Bercak Daun pada Leather Leaf fern PDF Print E-mail
Berita - Tulisan POPT
Written by ditlinhorti   
Thursday, 20 December 2012 05:56
Penyakit Bercak Daun pada Leather Leaf fern dan Teknik Pengendalian
Oleh : Hendry Puguh Susetyo, SP

POPT Ahli Pertama Direktorat Perlindungan Hortikultura

Leather Leaf merupakan tanaman tropis, berasal dari Amerika Tengah dan Selatan, selain itu juga banyak terdapat di Selandia Baru dan Australia. Leatherleaf adalah tanaman hias daun yang memiliki nilai ekonomi yang baik dan cocok dikembangkan di Indonesia. Leather Leaf adalah sinonim tanaman Rumohra adiantiformis, yang merupakan tanaman dari jenis paku – pakuan. Leather leaf terdiri dari sekumpulan daun berbentuk segitiga yang simetris antara sisi – sisinya. Warna daun Leather Leaf hijau tua dan muda tergantung pada kesegaran dan tingkat kematangan.

Ketersediaan tanaman leather leaf sepanjang tahun dengan fase hidup medium (3 sampai 4 minggu). Leather Leaf adalah jenis tanaman foliage dataran tinggi tropis, yang akan tumbuh baik pada kondisi lingkungan dengan ketinggian 850 sampai 1.800 meter dari permukaan laut dengan temperatur 19 – 270C, kelembaban relatif 80 – 90 %, intensitas cahaya 3.000 – 5.000 ft candles dan pH tanah 5,5 – 6,5.

Leather Leaf dimanfaatkan  sebagai tanaman hias untuk keperluan dekorasi ruangan dan sebagai pelengkap untuk karangan bunga. Leatherleaf merupakan salah satu tanaman hias unggulan Indonesia. Tanaman hias ini terutama diekspor ke Jepang dengan kebutuhan 150 juta tangkai per tahun. Indonesia memasok leatherleaf ke Jepang satu juta tangkai pada tahun 2007. Target ekspor tahun 2010 adalah tiga juta tangkai dengan luas lahan sekitar 9 ha. Untuk mendukung program ekspor tersebut, negara asal dituntut untuk memproduksi tanaman leather leaf yang bermutu sesuai dengan permintaan negara tujuan. Setiap komoditas yang akan diekspor diminta untuk memenuhi tuntutan yang dipersyaratkan Pasar Internasional. Salah satu tuntutan persyaratan yang telah ditetapkan oleh Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization) adalah Sanitary and Phytosanitary – World Trade Organization (SPS-WTO) yang berkaitan dengan kesehatan tanaman, dimana Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) merupakan suatu hambatan non tarif.

Informasi mengenai OPT pada komoditas yang diekspor baik mengenai bio ekologi dan inang alternatif OPT tersebut akan digunakan oleh negara tujuan ekspor untuk melakukan analisa risiko OPT (Pest Analysis – PRA). Sampai saat ini, informasi mengenai OPT pada tanaman Leather Leaf masih terbatas. Hasil Surveilans yang dilakukan oleh Direktorat Perlindungan Hortikultura pada Tahun 2010 di Provinsi Jawa Tengah mendapatkan beberapa jenis OPT, yaitu Hama (Heliothrips haemorrhoidalis Bouche; Wereng Flatidae; Belalang Pedang / Ducetia thymifolia Fabr.; Siput Setengah Telanjang Parmarion sp; Ulat Kantung / Dappula tertia Tempelon dan Penyakit (Bercak Daun Cylindrocladium quinqueseptatum Boedijn & Reitsma; Antraknosa / Colletotrichum acutatum; Layu / Verticillium sp dan Penyakit Fisiologis / Nekrosis yang diakibatkan kekurangan unsur hara Kalium.

Penyakit yang disebabkan oleh cendawan patogen menjadi salah satu kendala budi daya Leatherleaf. Penyakit patogenik yang menjadi permasalahan petani di beberapa sentra budidaya leather leaf adalah penyakit Bercak Daun yang disebabkan oleh Cylindrocladium quinqueseptatum (Boedijn dan Reitsma) = sinonim (Calonectria quinqeseptata (Figueiredo dan Namecata). Gejala serangan Cylindrocladium sp. ditandai dengan bercak kuning muda hingga cokelat pada daun. Gejalanya mirip dengan gejala kekurangan unsur hara. Bercak kian lama kian bertambah banyak dan membesar, hingga akhirnya memenuhi permukaan daun.Pada serangan berat terdapat bercak – bercak tidak teratur berwarna kelabu sampai cokelat.  Seiring dengan berjalannya waktu, warna kuning pada daun berubah menjadi coklat kemerahan hingga coklat gelap. Pada keadaan lembab, bercak berwarna hitam. Serangan yang lebih berat dapat menimbulkan hawar daun. Akhirnya daun layu kemudian mengering dan mati.

Selain menyerang daun, Cylindrocladium juga menginfeksi batang dan rhizoma. Bagian dalam batang tanaman yang terinfeksi berwarna coklat. Gejala infeksi pada rhizoma agak sulit dikenali, tetapi umumnya akar warnanya lebih gelap daripada akar yang sehat, dan jika ditarik, tanaman mudah terpisah dari rumpunnya. Gejala penyakit yang tampak pada daun bisa berbeda pada jenis leather leaf atau daerah yang berbeda. Leather leaf yang terserang Cylindrocladium sp. di daerah Sukabumi menunjukkan gejala yang agak berbeda dengan yang di Magelang. Permukaan daun tampak dipenuhi bercak coklat tua dan gejala penyakit muncul ketika tanamantelah dipanen dan berada di tempat penyimpanan.
Klasifikasi dari jamur patogen Cylindrocladium sp. :
Domain       : Eukaryota
Kingdom     : Fungi
Phylum       : Ascomycota
Class           : Hypocreomycetidae
Order          : Hypocreales
Family         :  Nectriaceae
Genus         : Nectriaceae
Species       : Cylindrocladium  quinqueseptatum

Penyebaran

Konidia Cylindrocladium berukuran sangat kecil dan diproduksi dalam jumlah besar pada permukaan daun dan batang yang terserang patogen. Percikan air hujan atau air siraman, hembusan angin, serangga, siput, dan manusia dapat menyebarkan konidia patogen ke seluruh areal tanaman. Penyebaran penyakit yang utama biasanya terjadi pada saat pemindahan tanaman sakit dari satu lokasi ke lokasi lain. Cylindrocladium dapat bertahan pada rhizoma dan jaringan mati. Pada saat lingkungan tidak memungkinkan untuk hidup, patogen mempertahankan dirinya dengan membentuk sklerotia, yaitu kumpulan hifa dengan dinding sel yang tebal berbentuk bulatan kecil. Biasanya sklerotia berwarna coklat muda dan mudah dikenali karena dapat dilihat dengan mata telanjang.

Ketika kondisi lingkungan mendukung kebutuhan hidupnya, sklerotia akan berkecambah dan kembali memulai siklus hidupnya. Oleh karena itu, Cylindrocladium dapat bertahan di dalam tanah tanpa tanaman inang dalam waktu yang lama. Jamur dapat bertahan pada sisa – sisa tanaman yang sakit dan tanaman inang lain dari jenis paku – pakuan, jambu mete, karet, gulma babadotan (Ageratum conyzoides) dan tanaman cengkeh. Oleh karena itu, diusahakan untuk tidak menanam tanaman yang dapat menjadi inang alternatif tersebut di area usaha tani leather leaf. Faktor yang memengaruhi dan memperberat perkembangan penyakit diantaranya kelembaban relatif, jarak tanam yang rapat, curah hujan dan pemupukan nitrogen yang tinggi.

Pengendalian

Kelembapan yang tinggi di daerah tropis sangat baik bagi pertumbuhan tanaman paku-pakuan, tetapi kondisi seperti itu ditambah dengan cahaya yang sedikit akan menghasilkan tanaman yang lemah dengan daun yang tebal. Daun yang demikian sangat mudah terinfeksi patogen dan penyakit akan berkembang dengan cepat. Pengendalian penyakit bercak daun yang disebabkan oleh Cylindrocladium dapat dilakukan dengan cara kultur teknis, aplikasi fungisida kimia dan hayati.

Pengendalian secara kultur teknis meliputi pengaturan jarak tanam, sanitasi, serta waktu dan cara penyiraman. Jarak tanam yang terlalu rapat dan kelembapan yang tinggi sangat mempermudah penularan penyakit bercak daun leather leaf Penanaman dengan jarak tanam yang agak jarang dapat mengurangi kelembapan dan menurunkan intensitas penyakit. Sanitasi seperti membuang dan membakar daun sakit, daun tua, daun yang jatuh, rhizoma dan akar yang terserang penyakit, serta rumput atau tanaman lain di sekeliling kebun sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit. Lakukan penyiraman pada pagi hari agar daun telah kering pada malam hari. Siram tanaman pada media tanam, sedapat mungkin hindari membasahi daun. Lokasi yang dipilih untuk melakukan kegiatan usaha tani leather leaf diusahakan bukan merupakan lokasi tanaman inang yang dapat menjadi sumber inokulum cendawan Cylindrocladium. Pengendalian mekanis dilakukan dengan memotong dan memusnahkan spot serangan bercak daun cylindrocladium, pemusnahan dengan dibakar sehingga tidak menjadi sumber infeksi yang dapat menyebar ke tanaman lain. Potongan dan serasah sisa tanaman yang tidak digunakan dapat dipakai sebagai bahan kompos.

Pengendalian lain dapat dilakukan dengan aplikasi fungisida biologi. Beberapa hasil penelitian menunjukkan, penambahan cendawan antagonis (cendawan yang dapat menghambat pertumbuhan cendawan patogen) seperti Gliocladium sp. dan Trichoderma sp. ke dalam tanah akan membantu mengurangi jumlah patogen di dalam tanah dan menginduksi ketahanan tanaman terhadap penyakit. Kedua cendawan antagonis tersebut juga dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil. Hasil penelitian Balai Penelitian Tanaman Hias menunjukkan bahwa pemberian kompos yang mengandung Gliocladium (Gliocompost) meningkatkan kualitas dan kuantitas bunga pada tanaman hias. Bunga menjadi lebih banyak dengan warna daun lebih gelap dan berkilat.

Fungisida kimia yang bersifat kontak dengan bahan aktif mankozeb dapat mengendalikan penyakit bercak daun yang disebabkan oleh Cylindrocladium. Namun, sebaiknya penggunaan fungisida kimia menjadi pilihan terakhir. Jika terpaksa digunakan, hendaknya dipilih fungisida yang tepat dengan dosis dan waktu yang sesuai dengan anjuran yang terdapat pada label. Tanaman leather leaf bersifat peka terhadap fungisida berbahan aktif benomyl, sebaiknya tidak digunakan fungisida jenis ini.
Daftar Pustaka :
  1. Aryana Citra Kusumasari, Suprapto, Bambang Prayudi, Petunjuk Teknis Budidaya Leather Leaf. Kegiatan Pendampingan Kawasan Hortikultura, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian - BPTP) Jawa Tengah.
  2. Standar Operasional Prosedur Budidaya Leather Leaf. Direktorat Budidaya Tanaman Hias. Direktorat Jenderal Hortikultura. 2009.
  3. Penyakit Bercak Daun pada Leather Leaf. Evi Silvia Yusuf. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Balai Penelitian Tanaman Hias. Cianjur.
  4. Pedoman Pengenalan dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada Tanaman Leather Leaf. 2010. Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura. Direktorat Jenderal Horitkultura. Jakarta.
  5. Petunjuk Lapangan SL GAP/SOP. Leather Leaf. Direktorat Budidaya Tanaman Hias. Direktorat Jenderal Hortikultura. 2009.
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Thursday, 21 July 2016 02:48 )
 
DIREKTORAT PERLINDUNGAN HORTIKULTURA
Jalan Aup Nomor 3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520 - Telepon (021) 7819117, Faximile (021) 78845628
Website : http://ditlin.hortikultura.deptan.go.id - E-mail: ditlinhort@deptan.go.id
Copyright © 2013 Direktorat Perlindungan Hortikultura Design by SadCom Multimedia ndik63@yahoo.com