Benih Pisang Sehat PDF Print E-mail
Berita - Berita Utama
Written by ditlinhorti   
Thursday, 20 December 2012 05:27
Perbanyakan Benih Pisang Sehat
(Oleh: Arif Akbar M/Fungsional POPT di Ditlin Horti)

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil buah tropis yang memiliki keanekaragaman dan keunggulan cita rasa bila dibandingkan dengan buah-buahan dari negara-negara penghasil buah tropis lainnya. Produksi buah tropika nusantara terus mengalami peningkatan, pada tahun 2005 produksinya sebesar 14.786.599 ton dan pada tahun 2009 produksi buah mencapai 18.653.900 ton.  Dari total produksi tersebut, pisang menduduki produksi peringkat pertama diikuti mangga dan jeruk. Produksi pisang pada tahun 2009 sebesar 6.373.533 ton atau berkontribusi  sebesar 34 persen terhadap produksi buah nasional. Total areal pertanaman pisang adalah yang paling luas dan tertinggi produksinya dibandingkan dengan areal tanam dan produksi komoditas buah lainnya.

 Sumbangan produksi buah pisang di Indonesia masih mendominasi produksi buah nasional meskipun dari tahun ke tahun ada kecenderungan prosentasenya menurun, bahkan Pisang juga merupakan unggulan ekspor utama buah Indonesia khususnya pada tahun 1996 – 1999. Namun sejak tahun 2000 terjadi penurunan ekspor yang cukup signifikan dari 70.056 ton pada tahun 1999, turun menjadi 2.105 ton pada tahun 2000, bahkan pada tahun 2002 hanya sebesar 512 ton. Hal ini diakibatkan adanya serangan layu fusarium dan bakteri pada pertanaman pisang yang mengakibatkan beberapa perkebunan swasta menghentikan proses produksinya (Gambar 1).

Penyakit layu pisang merupakan penyakit yang paling mengancam produktivitas tanaman pisang. Penyakit dapat disebabkan oleh Jamur Fusarium oxysporum f.sp. cubense, penyakit tersebut biasa disebut penyakit layu fusarium atau penyakit panama penyakit ini relatif lebih sulit dikendalikan dibandingkan penyakit layu yang disebabkan oleh bakteri Ralstolnia solanacearum atau yang disebut juga dengan penyakit darah (Tabel 1). Fusarium merupakan jamur penghuni tanah yang mampu bertahan sangat lama didalam tanah sehingga pada lahan yang pernah terinfeksi disarankan tidak ditanam kembali dengan tanaman pisang atau sejenisnya.

Untuk menangani serangan OPT khususnya penyakit layu memerlukan upaya yang komprehensif karena belum ada teknologi yang dapat mengendalikan penyakit ini. Pengelolaan dilakukan sejak pembibitan (pratanam), penanaman, pemeliharaan, panen dan pasca panen.

Pembibitan merupakan salah satu komponen penting untuk mendukung keberhasilan usaha tani buah. Tanaman yang sehat dan berproduksi optimal berasal dari bibit yang sehat. Bibit pisang dapat diperoleh dari kultur jaringan, bibit hasil kultur jaringan baik digunakan namun, teknologinya sulit dikuasai dan dikerjakan oleh petani. Cara perbanyakan pisang dapat pula dibiakkan petani adalah secara vegetatif  yaitu anakan namun, teknologi yang diterapkan oleh petani untuk mengelola bibit masih tradisional untuk itu diperlukan Teknologi Pengadaan Benih Pisang Sehat secara Konvensional.

1. Persiapan pembuatan bibit pisang

Untuk memperoleh bibit pisang yang baik dan sehat perlu dilakukan perbanyakan tanaman dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

 

  1. Tanaman pisang yang akan diperbanyak diambil dari induk yang sehat, mempunyai vigor yang baik, dan bebas dari OPT atau memerlukan perlakuan khusus sebelum bibit ditanam.
  2. Ditentukan jenis dan varietas pisang dengan baik dan benar berdasarkan ciri morfologi dan fisologi pisang.

Pembuatan Seedbed/persemaian bertujuan untuk menumbuhkan tunas dan akar sampai dengan tanaman baru (bibit) siap dipindah ke lapangan/ditanam atau dipindah ke dalam polibag untuk didistribusikan ketempat lain. Seedbed berisikan media steril dengan komposisi tanah dan pasir 1 : 1, di atasnya diberi nauangan agar bibit tidak terkena sinar matahari secara langsung (Gambar 2a.).

Cara menentukan induk sehat dan perlakuan khusus untuk mengurangi adanya potensi perkembangan OPT:

Bibit diambil dari induk yang sehat, diduga tidak ada serangan OPT. Deteksi adanya OPT dilakukan dengan cara visual dan memotong sebagian bonggol untuk melihat adanya serangan penyakit (layu fusarium) dan hama (penggerek bonggol) (Gambar 2b.). Sebelum ditanam pada Seedbed, calon bibit direndam dalam larutan insektisida dan fungisida dengan tujuan untuk mematikan atau mencegah perkembangan OPT.

2. Prosedur pembuatan bibit

Pembuatan bibit pisang dengan cara konvensional dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
1) Pembuatan bibit pisang dengan cara pembuangan titik tumbuh
Pembibitan bibit dengan cara membongkar tanaman pisang yang telah dipanen kemudian tanaman dibuang bagian pelepah dan batangnya, bonggol kemudian dicuci dan direndam dalam larutan fungisida+insektisida selama 5 – 10 menit, selanjutnya bonggol disemai dalam Seedbed (Gambar 3a).
2) Pembuatan bibit pisang dengan cara bit/belahan bonggol
Bonggol pisang yang telah dipanen dapat langsung ditanam, bisa juga dijadikan bit dengan cara memotong bonggol yang telah dicuci menurut mata tunas dengan ukuran 10 x 10 x 7,5 cm kemudian direndam dalam larutan fungisida+insektisida selama 5 – 10 menit, selanjutnya bit ditanam dalam Seedbed (Gambar 3b).
3) Pembuatan bibit pisang dengan cara pengembangan anakan
Untuk memperoleh bibit tanaman yang nampak seragam anakan dapat diambil langsung dari induknya kemudian dipotong hingga tersisa 3 – 5 cm di atas pangkal batang, bonggol anakan dicuci dan direndam dalam larutan fungisida+insektisida selanjutnya bonggol anakan dapat ditanam dalam Seedbed (Gambar 3c).
 
Selanjutnya bibit pisang yang berasal dari cara pembuatan bibit diatas disemaikan kedalam seedbed, dan dipelihara sampai siap dipindahkan ke lahan (gambar 4.). Perbanyakan bibit pisang dengan cara konvensional merupakan teknologi yang murah, mudah, dan dapat dilakukan oleh petani. Teknologi ini penting untuk dikembangkan dikalangan petani sebagai salah satu solusi ketersediaan benih sehat serta menambah wawasan petani. Untuk mendapatkan bibit yang berkualitas yang harus menjadi perhatian adalah kewaspadaan terhadap adanya serangan penyakit layu yang dapat menyebar melalui tanah, untuk itu, seleksi terhadap induk yang akan diambil mutlak harus dilaksanakan.
Untuk menjaga dan mengamankan produktivitas tanaman pisang di lahan dari serangan penyakit layu langkah yang dapat dilakukan adalah:
  1. Masukkan mikroba antagonis misalnya Trichoderma sp., Pseudomonas fluorescens, Gliocladium sp. kedalam lubang tanam.
  2. Jaga selalu sanitasi kebun.
  3. Buat drainase yang baik untuk mencegah terjadinya genangan air ketika hujan turun di sekitar barisan tanaman pisang.
  4. Bungkus segera jantung pisang setelah keluar dan potong segera setelah sisir buah terakhir selesai keluar.
  5. Sterilkan semua peralatan yang digunakan seperti cangkul, linggis, parang, pisau, sabit, dan lain sebagainya.
  6. Lakukan pengamatan untuk mengetahui ada tidaknya tanaman yang terinfeksi penyakit layu dan segera musnahkan tanaman dengan cara yang tepat tanaman sakit dan tanaman pisang yang ada disekilingnya agar tidak menyebar ke rumpun yang lain.
  7. Jangan membawa buah pisang atau bahan tanaman dari kebun terinfeksi ke kebun lain.
Sampai sekarang belum ada varietas pisang yang sangat tahan ataupun bahan kimia yang mampu mengobati ataupun menanggulangi serangan penyakit layu, pengelolaan penyakit dapat didekati dengan konsep PHT, yaitu dengan memadukan beberapa teknik pengendalian.
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Thursday, 17 March 2016 06:22 )
 
DIREKTORAT PERLINDUNGAN HORTIKULTURA
Jalan Aup Nomor 3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520 - Telepon (021) 7819117, Faximile (021) 78845628
Website : http://ditlin.hortikultura.deptan.go.id - E-mail: ditlinhort@deptan.go.id
Copyright © 2013 Direktorat Perlindungan Hortikultura Design by SadCom Multimedia ndik63@yahoo.com