Sayuran Aman Konsumsi PDF Print E-mail
GAMBAR - JUDUL
Written by ndik   
Sunday, 13 October 2019 13:06

2019-10-13 / 20:07:44

Hasilkan Sayuran Aman Konsumsi,

Petani di Mamuju dan Mateng Lakukan Pengendalian OPT Secara Ramli

Provinsi Sulawesi Barat merupakan pengembangan Provinsi Sulawesi Selatan, dibentuk pada tanggal 5 Oktober 2004 berdasarkan UU No. 26 Tahun 2004. Luas wilayahnya sekitar 16.796,19 km, terletak paling barat dari Kepulauan Sulawesi. Secara administratif provinsi ini terdiri dari 6 (enam) kabupaten, dengan Mamuju sebagai ibukota provinsi. Kabupaten Mamuju dan Mamuju Tengah yang mayoritas masyarakatnya petani dan peternak hewan merupakan daerah yang didorong untuk pengembangan sayuran, sehingga dapat memenuhi kebutuhan lokal dan harga sayuran dapat menjadi lebih murah. Harga komoditas sayuran mungkin yang paling berfluktuasi dibandingkan komoditas lainnya diantara produk pertanian. Fluktuasi harga tersebut diantaranya disebabkan oleh sifat produk sayuran yang tidak dapat disimpan lama dan mudah rusak, sehingga petani umumnya mengusahakan sayuran dalam skala yang tidak terlampau luas. Namun demikian, produk sayuran merupakan produk yang diperlukan oleh masyarakat setiap hari, sehingga transaksi produk sayuran hampir terjadi setiap hari. Proses pembangunan di Kabupaten Mamuju dan Mamuju Tengah lebih di prioritaskan pada sektor pertanian, dan dijadikan sebagai lokomotif pembangunan ekonomi serta menjadi tulang punggung pembangunan. Saat ini, sejumlah petani di kabupaten tersebut telah berkonsentrasi mengembangkan tanaman hortikultura, di antaranya adalah cabai keriting dan cabai rawit.

Seperti yang dikatakan Muhtar sebagai Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulbar, pada suatu kesempatan terpisah bahwa “saat ini produksi cabai rawit di Sulbar mencapai 2.000 ton dan diharapkan dapat meningkat dengan pengembangan cabai rawit yang terus dilakukan pemerintah. Sulbar akan senantiasa mengembangkan tanaman holtikultura, karena dianggap akan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dan kesejahteraan petani”. Ditjen Hortikultura pada tahun 2019 mengalokasikan APBN untuk pengembangan kawasan cabai di Sulawesi Barat seluas 210 ha. Dengan dukungan Kementerian Pertanian, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat berupaya mencapai swasembada sayuran dengan memanfaatkan lahan tidur dan lahan pekarangan. Sub sektor hortikultura memiliki peran penting dalam penyediaan kebutuhan pangan, sumber lapangan kerja dan pendapatan. Berbagai upaya telah dilakukan guna menjaga stabilitas ketersediaan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia melalui pengawalan pertanaman dari gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI). Oleh karena itu demi menjaga agar tanaman aman dari serangan OPT dan sekaligus menjaga agar ekosistem tidak terganggu, perlu dilakukan pengendalian OPT dan penanganan DPI secara Ramah Lingkungan (Ramli) dengan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yaitu dengan budidaya tanaman sehat, pemanfaatan musuh alami, melakukan pengamatan berkala dan petani ahli PHT. Hal ini disampaikan Nadra Kasubdit Pengendalian OPT Tanaman Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Perlindungan Hortikultrura, Ditjen Hortikultura saat memberikan bimbingan teknis pada Kelompok Tani Massiddi Ada di Desa Kalukku Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju dan Kelompok Tani Siatonangi di Desa Pangaloang Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah.

Pak Hamzah sebagai Ketua Kelompok Tani (KT) Massiddi Ada dengan mengajak anggotanya yang berjumlah 26 orang biasa bertanam sayuran di lahan masing-masing dekat pemukiman dengan luasan sempit yang sekitar 0,5 hektar. Petani  menanan sayuran cabai, terong, sawi, kangkung cabut, bayam, kacang panjang, buncis dan labu siam, secara terus menerus dengan tomat secara tumpang sari. Setiap 3 hari hasil panen sawi, tomat dan cabai langsung dijual sendiri di pasar. Menanam sayuran khususnya sawi cukup menguntungkan untuk mendapat penghasilan lebih, ujarnya. Biaya produksi dapat berkurang dengan adanya Klinik PHT pada KT yang diketuainya sejak tahun 2015. Selama ini KT antusias dan responsif terhadap penggunaan Agens Hayati (AH), tanaman refugia sebagai konservasi musuh alami OPT mulai banyak ditanam sekeliling lahan. Hal senada ditambahkan Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Sulawesi Barat, Samsuarni pada kesempatan yang sama bahwa penggunaan AH yang diperbanyak oleh KT Massiddi Ada telah berhasil mencegah perkembangan penyakit, meningkatkan produktivitas tanaman serta menggurangi penggunaan pestisida kimia. Petugas POPT setempat yang merupakan ujung tombak penerapan pengendalian OPT ramli di wilayah binaannya selalu siap memberikan dukungan berupa bimbingan dan pendampingan teknis pengendalian OPT, perbanyakan bahan pengendali OPT yang ramah lingkungan antara lain  Trichoderma, PGPR (“Plant Growth Promoting Rhizobacter”) dan pestisida nabati.

Semangat Kelompok Tani Siatonangi yang diketuai Pak Adam di Desa Pangaloang Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah dalam budidaya sayuran pantas diacungi jempol. Saat kunjungan ke lahan cabai milik Ale petani muda anggota KT Siatonangi, terlihat dia antusias mengembangkan sayuran secara ramah lingkungan. Seperti penjelasan Pak Sukri Kepala Lab. PHP Salugatta Kecamatan Budong-Budong bersama Agustinus POPT Kecamatan Topoyo bahwa para petani muda dan milenial di wilayah binaannya dikenal aktif mendorng implementasi budidaya ramah lingkungan kepada seluruh petani binaan.  Sudah 3 tahun ini Ale yang masih lajang fokus mengembangkan komoditas cabai keriting. Bersama KT nya dia selalu mengajak petani lain menerapkan budidaya ramah lingkungan, dan ternyata sambutannya luar biasa, ungkap Ale. Walaupun musim kering saat ini, panen tetap meningkat sampai umur tanaman 8 bulan dan bisa mencapai 20 ton/hektar. Dengan harga cabai saat ini berkisar 20 ribu rupiah per kilogram, keuntungan yang diperoleh sudah terbayang cukup besar, ditambah lagi dengan memanfaatkan bahan pengendali OPT yang diperbanyak sendiri, maka biaya impas dapat ditekan yg semula 12 ribu rupiah menjadi 10 ribu rupiah , ucapnya.

Pada kesempatan tersebut Nadra kembali memberikan pemahaman kepada  petani bahwa dalam menyikapi merebaknya OPT yang menyerang tanaman hortikuktura saat anomali iklim, Direktorat Jenderal Hortikuktura mendorong pengendalian ramah lingkungan baik secara preventif maupun kuratif. Wujudnya berupa penggunaan perangkap likat, PGPR, sex pheromone, biopestisida dan penanaman jenis refugia seperti bunga kenikir atau bunga matahari. “Harapannya semua pihak lebih peduli dengan isu perubahan iklim ini karena dampaknya terhadap penyediaan pangan kita akan sangat luas”. Adanya serangan OPT dapat menurunkan hasil dan kualitas produksi pertanian serta penggunaan pestisida kimia yang tidak tepat akan berdampak terganggunya ekosistem dan adanya residu pestisida pada produk yang dikonsumsi. Nadra menyarankan agar penggunaan AH semakin dimasyarakatkan dengan membuat demplot-demplot percontohan, sehingga petani dapat langsung melihat dan meniru budidaya tanaman sehat dengan memanfaatkan agens hayati. Disampaikan juga pernyataan Direktur Perlindungan Hortikultura Sri Wijayanti Yusuf, dalam kesempatan terpisah bahwa Kementerian Pertanian sangat mendorong penerapan budidaya hortikultura ramah lingkungan. “Peran LPHP di bawah UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura yang ada di tiap provinsi sangat penting. Kementan bersama Dinas Pertanian Propinsi terus memberdayakan Laboratorium untuk mengembangkan dan menyebarluaskan agens hayati kepada petani hortikultura”, jelasnya. Dirinya berharap dengan memgembangkan pertanian ramah lingkungan, produk aman konsumsi dapat diwujudkan, tuturnya.

 


 

Semoga dengan kegigihan petani sayuran di Mamuju dan Mamuju Tengah, Sulawesi Barat dapat menghasilkan sayuran yang sehat dan aman konsumsi serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka.

 

by ; Nadra

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."