mengairi kebun saat mengalami kekeringan. Kemarau ataupun kekeringan sangat berdampak terhadap produksi sayuran sehingga perlu diambil langkah antisipasi menghadapinya dengan menyiapkan pompa air, dan membuat sumur di sekitar kebun, disamping tetap melakukan pengendalian OPT berdasarkan Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
 
Dampak kekeringan juga dialami Syahrono dari Kelompok Tani (KT) Bangun Dam Sejahtera, Kecamatan Sungai Ulin, Kota Banjarbaru di lahan sekitar 20 hektar yang sudah 3 tahun ini menanam bawang merah bersama 25 orang anggota kelompoknya, terpaksa pada musim ini tidak dapat menanam bawang merah karena tidak ada air dan lahannya agak jauh dari sumber air. Padahal dari pengalamannya selama ini bertanam bawang merah pasti untung, per hektar dapat menghasilkan 8 ton dengan kebutuhan 1 ton umbi bibit. Dalam mengendalikan hama dan penyakit yang menyerang pertanamannya, Syahrono sudah mulai menggunakan bahan pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang ramah lingkungan, misalnya Trichoderma, PGPR (“Plant Growth Promoting Rhizobacter”) dan pestisida nabati seperti yang seringkali dianjurkan Pak Rusbandi sebagai POPT setempat, ujar Syahrono. Berbeda dengan Paimin petani sayuran yang anggota KT Karya Bersama, Kecamatan Sungai Ulin, Kota Banjarbaru, yang lahannya dekat dengan sumber air, saat in masih tetap menanam bawang merah dan beberapa jenis sayuran seperti bayam dan sawi di lahan belakang tempat tinggalnya.
 
Pada kesempatan pendampingan dan pembinaan yang dilakukan Direktorat Perlindungan Hortikultura, Nadra didampingi petugas Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Kalsel Wiwin dan Zakiah serta Rusbandi POPT setempat bersama Rabiatul Kasi Hortikultura DKP3 Kota Banjarbaru dan Nila PPL setempat ke KT Karya Bersama, Kecamatan Sungai Ulin, Kota Banjarbaru tanggal 12 September 2019, kembali memberikan pemahaman kepada  petani bahwa adanya serangan OPT dapat menurunkan hasil dan kualitas produksi pertanian serta penggunaan pestisida kimia yang tidak tepat akan berdampak terganggunya ekosistem dan adanya residu pestisida pada produk yang dikonsumsi. Kendala yang dihadapi petani saat ini adalah dampak kemarau yang mengakibatkan petani kesulitan air untuk menyiram pertanaman.
 
Dijelaskan pula untuk kemarau saat ini agar petani bisa terus berbudidaya bawang merah, perlu mengambil langkah antisipasi yang dilakukan seperti menyiapkan pompa air dan membuat sumur di sekitar kebun yang dekat dengan sumber air, disamping adanya pendampingan dari Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Selatan (BPTPH) dalam melaksanakan gerakan pengendalian OPT bersama petani yang bersifat stimulan merupakan upaya dalam pengamanan produksi hortikultura.
 
Pembinaan teknis, fasilitasi sarana prasarana pengendalian OPT yang ramli dalam bentuk perbanyakan agens hayati dan pestisida nabati terus disampaikan petugas POPT setempat yang merupakan ujung tombak penerapan pengendalian OPT ramli di wilayah binaannya. Kalimantan Selatan melalui BPTPH merupakan salah satu daerah yang akan dialokasikan bantuan benih cabai dan sarana pengendalian OPT serta pompa air  dari Direktorat Jenderal Hortikultura dalam waktu dekat. Hal tersebut disampaikan Nadra dari Direktorat Perlindungan Hortikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura saat melakukan pendampingan dan pengawalan pelaksanaan kegiatan perlindungan hortikultura disana.
 
Disampaikan pula pernyataan Direktur Perlindungan Hortikultura Sri Wijayanti Yusuf, dalam berbagai kesempatan terpisah bahwa “Kementan meminta kepada semua BPTPH untuk melaksanakan pengendalian OPT secara “pre-emtif” dengan memanfaatkan bahan pengendali OPT yang ramah lingkungan yang sudah banyak dihasilkan oleh Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) serta memonitor secara intensif pertanaman hortikultura, sehingga gangguan OPT tidak mengganggu produksi dan mutu produk hortikultura. Ditjen Hortikultura mendorong petani untuk menerapkan budidaya ramah lingkungan, dengan mengaplikasikan lebih banyak bahan organik dan bahan pengendali biologi, mulai dari persiapan lahan, pemeliharaan sampai panen. Hal inipun tentunya perlu adanya kebersamaan dan keinginan yang kuat dari semua pihak untuk bisa memaksimalkan budidaya hortikultura yang lebih ramah lingkungan.
 
Oleh : Nadra 
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Wednesday, 02 October 2019 23:52 )